Tintahijau.com | Portal Berita Subang

Rabu, 22 Mei 2013
Follow us on:
Previous Selanjutnya
Kini, Warung Angkringan Marak di Subang Kota Kini, Warung Angkringan Marak di Subang Kota TINJAU SUBANG- Dalam kurun waktu setahun terakhir ini, perla...
Diusung 12 Parpol, Makmur Sutisna Maju dari Partai Diusung 12 Parpol, Makmur Sutisna Maju dari Partai TINJAU SUBANG- Setelah gagal dari perseorangan, mantan Kepal...
Curi 20 Kambing, Pemiliknya Dibalok Hingga Tewas Curi 20 Kambing, Pemiliknya Dibalok Hingga Tewas TINJAU PUSAKAJAYA- Gara-gara butuh dana untuk ongkos ke Pal...
Polisi dan Komunitas Motor Sepakat Berantas Geng Motor Polisi dan Komunitas Motor Sepakat Berantas Geng Motor TINJAU SUBANG- Polisi dan Komunitas Motor sepakat memberanta...
Pria Berjenggot ini Tewas di Pinggir Jalan Dawuan Pria Berjenggot ini Tewas di Pinggir Jalan Dawuan TINJAU SUBANG- Sesosok mayat dengan jenggot lebat ditemukan ...
Pemuda Muslimin Subang Kisruh Soal Cabup Pemuda Muslimin Subang Kisruh Soal Cabup TINJAU SUBANG- Internal Ormas Pemuda Muslimin Subang dilanda...

Sejumlah Warga Subang Minta Legalisasi Prostitusi

TINJAU Subang- Sejumlah warga Subang, Jawa Barat, Rabu 18 Juli 2012 menemui wakil rakyat mereka di gedung DPRD Subang untuk meminta legalisasi prostitusi. “DPRD harus membuat peraturan daerah soal ini,” kata Jaka Septia, Koordinator Gerakan Masyarakat Subang yang memimpin demonstrasi hari ini.

Menurut Jaka, meski selama ini dilarang, bisnis prostitusi tetap berkembang di masyarakat. Diam-diam para pekerja seks komersial beroperasi di wilayah-wilayah tertentu di kabupaten itu, terutama sepanjang jalan Pantura. “Justru karena dilarang dan tidak ada lokalisasi, penyebaran penyakit seksual seperti HIV/AIDS meluas,” kata Jaka.

Dia menunjuk data terbaru dimana ada 520 warga Subang positif HIV/AIDS.
Selain tidak terkontrol, Joko menuturkan, keberadaan pelacuran gelap justru jadi ajang pemasukan liar bagi aparatur penegak hukum. “Banyak petugas yang memeras mereka,” kata Jaka.

Untuk itu, Jaka meminta pemerintah daerah dan DPRD melegalisasi prostitusi. Dia mengusulkan lokalisasi dipusatkan di pesisir Pantura, tepatnya di Legon Kulon. “Di sana terpencil, jauh dari masyarakat umum,” katanya. Selain itu, pajak dan retribusi dari lokalisasi ini pun bisa masuk ke kas daerah dan tidak jadi ajang pungli. [eramuslim.com]

 

Tambahkan Komentar

Kode Keamanan
Perbarui