FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Meski Dilarang, Sekolah di Subang Jual LKS

Yati mengatakan LKS tersebut dibeli langsung dari sekolah tanpa melalui perantara. Bahkan, kata Yati, setiap tahun kenaikan kelas, pembelian LKS tersebut masih terjadi. "Belinya langsung dari guru, dijual di kelas. Kedua anak saya sekolah di sana dan sama-sama beli LKS," ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Sudarta (35) warga Desa Pasir Kareumbi Kecamatan Subang. Ia mengatakan, LKS tersebut dijual langsung oleh guru di sekolah. "Harganya antara Rp7500 hingga Rp12.500, itu dibeli anak saya saat ini yang masih duduk di kelas 2 SD," ujar Sudarta.

Buku LKS yang dibeli, kata Sudarta, tergantung mata pelajaran karena setiap mata pelajaran memiliki LKS tersendiri. "Saya kurang tahu nilainya berapa. Tapi sekali beli LKS tidak hanya satu mata pelajaran. Beberapa mata pelajaran juga menggunakan LKS yang dibeli dari guru," ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Subang Kusdinar mengatakan penjualan LKS oleh guru-guru di sekolah, Namun Kusdinar mengatakan LKS dibutuhkan untuk media pembelajaran.

"LKS itu idealnya bentuk kreatifitas guru sebagai alat media pembelajaran guru untuk siswa. Bentuknya bisa dibikin sendiri atau dilakukan secara manual, bukan mengadakan LKS kemudian dijual ke siswa," kata Kusdinar.

Menurut Kusdinar, pemungutan uang dalam bentuk apapun termasuk orang tua membeli LKS dan sejenisnya di sekolah, tidak dibenarkan. "Tentu ada sanksi bagi guru penjual LKS, terutama LKS yang tidak dibuat oleh guru karena sebagai media pembelajaran, idealnya dibuat oleh guru untuk meningkatkan kreativitias dalam mengajar," katanya.

Kusdinar juga mengatakan selain soal LKS, ia juga mengharapkan peran serta orang tua siswa untuk mengawasi penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang setiap tiga bulan dalam setahun dicairkan ke rekening sekolah.

"Termasuk untuk buku paket, jika ada orang tua yang diharuskan membeli buku paket, itu juga kesalahan karena buku paket sudah dibiayai dana BOS dan bukunya untuk para siswa. Jika ada yang merasa diminta beli buku paket, laporkan pada kami," ujar Kusdinar. [m nugraha l @LangitMegaBiru]