Menengok Benteng Pancasila Subang, Kini dan Dulu



Aksi vandalisme, hilangnya sikap gotong royong dan prilaku yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, dikhawatirkan menjadi cermin atau bukti jiwa Pancasila-isme sudah mulai hilang di diri rakyat hingga ke pejabat.

Soal vandalisme atau aksi corat-coret dinding tugu Benteng Pancasila, Bupati Subang, Ojang Sohandi mengklaim pihaknya sudah melakukan upaya-upaya massif untuk bebasnya tugu itu dari tangan jahil. Hanya saja, untuk terpeliharanya dari tangan-tangan iseng, dibutuhkan jiwa korsa yang terkandung dalam Pancasila.

"Ya kita juga tetap memeliharanya dan sudah diperintahkan kepada Satpol PP untuk mencegah tangan-tangan jahil melakukan aksi vandalisme, tidak hanya di bangunan milik pemerintah tetapi juga tempat lainnya," kata Ojang.

Lebih jauh, Ketua Government Wacht Kab. Subang, Eddi Sableng menegaskan, minimnya pemahaman yang kurang atas pemaknaan Pancasilan dan sejarah keberadaan tugu benteng pancasila, tidak saja berdampak pada aksi vandalisme, namun, makna Pancasila sepertinya tidak menjadi jiwa pejabat publik.

"Kalau jiwa yang tersirat dalam Pancasila hilang, berimbas pada sirnanya rasa gotong royong yang merupakan budaya asli bangsa Indonesia, maraknya korupsi, dan lahirnya kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap rakyat," katanya.

Tidak itu saja, Eddy Sableng menegaskan, buruknya sistem pendidikan di Indonesia yang telah menghilangkan pentingnya pendidikan Pancasila dalam dunia pendidikan sebagai bagian bukti dari hilangnya nilai-nilai Pancasila kekinian.

Munculnya vandalisme, yang menjadikan Tugu Benteng Pancasila sebagai sasaran, jelas Eddy, dikhawatirkan menjadi cermin semangat dan jiwa nasionalisme para penerus generasi bangsa mulai pudar.

"Tentu saja dalam momen yang setiap tahun diperingati, termasuk kesaktiannya, harus ada teladan dari pejabat, pendidik, dan lingkungan keluarga. Jangan hanya formalitas dan semboyan belaka, termasuk karuhun Subang, ikut menata lingkungan alun-alun di depan perkantoran bupati dan DPRD, itu bukan sekedar pelengkap," tandasnya.

Menengok cerita Tugu Benteng Pancasila di era dulu, Bupati Ojang Sohandi menceritakan tugu dengan burung Garuda itu, sejak 65 tahun silam dinamai Benteng Pancasila. "Sebab Subang yang dulunya daerah jajahan kolonial merupakan perkebunan karet, teh serta tebu. Dan lahan yang dijadikan alun-alun ini bekas lapangan golf," jelasnya.

Pascapemberontakan ekstrem kanan dan kiri, para tokoh dan penguasa Subang berhasil menumpasnya. Hal itu menjad sejarah tersendiri hingga dijadikan lambang daerah Kabupaten Subang. Ada juga lambang benteng berkepala lima serta benteng berbata empat dan lima di bawah pohon beringin. Ini menggambarkan Pancasila sebagai landasan idiil dan UUD 1945 yang berkaitan dengan makna pembangunan material dan spiritual.

Pada lambang tersebut tertulis "Benteng Pancasila" dan "Karya Utama Satya Negara". Artinya warga Kabupaten Subang diharapkan senantiasa membentengi Pancasila sebagai landasan negara dari pihak-pihak yang akan menyelewengkannya.


Twitter Update

Pasar Ditutup Selama 14 Hari Setelah Pedagangnya Positif Covid-19 https://t.co/Zlic9YtmV8
Hikvision Thermal, Pemindai Suhu Tubuh untuk Cegah Corona di Tempat Umum https://t.co/SZM9WFts5m
Dampak Corona, Penerimaan Pajak di Subang Babak Belur https://t.co/Ky3UvH5r7q
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter