FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

PLTMH, Bhakti Universitas Subang Untuk Cisalak



Namun masa kegelapan itu berangsur membaik setelah ada beberapa mahasiswa salah satu universitas asal kota Bandung yang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL), sekitar 6 tahun lalu.

"Saya masih ingat beberapa tahun lalu ada sekelompok mahasiswa PKL di kampung ini dan sebagai hadiah untuk warga mereka membuatkan kami Pembangkit Listrik sederhana," kata salah seorang masyarakat yang di Tokohkan di Kampung Bunikasih, Komar kepada TINTAHIJAU.com.

Komar melanjutkan, tidak banyak orang tahu bahwa di kampung Bunikasih itu sejak 6 tahun silam sudah mempunyai pembangkit listrik sederhana yang hanya memanpaatkan turbin yang terbuat dari kayu dan dinamo saja. "Kalau ingin liat turbin bekas itu silakan saja kebawah bukit, jaraknya sekitar 1,5 Km, sekarang kondisi turbin itu tidak terawat karena sudah lama tidak pernah digunakan," katanya.

Warga hanya menggunakan pembangkit tenaga listrik buatan mahasiswa yang pernah PKL di sana hanya beberapa saat. Karena voltasenya yang kecil masyarakat di kampung tersebut tidak serta merta menggunakan pembangkit listrik tersebut alasannya karena keterbatasan voltase yang harus dibagi ke sekitar 36 rumah di kampung tersebut.

"Apalagi kalau musim kemarau datang, pembangkit listrik sedrhana itu tidak bisa digunakan, karena aliran air harus besar. Hanya lampu tempel minyak tanah yang menjadi penerangan sementara jika kemarau tiba." ujarnya.

Warga juga beralasan jika menggunakan pembangkit listrik sederhana buatan mahasiswa asal Bandung tersebut harus memerlukan biaya banyak, karena turbin yang terbuat dari kayu gampang lapuk apalagi dinamo harus diganti setiap bulannya. "Kalau menggunakan pembangkit listrik dulu itu biaya oprasionalnya mahal namun hasilnya tidak maksimal," tuturnya.

Menurut Komar masyarakat di Kampung tersebut sudah hampir putus asa. Karena semua usaha yang dilakukan untuk membuat kampung Bunikasih terang selalu gagal. Padahal kampung yang terlisolasi dan paling terpencil di Kabupaten Subang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung Barat (KBB) tersebut sangat memerlukan listrik untuk penerangan. "Dari mulai Indonesia belum merdeka kampung ini tidak pernah teraliri listrik, memang beberapa tahun lalu sempat ada tapi nggak lama kemudian gelap lagi," imbuhnya.

Tidak terasa 6 tahun berlalu setelah mahasiswa asal Bandung membuat pembangkit listrik sederhana, kini masyarakat sudah bisa menikmati listrik kembali. Beberapa bulan yang lalu Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) selesai dikerjakan dan sekarang warga kampung Bunikasih sudah bisa menikmati listrik lagi.

"Alhamdulillah pada bulan Agustus lalu kampung ini terang kembali, ini berkat dosen Universitas Subang. Namanya pak Novandri. Dia dan mahasiswanya berhasil membuat PLTMH di kampung ini," katanya.

PLTMH yang memanpaatkan aliran sungai Cipularang serta mata air Cisalada yang berada dekat dengan kampung tersebut. Air tersebut bisa menggerakan turbin yang dipasang disekitar mata air. "Kata pak Novandri, PLTMH bisa terus berjalan walaupun musim kemarau, sekarang kampung ini terang kembali," katanya.

Hujan mulai reda, setelah meminta izin kepada pak Komar TINTAHIJAU.com langsung menuju ke lokasi PLTMH yang jaraknya hanya 1,5 Km dari kediamannya. Dengan kemiringan bukit yang mencapai 70 drajat ditambah jalan menuju kelokasi licin karena bekas hujan membuat perjalan menuju lokasi PLTMH sangat berbahaya. "Hatai-hati saja jalannya, PLTMH itu letaknya lumayan jauh ada dibawah bukit," katanya.

Dari pantauan memang kondisi PLTMH sudah selesai dikerjalan, kolam penampung air yang menjadi kolam tampung semntara sebelum air meluncur ke turbin melalui pipa yang terbuat dari besi kondisinya masih terlihat baru. Setelah melewati kolam penampungan sekitar 200 meter kebawah ada sebuah bangunan dan disitulah letak turbin disimpan. Listrik yang dihasilkan bisa mencapai 3.000 watt untuk menerangi 36 rumah.

Perjalanan yang memakan waktu hampir 4 jam dari pusat kota Subang dan harus melewati 17 Km di dalam hutan lindung yang kondisi jalannya rusak parah. Sebelum tiba di kampung Bunikasih, terlebih dulu akan ditemui kampung Bukanagara dan dari Bukanagara ke Bunikasih itu berjarak 10 Km, sepenjang jalan menuju kampung tersebut adalah hamparan kebun teh.

Ketua RT setempat Sukanda megatakan sangat berterimakasih kepada seluruh tim proyek PLTMH yang berasal dari Universitas Subang karena telah berhasil membuat PLTMH di kampungnya. Untuk merawat PLTMH tersebut warga telah membuat kepengurusan. Untuk setiap warga harus membayar iuran sebesar Rp 5.000 perbulan untuk biaya perawatam. "Untuk merawat PLTMH tersebut kita iuran, dan kepengurusan sudah kita buat, untuk menjaga PLTMH warga bergantian," tuturnya. [Warlan putra | @warlanPutra]


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

4 ASN Positif Covid-19, Bupati dan Ratusan Pejabat Subang Kembali Dites Swab https://t.co/YSqEKEdaRw
4 ASN Positif Covid-19, Bupati dan Ratusan Pejabat Subang Kembali Dites Swab https://t.co/YSqEKEdaRw
Bedah Rumah, Golkar Subang: Kami Beri Bukti Bukan Obrol Janji https://t.co/XryO13kTtJ
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter