"Ini dipengaruhi oleh peningkatan indeks kesehatan yang dilihat dari angka harapan hidup (AHH), indeks pendidikan berdasarkan angka melek hurup (amh), rata-rata sekolah (RTS) dan indeks daya beli masyarakat," papar Ojang kepada TINITAHIJAU.com.
Ojang merinci, pada tahun ini AHH dari 73.98% menjadi 74.03%, indeks pendidikan dari 77,01% menjadi 77,54%, dan indeks daya beli dari 62,42% menjadi 62.69%.
"Untuk tahun ini, pokonya harus ada kenaikan dari tahun 2011, karena untuk meningkatkan 0, (nol koma) saja bukan perkara yang mudah," imbuhnya.
Sejumlah upaya yang sudah dan sedang diupayakan dengan melibatkan seluruh instansi pemerintahan. Sementara dari jalur kebijakan, Pemerintah menerbitkan peraturan daerah (perda), seperti Perda ppenanggulangan kemiskinan dan pendidikan.
Sementara itu sekretaris Komisi D DPRD Hendra Purnawan menyatakan, untuk menaikan angka indeks pendidikan di Subang salah satunya diperkuat konsep pembelajaran di pendidikan formal.
Sejauh ini, Hendra memandang, standar keberhasilan pendidikan di Kabupaten Subang masih berkutat pada nilai. Seharusnya, penguatan pemahaman siswa yang menjadi prioritas pendidikan.
"Korelasinya, jika siswa atau mahasiswa ditekankan pada pemahaman dan pembentukan karaketer, maka saat dia berada di luar sekolah sensistifitas mereka akan terasah, dengan menularkan ilmu yang diperoleh di sekolah," terangnya.
Selain soal pendidikan, masalah infrastruktur jalan raya yang menjadi denyut nadi ekonomi masyarakat juga harus menjadi prioritas pemerintah. Apalagi, dari hasil kunjungannya ke daerah-daerah, mayoritas asipirasi masyarakat adalah soal kerusakan jalan.
"Tidak hanya akan menghambat sektor ekonomi, pendidikan dan kesehatan akan terganggu jika kondisi jalan rusak. beberapa bulan lalu, siswa memilih libur dan blokir jalan, karena kondisinya rusak parah," imbuhnya





