TINJAU BLANAKAN- 2 kelas bangunan SDN Sari Asih Desa Cilamaya Girang, Kecamatan Blanakan ambruk setelah 3 tahun proses pembangunan kelas itu terabaikan. Informasi yang dihimpun, robohnya 2 terjadi pada pagi dinihari kemarin.
Ruang kelas yang dalam proses pembangunan sejak 3 tahun silam itu ambruk diduga karena menurunnya kualitas kayu atap dan fisik bangunan.
Indikasinya, sejak awal proses pembangunan yang bersumber dari anggaran APBD Provinsi Jawa Barat melalui program Role Sharing tahun 2007 itu ke 2 ruangan itu belum beratap alias tanpa genting.
"Dua ruang kelas itu tidak terpasang genteng, jadi kena panas dan ujan. Lama kelamaan lapuk, dan ambruk karena tidak kualitasnya semakin menurun," kata Masturo, Jumat (2/12/2011).
Senada diungkapkan seorang guru setempat, Adik Darmawan. Adik memprediksi, ambruknya bangunan itu kemungkinan besar karena kayu bangunan bagian atap. Menurut Adik, akibat ambruknya bangunan kelas itu tidak berdampak kepada kegiatan belajar mengajar. Pasalnya, 2 bangunan yang roboh itu tidak digunakan untuk kegiatan belajar.
Hanya saja, harapan memiliki bangunan kelas baru pupus hingga pemerintah kembali mengalokasikan anggaran. "Semoga saja pemerintah bisa menurunkan anggaran untuk memperbaikinya,” ujarnya.
Kepala Bidang TK-SD Dinas Pendidikan Subang Mas Indra Subhan belum berhasil dimintai keterangan. Saat dihubungi melalui selularnya, ia enggan menjawab panggilan masuk.
Kejadian itu menambah daftar panjang cerita robohnya bangunan ruang belajar SDN di Kabupaten Subang. Sebelumnya sebuah ruang kelas SDN Mayangan, Kecamatan Legonkulon roboh dihantam angin. Kejadian itu hanya selang 2 bulan setelah ruang kelas SDN Sukamulya, Desa Rancajaya, Kecamatan Patokbeusi ambruk saat memasuki proses finishing pembangunan.













