"Sekitar seratusan SD yang menggelar kegiatan belajar secara bergantian dan atau memanfaatkan satu ruang untuk digunakan untuk dua kelas," ujar Kepala Bidang TK&SD Dinas Pendidikan Subang Mas Indra Subhan kepada TINTAHIJAU.COM, Selasa (13/9/2011).
Tentu saja kondisi itu menggangu proses transformasi ilmu dari guru ke siswanya karena kegaduhan. "Karena proses belajar dilakukan dengan memanfaatkan satu ruangan untuk dua kelas ya tentu saja tidak maksimal. Suara guru yang menerangkan dari samping bisa masuk ke kelas lainnya," imbuhnya.
Kondisi itu, menurut Indra, karena faktor fasilitas ruang sekolah minim yang diakibatkan infrastruktur bangunan sekolah rusak berat. Dari sebanyak 822 Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang ada, tidak kurang dari 230 SD di Kabupaten Subang kondisinya memprihatinkan alias rusak dalam berbagai tingkatan.
Indra berharap pada 2012 mendatang ada perbaikan atau rehab dan pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) dengan skala prioritas atau tingkat emergency. Saat ini pihaknya berupaya untuk mengusulkan anggaran pembangunan baik dari APBD, APBN maupun bantuan provinsi Jabar.













