Tintahijau.com | Portal Berita Subang

Sabtu, 18 Mei 2013
Follow us on:
Previous Selanjutnya
Rumah Warga Cibogo Ambruk Dihantam Puting Beliung Rumah Warga Cibogo Ambruk Dihantam Puting Beliung TINJAU CIBOGO- Rumah warga milik Carwan warga RT 9/4 Desa Pa...
Inilah PR Berat Bupati Subang Terpilih Inilah PR Berat Bupati Subang Terpilih TINJAU SUBANG- Sejumlah nama yang bakal manggung pada Pemili...
4 Paslon Perseorangan Gagal Ikut Pilkada Subang 4 Paslon Perseorangan Gagal Ikut Pilkada Subang TINJAU SUBANG- Sebanyak 4 dari 6 pasangan calon (paslon) Bup...
Atin Blak-blakan Soal Pencalonan Bupati Subang Atin Blak-blakan Soal Pencalonan Bupati Subang TINJAU SUBANG- Calon Bupati Subang dari jalur independen Ati...
Sindiran Akronim Paslon Bupati Subang Perseorangan Sindiran Akronim Paslon Bupati Subang Perseorangan TINJAU SUBANG- Hingga pukul 23.59 WIB, Kamis (16/5/2013), KP...
Hutan Kota Subang akan Dilengkapi Flying Fox Hutan Kota Subang akan Dilengkapi Flying Fox TINJAU SUBANG- Pemanfaatan hutan kota Ranggawulung akan dima...

Kemiskinan di Daerah Lumbung Padi Nasional

Suasana Kampung Batununggal, Desa Balingbing, Kecamatan Pagadenbarat, Kabupaten Subang, menjelang sore itu terasa damai. Semilir angin yang berembus pelan-pelan dari arah utara terasa kian menyegarkan.

Meski sudah hampir Ashar, H. Casli (60) belum juga beranjak pulang. Warga Kampung Batununggal, Desa Balingbing itu masih membersihkan rumput dan tanaman liar di pinggir sawah seluas 300 bata (4.200 meter persegi) miliknya.


“Ari padamelan tani mah atos beres dugi ka bedug (pekerjaan bertani sih sudah beres sampai waktu Zuhur-red),” kata Casli.

Setiap hari, kakek lima cucu itu melakukan aktivitas pertaniannya. Dari mulai menyemai, menanam, menyiangi, mengolah, memupuk, hingga memanen hasinya. Selain 300 bata di Kampung Batununggal, dia juga memiliki sawah lain seluas 1.000 bata (14 hektare), tak jauh dari lokasi tersebut.

Casli beruntung karena memiliki sawah yang luas. Setiap panen, tak kurang dari 5 ton padi yang dihasilkan. Hasil produksi dari lahan pertaniannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Saat ini dua anaknya yang sudah berkeluarga juga memiliki lahan pertanian yang menjadi ladang penghasilan mereka.

Pertanian memang merupakan mata pencaharian utama masyarakat di Kabupaten Subang. Data Dinas Pertanian Kabupaten Subang menunjukkan, daerah utara Jawa Barat ini merupakan kabupaten yang memiliki areal lahan sawah terluas ketiga di Jawa Barat setelah Indramayu dan Karawang. Luas Lahan sawah pada 2010 tercatat 84.929 hektare dengan produksi padi sebanyak 959.533 ton.

Sementara pada 2011, produksi  pertanian di Subang meningkat pesat. Produksi  gabah kering giling (GKG) mencapai 1.172.558 ton melebihi target pada tahun tersebut, yakni sebanyak sebanyak 1.031.640 ton GKG. Tak heran, kondisi itu membuat Subang menjadi penyumbang produksi padi terbesar ketiga di Jawa Barat dan menjadikannya lumbung padi nasional.

Meski demikian, melimpahnya produksi pertanian daerah ternyata tidak serta merta membuat masyarakat daerah itu menikmati hasilnya. Dari produksi sebanyak 5 ton setiap panen, Casli hanya menikmati sisanya, karena semua produksi padi berkualitas baik dijualnya dengan harga pasaran Rp 430.000 per kwintal. 

“Hasil produksi pertanian di sini memang biasa dijual oleh para bandar beras ke kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Sementara di Subang sendiri, kami hanya menikmati sisanya. Bagi warga sini, itu memang sudah cukup,” ujar Casli.

Tak heran, jika kondisi tersebut membuat jatah penerima raskin di daerah ini meningkat. Data Bagian Perlindungan Sosial Pemkab Subang menunjukkan, jumlah penerima raskin di Subang tahun ini mencapai149.900 RTS, meningkat dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya 139.897 RTS.

Meski secara umum meningkat, kuota raskin di beberapa desa banyak yang berkurang. Alasannya, warga yang kini tidak lagi menerima raskin telah dianggap meningkat status sosialnya.

Namun, tetap saja kondisi itu menimbulkan kontroversi di sejumlah desa. Pasalnya, sejumlah kepala desa menilai, sejumlah warganya yang kini tidak lagi menerima jatah raskin kondisi kehidupan sosialnya tidak berubah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Mereka pun meragukan keakuratan data penerima raskin yang mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Subang. “Apa betul data yang diserahkan oleh pegawai di desa kami sama seperti data yang dimiliki BPS?” kata Atifah Nurlaela, Kepala Desa Pangarengan, Kecamatan Legonkulon, Subang.

Plt. Bupati Subang, Ojang Sohandi menyadari kondisi tersebut. Dia bahkan mempertanyakan data akurat mengenai jumlah warga miskin di daerah berpenduduk 1,6 juta jiwa yang kini dipimpinnya.

“Jumlah warga miskin di Subang menurut Bappeda yaitu 32 persen, tetapi data Dinkes menunjukkan, penerima Jamkesmas mencapai hampir 50 persen. Data BPS lain lagi, jumlah warga miskin mencapai 60 persen. Jangan-jangan, jumlah warga miskin di Subang sampai 70 persen?” ucap Ojang beberapa waktu lalu.

Terlepas dari berapa jumlah pasti warga miskin di Subang, Ojang meminta agar seluruh masyarakat bekerja sama dengan pemerintah daerah bersama-sama mengentaskan kemiskinan. Gotong royong adalah sikap dan budaya yang diharapkan dapat dimiliki setiap warga Subang guna mencapai tujuan tersebut.

Harapan sejatinya tidak sekadar keinginan, tetapi juga harus diwujudkan dengan berbagai langkah strategis dari pemerintah daerah. Saat ini, potensi sumber daya alam Subang yang terdiri atas pegunungan, dataran, dan perairan laut itu menunggu untuk dioptimalkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan seluruh masyarakat. [photo by isanputra]

 

Tambahkan Komentar

Kode Keamanan
Perbarui

banner