Tragedi tenggelamnya kapal pesiar mewah Costa Concordia di Laut Mediterania di lepas pantai Italia memang sudah berlalu beberapa pekan. Namun tampaknya gambaran peristiwa naas tersebut masih terus menghantui para pelaku yang terlibat dalam peristiwa yang dianggap sebagai kejadian paling buruk dalam sejarah kecelakaan kapal pesiar di negeri pizza itu.
Salah satunya dialami oleh Wiwin Nurhasanah (28), warga Kampung Tutugan, Rt. 1/7, Desa Cihanjuang Rahayu, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Bagi Wiwin, seorang dari 4.400 orang yang berada di atas kapal naas tersebut, peristiwa karamnya kapal yang ditumpanginya itu merupakan pengalaman pertama dan tidak akan pernah ia lupakan, dari tiga tahun dirinya berkarir di bidang ini.
Bagaimana tidak, ia mesti berjuang untuk menyelematkan diri dengan kondisi kapal yang semua lampu penerangannya mati, kecuali emergency lamp di beberapa titik. Bahkan seperti peristiwa dalam 'Film Titanic' ia pun mengalami sendiri jika orang berusaha untuk saling bunuh/mencelakakan orang lain agar dirinya bisa selamat.
"Kejadian itu sekitar pukul 10 malam. Kapal miring, dan keadaan menjadi black out. Semua penumpang yang sedang makan dan kru mulai teriak-teriak menanyakan apa yang terjadi. Saya berusaha untuk tenang dan tidak panik sebelum mengetahui apa sebenarnya yang terjadi," tutur Wiwin.
Meskipun kondisinya antara hidup dan mati, namun perempuan yang menjabat sebagai asisten waitres restoran di kapal yang dikapteni oleh Francesco Schettino ini ia terus berjuang untuk tetap bertahan menyelamatkan diri.
Ia menegaskan, putranya, Surya Nugraha yang membuat dirinya berjuang keras untuk selamat dari peristiwa tersebut.
"Satu hal yang membuat saya tetap bertahan dan berenang untuk mencapai daratan. Yaitu saya teringat anak saya, Surya Nugraha. Kalau saya misalnya mati ia mau sama siapa. Itulah yang menguatkan saya untuk berjuang hidup," ucapnya.
Kendati begitu, Wiwin mengaku tidak kapok untuk bekerja di sebuah kapal pesiar. Pengalamannya menjelajah negara seperi Norwegia, Dubai, Egyp, dll, membuatnya merasa nyaman dengan pekerjaannya kendati beresiko.
Menurutnya ia akan mengambil liburan 5-6 bulan sebelum kembali bekerja sambil mengurus surat-surat dan kartu identitasnya yang hilang. Pasalnya, akibat karamnya kapal tempatnya mencari nafkah ini Wiwin harus kehilangan barang-barang berharganya termasuk kartu identitas dan dokumen pribadinya, yang jika dikalkulasikan mencapai kurang lebih Rp30 juta.
"Saya enggak kapok. Yang namanya maut bisa menjempu dimana saja, jadi kalaupun saya bekerja di kapal pesiar tapi karena belum waktunya mati akhirnya sayapun diberi jalan untuk selamat," pungkas Wiwin.













