TINJAU SUBANG- Apapun yang dikerjakan seseorang tentu saja berorientasi pada timbal balik atau upah. Namun berbeda bagi Omin (40) pria yang sehari-hari bekerja di Gedung Dakwah, Jl. Gofarana No. 13, Subang.
Omin, pria asal Kebumen, Jawa Tengah itu bekerja dengan tugas membersihkan dan mengurusi Gedung Dakwah sejak 2006 lalu. Sehari-hari ia membersihkan Gedung berlantai 2, dari mulai menyapu hingga mengepel lantai.
Itu di hari biasa. Berbeda ketika gedung itu disewa untuk menggelar acara. Ia kadang bekerja dari pagi hingga kembali. Dari merapikan tempat, sampai terlibat membenahi dan melengkapi fasilitas yang akan digunakan oleh panitia.
Kerja keras yang dijalani selama 6 tahun lalu itu tidak berimbas pada kehidupan Oming. Oming tetaplah Oming, yang hanya dimanfaatkan tenaga dan jasanya saja. Setelah itu ia terlupakan dan tetap kembali ke aktivitas rutinnya.
"Tidak ada upah, kalaupun ada yang ngasih itu cuma Rp10.000-Rp15.000. Sementara kalau makan, ada yang ngasih. Setiap hari sekali makan," kata Oming kepada TINITAHIJAU.COM baru-baru ini.
Sebenanrnya ada peluang Oming bisa mendapat masukan. Parkir kendaraan misalnya. Namun karena letak Gedung Dakwah berada satu area dengan Masjid Agung Al-Musabaqah, pengelolaan parkir di depan Gedung Dakwah dimonopoli oleh pihak DKM.
Untuk memenuhi kebutuhan hiupnya, terlebih pangan, selain dijatah sehari 1 kali, Oming harus gambling. Ia mengutang, dan bayar kalau ada yang memberi. "Kalau mau ngopi ya utang dulu di warung, nanati kalau ada rizki baru bayar," katanya.
Oming memulai bekerja pada 2006 lalu atas saran pengurus Yayasan Gedung Dakwah, sejak itu pula Omin tinggal di salah satu ruangan yang ada di gedung tersebut. Sebelum di Gedung Dakwah, semula ia dagang rokok gendong jika ada hiburan.
Ia sendiri masuk Subang pada 2005. Ia mengembara dari Jawa ke Subang karena dikecewakan istrinya yang diketahui selinngkuh. Tak tahan melihat prilakunya itu ia memutuskan untuk merantau.
Sejak menjadi tukang kebersihan di Gedung Dakwah, sejak itu pula ia menghabiskan waktunya untuk mengurus Gedung Dakwah. Meskipun tanpa upah jelas, namun Omin mencoba untuk menikmati sisa hidupnya sebatang kara.
"Mudah-mudahan Allah yang menggaji saya di akhirat nanti. Lagi pula, Allah yang punya segala-galanya, termasuk rizki saya," imbuhnya.
Dalam 3 bulan ini, beban Omin sedikit berkurang, ia hanya membersihkan lantai dasar saja. Sementara lantai 2, sejak November 2011 lalu, kondisi gedung Dakwah mulai rusak berat dan tidak digunakan lagi.













