FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Membaca Peta Suara Pilpres di Kabupaten Subang



Selain pasangan calon, tim sukses dari pusat hingga daerah ikut dibuat sibuka. Mereka membentuk tim pemenangan dan gerilya turun ke masyarakat mengenalkan dan menyampaikan missi-visi jagoannya.

Di Subang, tak tanggung-tanggung elit pejabat terlibat langsung dalam tim pemenangan. Pasangan Prabowo-Hatta misalnya, Wakil Bupati Imas Aryumningsih didaulat sebagai Ketua Timses. Sementara Jokowi-JK, menempatkan ketua Fraksi PDIP, Ating Rusnatim sebagai ketua koordinator pemenangan.

Tidak hanya Ating, Bupati Subang Ojang Sohandi menyatakan siap ambil cuti untuk memenangkan pasangan Jokowi-JK. Demikian juga Imas, ia akan all out mendukung pemenangan Prabowo-Hatta dan ambil cuti.

Masing timses dari dua kubu, memasang target perolehan suara minimal 60%. Target itu sah-sah saja. Namun jika dilihat dari perolehan suara
pada Pileg, lima partai koalisi pendukung Jokowi-JK, hanya mengoleksi total suara 373.819. Sementara tujuh partai koalisi pendukung pasangan
Prabowo-Hatta sebanyak 450.364 suara.

Jika melihatnya ke perolehan suara Pileg, maka di atas kertas Prabowo-Hatta unggul di Subang. Tapi Pilpres berbeda dengan Pileg. Perolehan suara pada Pileg diprediksi tidak berbanding lurus dengan Pilpres nanti. Potensi terjadinya perubahan perolehan suara terbuka lebar. Maklum saja, pemilih akan memberikan suaranya berdasarkan personalitas bukan partai politik.

Untuk level daerah, "perang" kampanye hitam tidak banyak memberi kontribusi dan mempengaruhi pilihan rakyat. Ini karena masyarakat
cenderung berfikir sederhana atas dua calon pemimpin. Masyarakat menyederhanakan kriteria calon pemimpin negeri pada tegas dan merakyat.

Kalaupun muncul pemberitaa negatif atas calon, mereka bukan lantas pindah pilihan, namun yang ada adalah mereka akan menilai "background politik" medianya. Sebaliknya, jika berita positif yang dimunculkan, maka akan menjadi pembenaran atas pilihannya.

Mau tidak mau, suka tidak suka, sejatinya rakyat sudah memiliki pilihan masing-masing. Pilihan mereka cenderung didasarkan atas keyakinan atau ideologi yang mereka tangkap dari sosok capres. Nama kandidat caprespun sejatinya sudah "terekam" di otak masyarakat. Hanya saja, mereka patut disapa dan dipertegas dengan kehadiran timses ke masyarakat.

Pilpres nanti, semua akan terjadi. Bukan sesuatu yang mustahil, jika salah satu kader partai yang berkoalisi lantas memilih di luar garis koalisi. Sekali lagi, mereka memilih atas dasar figur capres dan dan keyakinan atas kemampuan dan tipikal mereka: capres tegas atau capres merkayat. [red]

 


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Penggiat Budaya dan Pariwisata Bahas Kemajuan Destinasi dan Budaya Subang https://t.co/aa2WdpFwAr
Tekan Ledakan Penduduk, Pemkab Subang Kampanye Penggunaan Kontrasepsi https://t.co/uv3EwDLj53
Polres Subang Amankan 14 Orang dengan Barang Bukti 245 Gram Narkoba https://t.co/H2Pma6Ukrl
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page