FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Tapak Tilas Seni Sisingaan Sebagai Simbol Perlawanan Terhadap Penjajah

Hari Kemerdekaan ke 71 Bangsa Indonesia sudah di depan mata. Seluruh rakyat di seluruh Indonesia merayakan hari kemerdekaan dengan berbagai cara dan kreativitas mereka.

Di Subang, makna kemerdekaan Indonesia berkaitan erat dengan Seni Sisingaan, yang kini menjadi icon Kabupaten Subang. Maklum saja, di era penjajahan, Seni Sisingaan ini menjadi simbol perlawanan rakyat Subang terhadap penjajah Belanda. "Sisingaan itu simbol melawan dan mengusir penjajah. Singa itu hewan kuat, tapi karena gotong-royong dan saling membahu rakyat, yang kuat saja bisa dikalahkan, bahkan diduduki anak-anak," kata Saksi sejarah, Aming Tasmin (66) warga Panglejar 4 Kelurahan Karanganyar, Subang

Seorang Alumni Antropologi UNPAD menyebutkan, Kesenian sisingaan diciptakan sekitar tahun 1840 oleh para seniman yang berasal dari daerah Ciherang, yang berjarak sekitar 5 km dari pusat kota Subang. Seni sisingaan ini dapat dikategorikan sebagai sebuah perlawanan simbolik rakyat Subang terhadap penjajah. Singa, adalah simbol dari Negara Belanda dan Inggris, dua negara yang dipandang sebagai penjajah oleh rakyat Subang pada pertengahan abad 19.

Dalam pertunjukan sisingaan, ada dua boneka singa (simbol dari dua negara Eropa tersebut) yang ditunggangi dan dikendalikan oleh anak kecil (simbol rakyat Subang) yang berada di atasnya. Hal ini bermakna ejekan dan pelecehan terhadap lambang kebanggan kaum kolonialis tersebut. Demikianlah makna tersebut masih menjadi interpretasi simbol sisingaan di kalangan warga Subang hingga kini. Simbol boneka singa yang diduduki anak kecil dapat ditafsirkan sebagai cerminan budaya anti kolonialisme dalam masyarakat Subang.

Pada masa kini, seni pertunjukan sisingaan lebih diartikan sebagai bagian dari hiburan rakyat. Seni sisingaan umumnya dipentaskan dengan berkeliling kampung pada saat ada hajatan warga seperti acara khitanan, pelantikan pejabat desa, pernikahan dan lain sebagainya (Sariyun, 1992). Pertunjukan diawali dengan pemberian kata sambutan oleh pimpinan kelompok sisingaan. Setelah acara pemberian kata sambutan, barulah sang anak yang akan dikhitan, pengantin atau tokoh masyarakat yang akan diarak menaiki boneka singa. Kemudian, dengan diiringi oleh irama lagu-lagu dari kesenian Ketuk Tilu dan Doger, 8 orang pemain dari kelompok sisingaan akan mulai menggotong dua buah boneka singa yang telah dinaiki manusia tersebut.  Kesenian sisingaan pun dimulai dengan mengelilingi kampung atau desa, hingga akhirnya kembali lagi ke tempat semula. Pertunjukan berakhir dengan sampainya rombongan sisingaan di tempat ketika awal pertunjukan dimulai.

Di masa lalu, para pemain sisingaan umumnya adalah 8 orang laki-laki dewasa yang berperan sebagai penggotong boneka singa (1 boneka digotong oleh 4 orang), disertai seorang pemimpin kelompok, beberapa orang pemain waditra (peralatan musik tradisional), dan satu hingga dua orang jajangkungan (pemain yang menggunakan kayu sepanjang 3-4 meter ketika berjalan di tengah pertunjukan). Namun, sekarang telah banyak grup sisingaan yang terdiri dari para pemain perempuan, khususnya untuk posisi penggotong boneka singa.

Selain sebagai hiburan, kini sisingaan juga telah menjadi kesenian khas Kabupaten Subang yang memiliki daya tarik wisata bagi turis domestik maupun mancanegara. Pemerintah kabupaten Subang bahkan mengadakan festival Sisingaan secara rutin untuk memperingati hari jadi Kabupaten Subang (5 April) setiap tahun. Kesenian tersebut juga telah menjadi simbol dari Kabupaten Subang itu sendiri.

Sebagai budaya anti kolonialisme yang dikembangkan oleh rakyat Subang, sudah selayaknya seni sisingaan dapat disertakan dalam perjuangan melawan imperialisme modern atau neo-kolonialisme-imperialisme (nekolim) kini. Latar belakang kelahiran seni sisingaan sebagai reaksi atas dimulainya era liberalisme ekonomi di bumi nusantara tahun 1870, sangat relevan dengan situasi terkini bangsa Indonesia yang juga dikungkung oleh sistem neo-liberalisme dan berakibat tunduknya negeri ini pada dominasi kepentingan ekonomi-politik pihak asing (nekolim).

Simbolisasi pendudukan anak kecil terhadap boneka singa dapat merefleksikan perjuangan gerakan pembebasan nasional untuk mengalahkan kekuatan imperialis beserta kompradornya di dalam negeri. Kini saatnya kaum pergerakan (terutama yang bergerak di lapangan kebudayaan) untuk melakukan re-interpretasi pada seni sisingaan sebagai bagian dari ekspresi budaya anti imperialisme, bukan hanya hiburan atau komoditi pariwisata semata.


Follow twitter @tintahijaucom | FB: Berita Tintahijau


Banner Kanan 1
Banner Kanan 4
TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Milangkala ke-14, Viking Ganas Usung Seni Tradisional. Bupati Subang pun terharu dengan kontribusi Viking dalam me… https://t.co/OHZ24EUFap
Open Mic, Menertawakan Majalengka Bersama Wakil Bupati https://t.co/tiioexdY0s
Siaga Bencana, Polres Majalengka Dirikan Posko Tanggap Darurat https://t.co/jLs4gDoOZR
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page