Follow us:

Baru dua bulan Aku di sini. Bersama dengan ratusan “black Urband” dari bangsa tercinta. Mereka tinggal berdampingan dengan orang asli atau pribumi. Ironisnya, di saat berita di tivi gembar-gembor tentang penangkapan TKW gelap serta pemerintah ranah jiran yang begitu santer mengadakan operasi ke setiap tempat,

“Pak, malam ini bulan hanya separuh ya? Kerja Bapak jadi tak terbantu dengan cahaya bulan yang hanya separuh!” Anak lelaki, usia sembilan tahunan, duduk berongkang kaki di bangku reyot depan rumah gubuknya. Di tangannya ada sepotong roti, yang sudah kering basi. Tapi ia begitu lahap

Di sebuah sudut Jiran, ketika malam. Di keramaian jantung kota, dalam kelap-kelip cahaya lampu yang menerangi pusat perbelanjaan dan jajanan, shoping dan pusat refreshing, beberapa perempuan turun dari sebuah mobil, berbaju minim dan seksi.
Seorang lelaki berbody atletis membuntutinya, masuk ke sebuah pub. Di Pub-Pub

Sudah dua hari Bah Sarja mondar-mandir ke kantor desa. Dengan pakaian kebangsaan yang lekat dengan mitos dirinya. Celana dan baju komprang hitam, mengenakan iket sunda. Bah Sarja yang dikenal sebagai ulu-ulu(1) desa adalah tetua adat yang punya pengaruh besar di desa Cikeruh. Ia juga dikenal