FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Brian Kamoed, Petani Hidroponik asal Subang dengan Omzet Ratusan Juta

Bermodal kreativitas dan kegigihan, sukses mengubah nasib Brian Kamoed, warga Desa Simpar, Kecamatan Cipunagara, Subang. Pria yang memiliki hobi ngeblog itu, kini sukses dengan usahanya sebagai petani Hidroponik.

Brian Kamoed, pria kelahiran 34 tahun lalu itu, mulai mengeluti usahanya di bidang pertanian sejak 2013 lalu. Keputusan untuk banting setir itu setelah sejumlah usaha yang pernah digelutinya, seperti Nasbak Klenger dan ikan presto, tidak menunjukan hasil menggembirakan.

"Saat itu saya dengan keluarga masih ngontrak di daerah Jl. Pejuang 45 Subang Kota. Akhirnya saya putuskan pulang ke daerah Simpar di Cipunagara," kata Brian memulai pembicaraan dengan TINTAHIJAU.com.

Inspirasi untuk menggeluti dunia baru, sebagai petani Hidroponik, muncul saat dia tinggal di daerah orang tuanya. Tidak seperti saat tinggal di Subang Kota, untuk mendapatkan sayuran, yang menjadi kebutuhan primer rumah tangga, mudah didapat.

"Tinggal di desa itu, untuk mendapatkan sayuran atau bumbu harus ke pasar. Dan itu butuh waktu bisa dua jam untuk pulang pergi. Dari situlah saya terpikir untuk main hidroponik. Karena bassic saya blogger, saya langsung browsing cari-cari info," paparnya.

Dari referensi seadanya itu, Brian uji coba. Hasilnya cukup memuaskan. Namun begitu, bagi Brian eksperimen itu belum cukup memuaskan. Iapun akhirnya berangkat ke Jakarta untuk menemui seorang master Hidroponik.

"Saya dapat ilmu banyak dari beliau. Dan jujur, pas pulang saya minta dikasih modal, berupa perlengkapan, sekitar senilai Rp300 ribuan. Sampai rumah saya praktekin lagi. Syukur Alhamdulillah, hasilnya oke," terangnya.

Yang dilakukan Brian adalah meracik pupuk yang mengandung hara tanah sebagai nutrisi tumbuhan. Maklum saja, sesuai karakternya, bertani hidroponik ini adalah berkebun dengan air sebagai pengganti tanah.

Hasil racikan nutrisi tumbuhan itu ia coba gunakan sendiri. Hasilnya cukup maksimal. Selain masa panen bisa dipercep Hasil racikan nutrisi tumbuhan itu ia coba gunakan sendiri. Hasilnya cukup maksimal. Selain masa panen bisa dipercepat dan lebih banyak bertani dengan sistem hidroponik menghasilkan sayuran yang sehat.

Melangkah dari situlah Brian coba-coba untuk memasarkan produknya melalui social media. Dengan brand Hydro-J berisi 25 gr nutrisi hidroponik untuk 100 liter air, ia memasarkan via facebook. Lagi-lagi, hasilnya diluar dugaan. "Alhamdulillah ada konsumen dari Surabaya, Kalimantan, Jabotabek dan daerah lainnya," katanya.

Saat ini, tidak hanya konsumennya yang terus bertambah dari berbagai Kota besar di Indonesia, sudah puluhan reseler yang tersebar di kota-kota besar. Dari kegigihan dan jerih payahnya itu, omzet Brian perbulan bisa tembus Rp100 juta bahkan lebih. "Sekarang sedang dirintis untuk membuat petani hidroponik binaan. Hidroponik berbasis masyarakat," imbuhnya.

Brian, yang kini kerap diundang sebagai pemateri Hidroponik di sejumlah kota, mengaku tidak khawatir dengan MEA. Sebaliknya, dengan persaingan pasar bebas ini menjadi peluang besar, produknya bisa tembus ke pasar Asia.

"Tidak ada yang harus ditakutkan, justru MEA ini menjadi pintu masuk untuk ekspansi. Mereka kita jadikan market kita. Mereka ga sedikit koq yang belajar ke Indonesia. Orang Malaysia ga sedikit yang kontak saya soal Hidroponik. Ini peluang besar," pungkasnya. [annas nashrullah l @JejakAnnas]

foto: Petani Hidroponik, Brian kamoed dan produk Hydro-J serta beberapa sample tanaman hidroponik dan kreasi lainnya
follow twitter @tintahijaucom