Mengatur Kesabaran dan Emosi Saat Temani Anak Belajar Ketika #dirumahaja



“Ya ampuuun…, saya sudah mulai hilang kesabaran, deh! Ngajarin anak-anak belajar di rumah ternyata susaaah banget! Salut, deh, pada ibu dan bapak guru di sekolah yang tiap hari menghadapi belasan sampai puluhan murid di kelas!”

“Kata anak saya, saya lebih galak dari Bu Guru! Aduh, harus bagaimana? Sementara saya juga harus work from home, ada target tugas-tugas kantor tiap hari.”

Anda mengalami ini juga, Bunda? Mulai stres dan panik, berhari-hari anak ‘sekolah’ di rumah, tidak bisa ke mana-mana karena anjuran stay at home, sementara pekerjaan atau tugas-tugas kantor Anda juga menunggu ditangani.

BACA JUGA:
Awas Hoax! Pesan WhatsApp Koneksi Internet Gratis 100 GB
Sandra Dewi Berbagi Tips Agar Anak Tidak Bosan Selama Pandemi Corona
Peneliti Ungkap Ikatan Batin Antara Ibu dan Anak
Empat Hal Ini Bikin Anak Merasa Dekat dengan Ortu


"Inhale  dan exhale dulu yang pertama, ya.... Sadari bahwa ini memang situasi yang sulit buat semua orang,” kata psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, Psi.

Anda tentu tidak sendirian. Semua orang di seluruh dunia mengalaminya, karena pandemi virus Corona membuat banyak kota di dunia meliburkan sekolah, perkantoran, dan segala aktivitas warganya. Namun, agar roda kehidupan tetap berjalan, aktivitas-aktivitas itu dilakukan di rumah. Guru-guru memberikan tugas-tugas untuk dikerjakan murid-murid di rumah ditemani orang tuanya. Anak-anak TK mendapat tugas mewarnai, membantu orang tua di rumah, membaca (dibacakan) dongeng, dan sebagainya. Kakak-kakak yang sudah duduk di sekolah dasar tentu mendapat tugas-tugas harian sesuai mata pelajaran.

Wajar, sih, jika Anda stres atau cemas menghadapi ini semua. Tapi, bukan berarti tidak ada solusinya dan Anda uring-uringan sepanjang hari, ya…. Setelah inhale-exhale, apa lagi saran dari Vera agar suasana rumah lebih ‘damai’ dan Anda lebih ‘santai’ menemani si kecil belajar di rumah dan menyelesaikan pekerjaan?

- Jalani dengan kemampuan yang ada semaksimal mungkin. Pilihannya, ya, cuma itu.

- Atur waktu dan tempat, kapan dan di mana dia bisa belajar. Begitu pun sebaliknya, di mana dan kapan ibu bekerja. Tapi, tetap fleksibel, misalnya tiba-tiba anak bertanya di tengah-tengah ibu sedang conference call dengan klien atau atasan, ya, dijawab saja, atau anak diminta menunggu sebentar. Semua perlu ekstra pemahaman termasuk kolega Anda juga, bahwa kita semua berada dalam situasi yang tidak biasa.

- Aturan terserah masing-masing kebijakan orang tua. Boleh ‘kaku’, misalnya waktu belajar sama persis dengan jadwal harian sekolah, anak sudah harus mandi, sarapan, dan bahkan pakai seragam sekolah saat mulai mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bisa juga lebih relaks. Fleksibel saja, yang penting semua menyadari bahwa ini bukan liburan, sehingga tetap ada tugas-tugas yang harus mereka kerjakan sesuai target dari sekolah.

- Perlu diingat kesejahteraan psikologis anak, dalam arti anak tidak menjadi cemas atau stres dalam situasi baru. Suasana tetap harus menyenangkan. Perlu disadari bahwa situasi rumah itu, ya, homey, sehingga perlu fleksibel juga.

- Jika tugas sekolah anak terlalu menyulitkan, bisa komunikasikan dengan guru bagaimana enaknya, supaya everybody’s happy. “Contohnya, di sekolah anak saya, di hari pertama dan kedua, guru memberi tugas baru setelah pukul 12 siang, ya, baterai anaknya sudah menipis. Saya meminta sekolah memberikan tugas agak pagian, mereka pun memperbaiki,” kata Vera.

- Mengapa ibu menjadi galak atau tidak sabaran kalau mengajari anak belajar? Karena ibu selalu berpikir anaknya musti mendapat nilai bagus. Tenang saja, ya.... Temani anak belajar, kalau Anda menemui kesulitan, bisa tanya gurunya. Jadi, selalu buka akses komunikasi dengan guru, sehingga kalau ada kesulitan dan ingin ditanyakan, ibu tidak merasa sendirian.

- Perlu dicamkan bahwa: “Yes, it is difficult, but it is still doable.” Sambil berdoa, badai pasti berlalu.

Satu hal yang perlu Anda ingat, cemas itu wajar, apalagi sumbernya jelas seperti saat ini. Tetapi, cemas berlebihan bisa menurunkan daya tahan tubuh, lho, sementara kita sedang melawan penyakit, kan. “Perkaya diri dengan pengetahuan dari sumber yang valid. Jangan terlalu sering nimbrung di WAG. Informasi sangat menentukan ketakutan atau kecemasan Anda,” kata Vera.

Sumber: AyahBunda | Foto: Ilustrasi/Pexels

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


Twitter Update

Majalengka Reptile Mania, Bersahabat dan Bermain dengan Satwa https://t.co/6CDwZQ6vqY
Ajarkan Anak Etika Berkomunikasi Menggunakan Smartphone https://t.co/frIyp9x5bZ
Lantaran Malu Ditinggal Suami Sirinya, Ibu Muda Ini Tega Buang Bayinya Sendiri https://t.co/3Wn8pVa6Dc
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter