FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Ini Penjelasan Pakar, Kenapa Virus Corona Tidak Menyerang Balita

Wabah virus corona hingga saat ini masih terus menjadi ketakutan masyarakat luas. Bahkan kini Indonesia makin tegas menggalakkan social distancing demi memutus mata rantai penularan virus Covid-19.

Hal tersebut tentu saja membuat masyarakat harusnya makin waspada, meski tak disarankan untuk panik. Kini, pemerintah Indonesia terus berjibaku memerangi pandemik ini.

BACA JUGA:
Tahap Awal untuk Melatih Kesabaran Balita Anda
Balita Kena Diare? Jangan Panik, Lakukan Langkah Berikut ini
Punya Balita?, Kenali Masalah Ruam Popok Ini
Lima Aspek Perkembangan Balita Yang Wajib Diketahui Ibu

Bahkan pemerintah sudah membeli obat dan peralatan rapid test untuk menangani virus corona. Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa jumlah penderita positif Corona disinyalir akan terus meningkat.

Meski begitu, sebelum virus ini sampai ke Indonesia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah meneliti bila wabah ini akan jarang menyerang bayi dan anak-anak.

Mengapa demikian?

Mengutip dari NewYorkTimes, sebagian besar pengidap virus corona berusia 45-56 tahun. Usia tersebut dianggap berisiko tinggi mengalami virus corona.

Jarang ditemukan kasus pada bayi dan anak-anak.

Bahkan di Indonesia, angka positif terinfeksi virus corona pada bayi dan anak-anak sangat rendah. Dalam laporan yang ditulis New York Times beberapa waktu lalu, Dr Malik Peiris mengungkap bila bayi dan anak tetap bisa terinfeksi, namun risikonya sangat rendah.

"Dugaan saya adalah orang yang lebih muda tetap bisa terinfeksi, tetapi mereka mendapatkan risiko yang relatif lebih ringan,” kata Dr Malik Peiris, Kepala Virologi di Universitas Hong Kong, yang telah mengembangkan tes diagnostik untuk virus corona.

Mengutip dari Tribun Jogja, beberapa waktu lalu insiden virus corona menjangkit satu keluarga yang bepergian ke Wuhan, Cina.

Salah satu anggota keluarganya berusia 10 tahun. Sekembalinya ke Shenzhen, anggota keluarga lain terinfeksi. Usianya beragam, sekitar 36 hingga 66 tahun. Mereka menderita demam, sakit tenggorokan, diare, dan radang paru-paru.

Sementara itu, anak yang berusia 10 tahun itu juga memiliki tanda-tanda pneumonia di paru-paru, tetapi tidak ada gejala di luar.

Beberapa ilmuwan menduga bahwa ini merupakan tipikal infeksi virus corona pada anak-anak.

"Memang benar bahwa anak-anak dapat terinfeksi tanpa gejala atau memiliki infeksi yang sangat ringan," kata Dr Raina MacIntyre, seorang ahli epidemiologi di Universitas New South Wales di Sydney, Australia, yang telah mempelajari penyebaran virus corona.

Sama dengan kasus SARS dan MERS yang juga sempat mewabah, gejala pada anak-anak hanya ditunjukkan secara ringan. Anak-anak di bawah usia 12 tahun memiliki kemungkinan lebih kecil untuk dirawat di rumah sakit atau membutuhkan oksigen atau perawatan lain.

Para peneliti menemukan anak-anak di atas usia 12 memiliki gejala seperti orang dewasa.

“Kami tidak sepenuhnya memahami alasan peningkatan keparahan terkait usia ini. Tapi kami melihat itu sekarang dan dengan SARS, Anda bisa melihatnya lebih jelas,” kata Dr. Peiris.

Bukan hal yang aneh jika virus hanya memicu infeksi ringan pada anak-anak dan penyakit yang jauh lebih parah pada orang dewasa. Cacar air, misalnya, sebagian besar tidak penting pada anak-anak, namun sangat berbahaya pada orang dewasa.

Sumber: Nakita | Foto: Ilustrasi/Pexels

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


Twitter Update

Ogah Kalah Dengan Warga, Camat Cikaum Ikut Rapid Test https://t.co/5dktaittAb
Jusuf Kalla Menilai Masjid Lebih Mudah Diatur Protokol Kesehatan Dibanding Mal https://t.co/AX1AgNwnju
Jemput Bola, Pemkab Subang Lakukan Tes Swab kepada 97 Pedagang Pasar Kasomalang https://t.co/zncg2iyHp5
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter