FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Penjelasan Guru Besar UGM Tentang Jenazah Corona yang Sudah Dimakamkan



Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gajah Mada (UGM), Tri Wibawa mengimbau masyarakat agar tidak menolak pemakaman jenazah pasien positif terinfeksi virus corona yang menyebabkan Covid-19.

Dia mengatakan pengurusan dan pemakaman jenazah yang sesuai prosedur membuat virus tidak bisa menular.

"Dengan menjalani semua prosedur pemakaman jenazah Covid-19, sesuai guideline dari Kemenkes, Kemenag, dan MUI maka tidak akan menimbulkan penularan," ujar Tri mengutip situs resmi UGM, Jumat (17/4).

BACA JUGA:
Subang Siapkan 5 Hektar Lahan Pemakaman dan 11 Peti Jenazah untuk Corona
Sejumlah Ulama Majalengka Himbau Agar Jangan Tolak Jenazah Pasien Corona
Bagaimana Jenazah Korban Covid-19 Bisa Tularkan Corona?, Ini Jawabannya.

Tri yang merupakan pakar mikrobiologi menuturkan virus akan ikut mati pada tubuh seseorang yang telah meninggal. Sebab, dia mengatakan orang meninggal selnya akan mati dan membuat virus di dalamnya tidak akan berkembang.

Sifat virus dalam jenazah, kata Tri, sama dengan virus yang ada di tanah, lantai, maupun barang yang akan mati dalam jangka waktu tertentu.

Lebih lanjut, Tri berkata jenazah yang telah dibungkus plastik atau kantong jenazah kedap udara membuat virus tidak bisa menyebar keluar. Perlakuan tersebut, kata dia, juga membuat cairan yang keluar dari tubuh jenazah akan tetap berada di dalam kantong jenazah.

"Jadi, kami imbau masyarakat agar tidak panik karena petugas kesehatan telah memperlakukan jenazah pasien Covid-19 sesuai protokol. Jenazah telah dibungkus sedemikian rupa agar tidak bocor dan dijamin keamanannya," ujarnya.

Di sisi lain, Tri mengatakan risiko penularan jenazah positif Covid-19 ke manusia yang belum dimakamkan akan minimal apabila seluruh langkah pemulasaran dilakukan sesuai pedoman penanganan yang dikeluarkan Kemenkes.

Antara lain, dia berkata petugas kesehatan memakai APD saat pemulasaran jenazah dan jenazah harus terbungkus seluruhnya dalam kantong jenazah yang tidak mudah tembus sebelum dipindahkan ke kamar jenazah.

Berikutnya, dia berkata petugas harus mencegah ada kebocoran cairan tubuh yang mencemari bagian luar kantong jenazah dan sesegera mungkin memindahkan ke kamar jenazah.

Jika keluarga pasien ingin melihat jenazah, Tri berkata hal itu hanya bisa dilakukan sebelum dimasukkan ke kantong jenazah dan harus memakai APD. Jenazah, kata dia juga tidak boleh disuntik pengawet atau balsem dan jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi.

Selain itu, jenazah sebaiknya diantar dengan mobil jenazah khusus tidak lebih dari 4 jam sebelum disemayamkan di pemulasaran jenazah.

Petugas, kata dia juga harus memberikan penjelasan ke pihak keluarga terkait penanganan khusus  yang meninggal karena penyakit menular dan memperhatikan sensitivitas agama, budaya, dan adat istiadat.

"Perlakuan yang sama juga diperuntukkan bagi jenazah berstatus PDP yang hasil pemeriksaan laboratorium Covid-19 belum keluar," ujar Tri.

Sumber: CNN Indonesia | Foto: Garry Lotulung/Kompas

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Tingkat Pasien Covid Sembuh di Subang di angka 70 persen https://t.co/PisprD71nk
Dinas Perikanan Subang Tebar 150 Ribu Benih Ikan Patin dan Emas di Situ Nagrog https://t.co/WcG18vkHSR
Viral mobil berlapis emas di social media. Rupanya di Kabupaten Subang https://t.co/8fldenCOKo
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter