Generasi Millenial Bikin Aktifitas di Dapur Punah



Dapur dan aktivitas memasak diramalkan punah pada tahun 2030. Sedangkan layanan makanan online akan semakin berjaya.

Sebagai anak yang hobi makan, Adeline Prawita paling suka menonton acara masak di YouTube. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam mencari video tentang cara memasak omurice, telur dadar ala Jepang yang sempat nge-trend. Tak ketinggalan, Adel juga mengikuti beberapa channel milik chef. Salah satunya William Gozali, pemenang MasterChef Indonesia ke-3 yang kini beralih menjadi pembuat konten YouTube.

Adel menonton salah satu unggahan konten William berjudul ‘Resep Sushi Tergampang Sejagat Raya’. Dalam video berdurasi sekitar 11 menit ini William beraksi. Penampilan William jauh dari kesan koki jadul. Sambil mengenakan kaos garis-garis, tangannya yang bertato ‘membedah’  ikan salmon, membakarnya, lalu mengolesinya dengan saus racikan. Tak terasa ‘cacing’ di perut Adel ikut ‘meronta’ minta makan. Segeralah ia bergegas ke dapur.

BACA JUGA: Kaum Millenial Menganggap 'Terima Kasih' Adalah Tindakan Kuno

“Dari semua bahan, yang gua punya cuma garam saja, ternyata takdir berkata lain,” ujar Adel ngeles. Mahasiswi tingkat akhir di Universitas Tarumanagara ini sebenarnya hanya malas bikin dan maunya cuma langsung makan. Dari awalnya mau membuat masakan sushi ikan salmon, Adel turun kelas dan masak mie instan plus telur rebus.

Penonton acara masak semacam ini memang terbagi menjadi dua kelompok. Pertama kelompok yang rajin nonton dan rajin pula mereplikasi resep. Sedangkan kelompok kedua seperti Adel, yang tidak pernah absen nonton tapi tidak pernah berhasil mempraktekannya. Alhasil masakan buatan Adel tak jauh-jauh dari masakan sederhana seperti telor goreng, nasi goreng dan roti bakar. Itu pun Adel sudah menganggap dirinya jago masak.

“Ya, bukan apa-apa. Masak itu ribet.  Sebelum masak saja sudah mikir mau masak menu apa, terus mikir lagi bahan-bahannya apa, setelah itu menyiapkan bumbu dan memasak terus dicicipin baru dimakan. Nah, lihat urutannya saja ribet,” celoteh Adel yang tinggal bersama orang tua di Kalideres, Jakarta Barat. Pernah suatu kali Adel mengikuti sebuah resep brownies online, kuenya malah jadi mubazir karena berujung masuk tong sampah.

Meski tak pandai memasak, perempuan berusia 23 tahun ini beruntung masih diberi masakan rumahan tiga kali sehari oleh ibunya. Melihat kelakuan putri bungsunya terkadang bikin sang ibu naik darah. “Mama seumur kamu udah bisa bikin kue lapis. Kamu masak nasi pakai rice cooker aja nggak becus,” tutur Adel menirukan ucapan ibunya.

BACA JUGA: Survey Terbaru: Millenial Generasi yang Paling Kesepian

Ocehan ibu Adel memang bukan omong kosong. Sebagian besar generasi milenial yang lahir antara tahun 1980-2000-an tidak bisa memasak. Berbeda dengan generasi baby boomer alias yang lahir era tahun 50-60-an yang pandai memasak. Belum lama ini, Porch, sebuah situs di Amerika Serikat-yang mewadahi pertemuan pemilik rumah dan tukang professional mengadakan survei. Tujuan survei ini untuk mengetahui keterampilan memasak antar-generasi. Porch menyurvei 750 orang dari segala usia. Ada peserta dari generasi baby boomers, generasi X dan milenial.

Hasilnya, hanya lima persen generasi milenial yang mengklaim diri sebagai juru masak yang "sangat baik". Sementara 12,4 persen generasi baby boomers merasa mereka adalah koki andal. Jangankan memasak, 56 persen milenial yang disurvei bahkan tak bisa mengenali alat penghancur bawang putih. Sedangkan generasi boomers dan gen x lebih andal mengenali berbagai perkakas dapur.

Selain itu, kaum milenial adalah generasi yang paling jarang masak. Fakta ini sebelumnya juga pernah disinggung Food Institue. Mereka hanya memasak 13,5 kali per pekan. Itu pun 18 persennya menggunakan makanan beku atau bahan makanan setengah jadi.

Di dalam sebuah kamar kos dengan harga sewa Rp 1,5 juta per bulan, Reza Kosasi paling jarang mendatangi area dapur komunal. Sudah tiga tahun pegawai swasta di Jakarta Selatan ini nge-kos, kompor dan alat masak lengkap tersedia, tapi pagi dan malam dia tetep makan di luar. “Habis rasanya tanggung kalau beli sayur terus masak buat sendiri,” ungkap pria asal Surabaya itu.

BACA JUGA: Ngaku Millenialis? Coba Cek 10 Ciri Dasar Generasi Millennial

Tapi sejak memasuki era online food delivery dengan munculnya layanan seperti Go- Food dan Grab Food, Reza jadi semakin malas beranjak keluar dari kosan untuk sekedar membeli nasi bungkus di warteg. Ketika tengah menonton laga sepak bola Premiere League melalui Netflix, Reza tinggal mengambil smartphone-nya lalu memesan makanan yang diinginkan. Tak sampai hitungan jam, martabak cokelat keju telah sampai di depan kosan. “Apalagi kadang suka ada promo potongan harga, kadang nggak kepengen malah jadi beli,” katanya.

Go-Food, layanan pesan antar makanan bagian dari ekosistem Go-Jek mengklaim mengalami peningkatan pesan jumlah pesanan sepanjang 2018. Selama setahun, Go-Food telah berhasil mengirimkan lebih dari 500 juta makanan dan minuman. Menu teratas yang paling banyak dipesan yaitu menu ayam, nasi, mie, gorengan, dan martabak.

Bank investasi asal Swiss, UBS, pada pertengahan tahun 2018 juga meramalkan kepunahan dapur dan aktivitas memasak di tahun 2030. Sedangkan layanan pengantaran makanan online akan semakin berjaya. Dari hasil studinya, pertumbuhan online food delivery diprediksi akan meningkat 20% setiap tahun.  Jika itu terjadi, bukan mustahil jika nantinya akan ada rumah yang didesain tanpa dapur.

Sumber: detik | Foto: Thinkstock

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Ratusan Botol Miras Disita di Subang Kota pada Malam Takbiran https://t.co/E7hxdUfJVn
Hari Lebaran, Jumlah Positif Covid-19 di Purwakarta Bertambah 1 Orang https://t.co/cW1BNBZpgD
Sempat Ditolak Bidan, Ibu di Subang ini Lahiran di Jalan Jelang Sholat Idul Fitri https://t.co/eEtp53QKiV
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter