FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

'SUBANG NYENI', Ruang EKspresi Kegelisahan Anak Muda Subang

Subang Nyeni adalah nama yang dipilih sebagai media ekpresi bagi setiap seniman di Subang, tidak mengenal tua atau muda, senior atau junior, lebih dulu atau baru-baru, seniman adalah seniman, dia berkarya.

Ruang ini digagas oleh beberapa orang-orang muda yang bergairah untuk menuliskan sejarahnya sendiri, orang-orang muda yang berasal dari berbagai profesi, dari mulai pegawai negeri sampai sukarelawan. Orang-orang muda yang berasal dari berbagai latar pendidikan, dari yang sudah bergelar master sampai yang drop out, bahkan menuju drop out. Dan terdiri dari orang-orang muda dengan berbagai disiplin ilmu, dari sainstis sampai agamis, dari bahasa dan sastra sampai merana sebab menjalin cinta selalu terluka. Eh..

Sebagai media ungkap (kegelisahan, ekspresi jiwa, atau apapun) yang mewakili setiap lapisan masyarakat, maka seni harus memiliki ruang. Agar setiap ungkapan bisa tersampaikan dengan sebagaimana mestinya, sehingga seniman tidak melulu (maaf) onani. Seni sebagai prodak budaya juga harus terus berdenyut, keberadaannya akan menjadi identitas dari sebuah kota atau kabupaten tertentu. Apalagi di Subang, yang hari ini sudah mulai tumbuh.

Jalan tol, akan otomatis memaksa wilayah di sekitarnya menjadi pabrik (hari ini sudah ada beberapa pabrik dan pembangunan pabrik baru di Subang), belum lagi pelabluhan internasional, akan gagah menjejaki Subang bagian utara. Subang hari ini sedang memulai evolusinya, maka menentukan identitas harus juga dimulai hari ini. Jangan sampai Subang kehilangan identitasnya, seperti kota atau kabupaten yang sudah sejak lama memulai evolusinya.

Subang Nyeni sebagai ruang bagi setiap seniman di Subang harus terus berlangsung tidak hanya hari ini, sebagai penyeimbang pembangunan di Subang. Pembangunan fisik di Subang, harus di seimbangkan dengan pembangunan manusianya. Melalui Subang Nyeni, Subang akan mempersiapkan peralihan budaya menuju masyarakat Subang yang baru.

Subang yang urban, Subang yang industrialis. Tidak bisa dipungkiri bahwa Subang “besok” akan menjadi Subang yang dipenuhi oleh banyak pendatang, pribumi akan kehilangan “Ke-Subangannya”. Maka seni menjadi penting sebagai pondasi masyarakat (pribumi) di Subang yang baru untuk mengenali dirinya sendiri.

Panjang memang,pasti penuh liku, namun harus dilalui sebagai sebuah perjuangan. Dalam rangka perjuangan, maka kata-kata harus dilaksanakan. Subang Nyeni 2017, akan menampilkan beberapa konten seni yang memang sudah dimiliki oleh kami para muda-muda, yang berbeda-beda tadi. Seperti penampilan musik kolaborasi yang bernuansa kroncong namun dimainkan dengan alat-alat karawitan sunda (seperti kendang dan suling) dari kelompok yang menamakan diri Simphony 1C, tari tradisional, dan teater rakyat yang populer bernama longser atau banjet di Subang.

Sebagai awal, atau boleh juga dikatakan kehadiran pertama, kami memaksimalkan apa yang kami miliki terlebih dulu, kedepan tidak menutup kemungkinan Subang Nyeni akan menampilkan seniman-seniman lain di Subang yang memiliki karya, dan ingin ditampilkan, serta diapresiasi khalayak ramai. Sehingga lingkaran kecil ini akan semakin membesar dan memberi dampak sesuai dengan yang kami cita-citakan, yang sudah kami tuliskan di atas.

Sebagai penutup dalam tulisan ini, saya mendoakan panjang umur serta mulia untuk Subang Nyeni. Sampai jumpa di Subang Nyeni pada 10 dan 11 Februari 2017 di Aula Pemda Subang mulai pukul 15:30 pada sesi pertama, dan 19:30 pada sesi kedua.


penulis Indrawan Setiadi

*foto: cara.pro

-----

Dapatkan lintasan berita Subang via:
Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau
Chanel BBM: Berita Subang

]