FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

POLITIK TIDAK DINAMIS

Oleh : Taswa Witular, S. IP

Iklim yang dulu dianggap bersifat stabil, kini dianggap tidak lagi demikian sehingga menimbulkan keresahan penghuni dunia. Sepertinya ada faktor lain, yang mempengaruhi perubahan ini. Berangkat dari kepedulian atas fenomena perubahan iklim dunia, Sebanyak 195 negara berperan serta dalam KTT Perubahan Iklim di Paris - Perancis pada Desember 2015 serta menghasilkan Paris Agreement untuk memerangi dampak perubahan iklim.

Sayangnya, KTT tidak mengikat Negara yang bersepakat untuk melakukan kewajiban dalam menerapkan target yang digariskan. Kita tidak akan membahas iklim lebih jauh, namun prolog ini saya sajikan sebagai perbandingan atas fenomena lain di atas dunia, khususnya di Indonesia. Politik Indonesia bagaikan Iklim saat ini. mari Kita buktikan.

Jika iklim dimasa lalu dianalogikan sebagai gambaran politik Nabi, maka politik Indonesia dimasa kini analoginya adalah iklim dimasa kini. Iklim yang dulu bisa di prediksi, saat ini sulit diprediksi. Bicara hal ini akan membawa kita pada tahap pembicaraan mengenai faktor – faktor yang membuatnya demikian.

Nabi berpolitik dengan ciri konsistensinya. Ini sebuah wujud pengagungan beliau terhadap ideologinya_yang mengajarkan konsisten. Apakah inkonsistensi para politikus Indonesia akibat dari ideologi yang berbeda dengan Muhammad (Nabi Allah)? Bukan disana letaknya, karena meskipun ideologi yang dianut berbeda namun semua politikus Indonesia berangkat dari partai – partai yang notabene ideologinya tidak berseberangan dengan ideology politik (Nabi) Muhammad. Ideology mereka, adalah catutan dari ideology Nabi yang sangat luas jangkauannya. Jelaslah bahwa telah terjadi sebuah penghianatan oleh politikus terhadap ideologinya sendiri, lebih jauh terhadap ajaran Nabi Muhammad.

Penghianatan ini pada spectrum politik menghasilkan kreasi yang memicu perubahan–perubahan gejolak sosial didalam masyarakat. Sebut saja kerja sama atau koalisi, misalnya. Meski koalisi partai disuguhkan dengan kemasan bertujuan positif, namun didalamnya kerap muncul pribadi penghianat ideologi yang dia pakai, muncul kepentingan pribadi atau kelompok. Timbulah instabilitas politik. kebijakan yang mementingkan pribadi atau kelompok, kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat, pada titik kulminasi menjadikan kekacauan kecil dan besar, pada lingkup kecil dan meluas. Bentuk penghianatan pun kerap dilakukan oleh koalisi nonkekuasaan. Penentangan kebijakan bukan berdasar pada keberpihakan, menjadi selalu salah kebijakan apapun yang dikeluarkan pihak koalisi kekuasaan meski secara objektif mereka mengakui tidak ada alternatif kebijakan lain yang lebih baik. Rakyat disodori opini antipati dengan paparan tanpa kajian ilmiah. Berubah penentangannya menjadi kebijakan yang dieksekusi ketika dia berada pada kursi atau kelompok kursi kekuasaan. Agenda, program, dan tujuan bangsa menjadi terabaikan.

Apakah ideologi yang mereka anut mengajarkan demikian? Tentu “tidak”, bukan?! Pada tahapan ini koalisi menjadi dinamis, loncat sana atau loncat sini serta terjadi pengingkaran terhadap teman koalisi, terjadi pola tarik menarik serta dilain pihak pemudaran kesepakatan. Ketika rakyat bertanya tentang perubahan koalisi, mereka menjawab; “politik itu dinamis”.

Rakyat dibawa pada kebiasaan memandang “politik itu dinamis”. Seakan segala bentuknya dianggap wajar. Mendidik bukan pada pemahaman ideologi, tapi pada kepasrahan menerima segala akhir drama. Menjadikan rakyat semakin tidak mengerti dan enggan berpolitik melalui simbol politik yang penuh teka – teki di dalamnya, sulit dimengerti dan sulit dicapai oleh intelektualitasnya. meski demikian, pada kalangan intelek akhirnya beralasan keengganan berpolitik mereka karena tidak menjanjikan penghidupan yang bersih. Menjadi positif ketika kaum intelek tertantang menerjunkan diri. Namun sebaliknya jika timbul apatisme dikalangan kaum ini maka peranan hanya sampai pada tahap kritisasi, bukan upaya pencapaian kursi eksekutor.

Konon, para ahli IPTEK dengan kepeduliannya telah meneliti dan menghasilkan kesimpulan atas fenomena perubahan iklim dunia. Setelah ditemukan faktornya, maka dibuatlah agreement. Di dalam politik, mengapa tidak ada upaya politikus mensikapi inamika politik? dengan membuat kajian dan evaluasi bersama lalu bersepakat?! Jawabannya, karena masing – masing berlomba mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Politikus sibuk membuat dinamika, membentuk opini dan manuver untuk kepentingan diri dan kelompok sehingga politik kian dipandang dinamis oleh kalangan rakyat biasa. Beberapa politikus bahkan memandang, tidak ada kata “kesepakatan” dalam ranah politik. jika pun ada, itu hanyalah sebuah simbol akan terjadinya sebuah pengingkaran, dengan alasan kejutan terjadi karena memang “politik itu dinamis”. Ideologinya bagus, namun pribadi – pribadinya memandang kawan dan lawan sebagai chair aconspiration yang harus ditendang, disingkirkan setelah tujuan pribadi tercapai. Serong ke kanan padahal bagian dari strategi untuk condong ke kiri. Jika tidak demikian menjadi “bukan politik namanya”. Jika tidak begitu, maka “bukan film jika tanpa drama di dalamnya”. Inilah awal perseteruan dikalangan mereka, yang pada akhirnya memicu perlombaan yang tidak sehat sehingga rakyatlah yang bingung. Rakyat dibodohi dengan ulah para desainer dan aktor politik pembuat dinamika.

Tahap pemahaman “politik itu dinamis” akan semakin memperparah keadaan Politik kita tatkala partai – partai lebih mengakomodir kader yang menjunjung azas “asal bapak senang”. Semua tergantung senior, tergantung pemimpin, dan dia sendiri meyakini dinamisme politik sebagai sebuah kewajaran. Ada yang memang pasif pemikirannya, ada pula yang beralasan loyal. Bukan itu partai yang baik. Idealnya politikus disetiap partai memahami bahwa politik menjadi “dinamis” karena faktor yang sengaja diciptakan sendiri oleh mereka atau tepatnya oleh elit mereka. Sebagai bagian dari pejuang rakyat, politikus dimanapun dia berdiri (di eksekutif, di legislative, pengurus partai ditingkat nasional
 aupun lokal) harus menyadari bahwa dirinya adalah kreator, stabilisator, bagian dari pembuat isu, bagian dari sebuah kebijakan, yang kesemuanya akan menimbulkan dinamika.

Setiap mereka harus terpacu, menjadikan dirinya aktif bukan pasif_sekedar mengikuti irama pimpinan. Di sini mereka akan bisa membedakan antara kewajiban, perintah dan mana yang lebih perlu diutamakan. Lantas apakah sekali lagi ideologi harus dirubah sebagai instrumen perubah kesan “politik itu dinamis” karena memberi hasil yang tidak produktif? Lagi – lagi jawabannya “tidak perlu”!. Namun ada satu kunci untuk sebuah perubahan pola pikir politikus, dipartai manapun ia berada. Pola pikir yang benar, akan menghasilkan stigma – stigma mendidik, mengubur stigma ‘politik itu dinamis” ataupun “politik itu jahat” dan pada gilirannya menciptakan stabilitas disetiap bidang kehidupan. Kunci itu adalah ANUTAN terhadap nilai – nilai politik
Nabi Muhammad. Dalam hal ini harus diingat bahwa tidak semua tindakan Nabi bernilai imperatif. Dengan demikian menganut nilai - nilai kepolitikan Nabi tidak berarti menghianati ideologi yang sudah dipegang. Nilai atas ragam tindakan beliau tergantung pada kategorisasi. Kategori yang dimaksud, ada sejumlah tindakan-tindakan Nabi yang dianggap sebagai legislasi hukum dan ada pula yang dipandang dalam kategori sebuah tindakan di luar legislasi hukum.

Untuk kategori non-legislatif mencakup tindakan Nabi yang berkaitan dengan pengetahuan khusus atau teknis tentang hal-hal tertentu, seperti: kesehatan, perdagangan, pertanian, dan perang. Termasuk juga dalam hal jumlah isteri-isteri Nabi. Ini pandang sebagai non-legislasi karena berhubungan dengan rasio sosio-kultural yang boleh jadi perlu tapi tidak dalam segala keadaan. Sedangkan kategori legislasi mencakup soal-soal yang berhubungan dengan peran seorang Nabi sebagai utusan Allah, kepala negara, atau hakim. Sifat Rosul yang beradab terhadap lawan, menyayangi kawan, mencerdaskan Rakyat, jujur dalam perkataan, konsisten pada kesepakatan, adil ; itulah nilai yang harus dianut sehingga tindak–tanduk serta keputusan politik mencerminkan keteguhan dalam berpegang pada ideologinya di posisi dimanapun politikus tersebut berada. Kunci sebagaimana saya sebut di atas, kiranya bisa mendekatkan pemahaman serta pengingat para politikus terhadap apa yang disebut dengan ideologi beserta keteguhannya dalam berpegang atau memberangkatkan keputusan sehingga tidak melenceng dari ajaran ideologi yang sejatinya luhur.

Rakyat harus memahami bahwa “politik itu dinamis” adalah sebuah stigma. ketika Politikus sebagai pengguna ilmu suci (ilmu politik) melakukan manuver, maka disanalah instabilitas atau dinamika terjadi. Politikus membuat itu terjadi, lalu segala manuver berikutnya dia nyatakan atas adanya perubahan social yang ironisnya rakyat tidak menyadari perubahan sosial itu didesain oleh politikus . Kita tidak mengharamkan dinamisasi, selama itu bukan sengaja diciptakan oleh politikus DEMI kepentingan serta tujuan yang menghianati cita – cita bangsa. Melakukan stigmatisasi “politik bukan matematika” sama saja mempertontonkan betapa inkonsistensi serta pengingkaran ideology dikalangan politikus itu sangat membanggakan.


Banner Kanan 1
Banner Kanan 4
TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

BPBD Majalengka Petakan Wilayah Rawan Bencana. Ini Datanya https://t.co/ok9uH3ssk5
Ruang Laboratorium MTsN VII Majalengka Ambruk https://t.co/9pT2hXVQ2E
Songsong 2020, Bupati Tegaskan Majalengka sebagai Kota Kolang-Kaling https://t.co/zFrudTRYgQ
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page