FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Tradisi Mudik dan Pengabdian Sang Jurnalis

Menjelang datangnya hari raya Idul Fitri, sebagian besar ummat muslim di tanah air melakukan tradisi tahunan yang biasa disebut dengan istilah mudik. Mereka yang tengah berada di perantauan akan sekuat tenaga pulang ke kampung halamannya demi memenuhi hasrat kerinduan kepada keluarga tercintanya. Jauhnya jarak yang harus ditempuh serta beratnya medan yang harus dilalui rupanya tak sedikit pun menghalangi langkah-langkah mereka untuk dapat menginjakkan kedua kakinya di kampung halaman. Rasa lelah akan segera terobati manakala mereka dapat berkumpul bersama keluarga maupun kerabat yang setia menantinya. 

Di tengah kegembiraan yang menyelimuti, ternyata ada sebagian orang yang justru tengah sibuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Adalah  seorang jurnalis, sebuah profesi mulia yang tak kenal lelah menyuguhkan berbagai informasi penting kepada masyarakat. Beberapa hari menjelang datangnya lebaran atau saat mulai memasuki arus mudik, para jurnalis yang tergabung dalam media online maupun elektronik tersebut nampak sibuk melaporkan kondisi ruas jalan di berbagai daerah di tanah air. Jalan-jalan utama yang biasa dilalui oleh para pemudik biasanya menjadi pantauan mereka sepanjang waktu.  

Informasi tentang kondisi jalan di titik-titik rawan kemacetan biasanya menjadi bahan laporan yang diinformasikan kepada para pemudik setiap saat. Selain itu informasi seputar jalur-jalur alternatif yang dapat dilewati  apabila terjadi kemacetan pun menjadi perhatian para jurnalis yang setia mendampingi para pemudik yang tengah berada di belakang kemudi maupun mereka yang sedang memegang gadget. Aktivitas tersebut mereka lakukan dari pagi hingga malam hari. Rasa lapar, haus serta lelah tak sedikit pun menyurutkan semangat mereka dalam bertugas. Hal itu dilakukan agar masyarakat dapat pulang ke kampung halamannya dengan nyaman. Jurnalis seakan berperan sebagai “kompas berjalan” bagi masyarakat yang tengah memerlukan penunjuk arah. 

Namun, besarnya pengabdian mereka rupanya belum sebanding dengan penghargaan yang diterimanya. Hasil survey yang dilakukan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung pada bulan Juni 2017 menyebutkan, dari 33 jurnalis yang menjadi responden, sebanyak 21 responden mengaku mendapatkan upah di bawah Upah Minimum Kota (UMK). Selain itu dari 33 responden tersebut 20 diantaranya diketahui tidak memperoleh jaminan sosial seperti ketenagakerjaan maupun kesehatan dari tempat mereka bekerja. Kondisi semacam ini tentunya dapat berpengaruh terhadap peran mereka sebagai pilar demokrasi yang keempat dan bertugas untuk mengawasi kinerja pemerintah. 

Selain masalah kesejahteraan, para jurnalis pun tak jarang mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan atau bahkan mengalami kekerasan fisik saat mereka bertugas. Kekerasan yang dilakukan oleh oknum anggota Brimob terhadap salah seorang jurnalis di Arena Kejuaraan Bulu Tangkis Indonesia Terbuka, JCC senayan beberapa waktu lalu merupakan salah satu contoh dari sekian banyak kasus kekerasan ataupun intimidasi yang terungkap ke publik. Padahal, jurnalis sejatinya merupakan profesi legal yang kehadirannya dilindungi oleh undang-undang. 

Agar para awak media tersebut dapat menjalankan tugasnya dengan tenang, tak ada jalan lain bagi pemerintah selain memberikan penghargaan kepada mereka secara layak. Sebagai pemegang regulasi, pemerintah memiliki kewenangan untuk melahirkan berbagai kebijakan yang mampu memberikan jaminan kesejahteraan yang lebih baik kepada para jurnalis maupun keluarganya. Selain itu bantuan hukum secara maksimal pun mutlak diberikan pemerintah kepada mereka yang menjadi korban intimidasi ataupun kekerasan yang dilakukan oleh pihak manapun. 

Selain pemerintah pusat, pemerintah daerah pun memiliki andil serta kewajiban moral untuk memperhatikan nasib para jurnalis sebagai salah satu aset daerah yang sangat berharga. Berkat jasa mereka lah berbagai potensi ekonomi maupun wisata daerah dapat dikenal oleh masyarakat di tanah air. Dengan mempromosikan daerahnya, jurnalis telah berjasa dalam menambah pendapatan daerah sekaligus mengundang para investor untuk berinvestasi di daerah tersebut. Selain itu jurnalis pun memiliki peran dalam mempercantik image (pemerintah) daerah melalui pemberitaan yang objektif terkait kemajuan-kemajuan yang berhasil dicapai oleh daerah tersebut. 

Maka dari itu, tak berlebihan kiranya apabila pemerintah daerah berkomitmen untuk memberikan penghargaan bagi para pahlawan yang tak kenal lelah dalam bekerja itu. Dalam hal ini Pemda dapat berinisiatif mengeluarkan kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan mereka. Memberikan kemudahan bagi anggota keluarganya untuk mengenyam pendidikan serta memberikan insentif tahunan merupakan sebagian kecil dari bentuk penghargaan yang dapat diberikan oleh pemerintah daerah. 

 

AGUS MASYKUR, Penulis adalah Wakil Ketua DPRD Subang)


Twitter Update

KPK Selenggarakan Kelas Mendongeng Sebagai Kampanye Anti Korupsi https://t.co/xldZ87tW5C
Kemarau Panjang, Petani Bantarwaru Majalengka Tanam Palawija https://t.co/Mq3SOvWfgU
Ada 7 Ciri-ciri Anak Autisme. Jika dari ketujuh ciri ini dijawab minimal dua dengan jawaban tidak, maka itu sudah… https://t.co/intyqQMojh
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page