[Opini] Aksara Membangun Peradaban

Terekamnya peradaban manusia di Dunia jauh sebelum manusia mengenal peradaban maka Aksaralah yang menjadi bukti-bukti keberadaan manusia tersebut, sebagai contoh apabila kita berbicara pada zaman batu, zaman purba dan lain sebagainya keberadaan itu semua di kenal dengan adanya Aksara, bahkan lebih jauh keadaan itu menjadi bagain dari ilmu pengetahuan yang sekarang di kenal dengan Ilmu Antropologi.

Al-Qur’an telah memberikan gambaran bahwa peradaban di bangun bukan tanpa sebab tetapi dengan maksud yang strategis untuk mengisi kehidupan manusia di Dunia, hal ini Allah jelaskan dalam Surat Al-Hujurot ayat 13 yang artinya:  “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

OPINI LAIN:

Lima Karakteristik Sekolah Unggul
Memetik Pelajaran dari Hijrah
Tahun Baru Islam dan Menjaga Tradisi Syiar di Era Milenial

 

Para ahli tafsir memberikan pandangan bahwa ayat tersebut berbicara masalah penciptaan manusia yang terdiri dari lak-laki dan perempuan serta membentuk suatu bangsa dan suku dalam kehidupannya, akan tetapi bangsa dan suku sebagaimana dalam ayat tersebut dapat kita fahami sebagai peradaban manusia yang terus menerus berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman dimana  manusia itu dilahirkan. Sedangkan dalam kontek saling mengenal tentu dapat di fahami bahwa manusia mempunyai cara yang unik yang berbeda dengan manusia lainnya yang berada pada bangsa dan suku-suku yang ada, sebagai contoh pada Bangsa Indonesia yang terdiri dari susku-suku dan bahasa yang menandainya, ada suku sunda dengan bahasa dan Aksara sunda, ada suku asmat dengan bahasa dan Aksara asmat, ada suku jawa dengan bahasa dan Aksara jawa dan lain sebagainya. Semua di jadikan untuk saling kenal mengenal.

Peradaban yang terbangun dari suku dan bahasa dan membentuk Aksara menunjukan bawa penciptaan manusia mempunyai tujuan  yang lebih khusu dan akan sama nilainya dihadapan sang pencipta yatu ketakwaan, apapun suku, bahasa, ras, warna kulit dan lainnnya yang menyamakan mereka di hadapan Sang Maha Pencipta adalah Ketakwaan Kepada Allah SWT.

Akrasa sebagai wujud dari peradaban, terus di tingkatkan seiring dengan tumbuhnya kesadaran manusia atas pentingnya mengenal peradaban dunia. Kontek peradaban dunia yang hari ini hadir di tengah-tengah kita adalah peradaban Digital bahkan disebut sebagai Era Digital, peradaban ini sudah jauh melangkah dari peradaban tempo dahulu dimana manusia hanya dapat mengenal atas sukunya saja tetapi dalam Era sekarang manusia dapat mengenal berbagai suku baik yang ada di sekelilingnya atau yang ada di luar sana. Maka peradaban Era Digital menjadi kesadaran bersama dalam mewujudkan Aksara.

Melalui Hari Aksara Internasional yang yang di usung oleh UNESCO dengan temanya “literacy in a diqital world” (membangun budaya literasi di Era Digital), bahwa peradaban dunia kembali akan dimulai dari budaya Aksara dengan jangkauan yang lebih luas dan lebih masif serta moderen. Apabila kita ingat peradaban yang dibangun pada masa Khalifahan Harun Arrasyid, budaya literasi menjadi tonggak utama peradaban hari ini dan masa yang akan datang, dengan budaya literasi pada masa Kehalifahan itu kita dapat mengenal dunia masa lalu yang ada dalam buku-buku sejarah, mengenal Islam dengan utuh yang ada pada buku fiqih, tafsir, hadits dan bahkan buku-buku sastra sekalipun. Peradaban ini jaug telah di siapkan oleh Islam yang menghantarkan peradaban dimasa itu dan masa sekarang. Jauh dari itu semua Al-Qur’an sebagai pedoman hidup ummat Islam, dikembangkan dengan Aksara, sosok Jayid Bin Tasabit yang menjadi penulis Mushaf Alqur’an dapat dinobatkan sebagai Bapak Aksara, dengan tulisan dan goresannya Al-Qur’an dapat di tulis dengan tersusun rapi sesuai dengan durasi pewayuannya dan tersusunlah Mushaf Utsmani yang ada sampai sekarang.

Kekuatan Aksara, dapat menembus segala masa peradaban, dan kekuatannya telah terbukti, bahkan dengan Aksara manusia dapat dikenaang serta dipelajari tingkah lakunya. Maka tidak heran apabila manusia tidak dapat mengenali Aksara sudah dipastikan manusia tersebut menjadi manusia terbelakang.
 

Upaya Mengenalkan Aksara

Pesan tsrategis HAI yang di gagas UNESCO menjadi perhatian serius oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, wujud dari itu adalah pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berhasil tuntaskan Penduduk Buta Aksara sebesar 97,93 Persen. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tersisa 2,07 persen dengan kisaran 3,4 juta orang yang belum tersentuh Aksara. (baca web kemendikbud RI).

Pada kesempatan lain angka buta Aksara usia 15-59 tahun di Indonesia apabila dilihat dari masing-masing provinsi, terdapat 11 provinsi yang berada pada angka buta hurup diatas angka nasional yaitu Papua (28,75 persen), NTB (7,91 persen), NTT (5,15 persen), Sulawesi Barat (4,58 persen) Kalimantan Barat (4,50 persen), Sulawesi Selatan (4,49 persen) Bali (3,57 persen), Jawa Timur (3,47 persen), Kalimantan Utara (2,90 persen), Sulawesi Tenggara (2,74 persen) dan Jawa Tengah (2,20 Persen). Dari angka tersebut dapat di katakan bahwa peradaban Insonesia akan jauh tertinggal dengan peradaban negara lainnya.

Mengenalkan Aksara tidak hanya menjadi kewajiban negara, tetapi jauh lebih dari itu Aksara dapat dikenalkan melalui struktur keluarga, Ayah dan Ibu sebagai guru Aksara dapat mengenalkan pada anaknya bagaimana pentingnya Aksara, pada posisi ini Aksara tidak hanya bentuk tanda melainkan bunyi, tetapi lambat laun apabila bunyi diwujudkan menjadi tanda akan berubah menjadi susunan Aksara, dan inilah awal dari mengelan Aksara.

Perhatian lain dalam mengenalkan Aksara dapat diwujudkan melalui intitusi sekolah, kemunculan PAUD, Taman Kanak Kanak (TK) dan taman belajar masyarakat (TBM) menjadi daya gerak dari mewujudkan peradaban melalui Aksara apalagi Era Digital menjadi perhatian banyak orang dan banyak di kenalkan pada intitusi tersebut. Selamat mengenalkan Aksara wujudkan peradaban masa depan.


E. Mulya Syamsul, Dosen: FAI Universitas Majalengka

Ikuti Lintasan Berita via socmed:

FB: REDAKSI TINTAHIJAU
Twitter: @TINTAHIJAUcom
Instagram: @TINTAHIJAUcom
Line: @TINTAHIJAU

 

 


Banner Kanan 1
Banner Kanan 2

Twitter Update

Pesawat Cesna Jatuh di Sungai Cimanuk Indramayu, 1 Orang Belum Ditemukan https://t.co/oTIHOIdWeD
Polisi Ungkap Penyebab Mobil Terbakar yang Tewaskan 5 Orang di Tol Cipali Majalengka https://t.co/aSAmO6REQs
21 Tahun Tanpa Kabar, TKI asal Cirebon Akhirnya Kumpul Bersama Keluarga https://t.co/63rzkjocRG
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page