FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Refleksi Tahun Baru Menuju Pribadi Yang Lebih Baik

Tinggal menuju hitungan jam lagi manusia penghuni jagat raya ini akan menyambut tahun baru 2019 dan mengakhiri tahun 2018. Ini merupakan fenomena fitrah yang Allah ciptakan, sejatinya pergantian tahun ini mengisyaratkan bahwa umur dunia ini berkurang termasuk umur manusia itu juga berkurang, artinya jatah hidup manusia menghuni alam semesta ini ada masa nya.

Berbagai rencana aksi dan sederet agenda sudah di rancang oleh setiap anak adam baik sebagai manusia individu bahkan secara kelompok, komunitas atau secara kelembagaan swasta dan pemerintah, mengingat bahwa tanggal 1 Januari 2019 merupakan tanggal merah (hari libur) beretepatan hari selasa dan tidak sedikit pegawai yang mengambil cuti satu sehari sebelumnya sehingga di jadikan long weekend.

Ragam manusia dalam rangka menyambut tahun baru setiap tahunnya berbeda-beda, ada yang menyalakan lilin, petasan, merecon, pawai dan lain sebagainya. Itu adalah realita yang masih ada pada masyarakat kita, tetapi tidak sedikit baik secara personal ataupun kelembagaan bahwa tahun baru ini dijadikan momentum refleksi dan evaluasi sehingga kegiatannya lebih kepada hal yang positif berupa dzikir dan istighosah bersama di masjid- masjid.

Seperti hal nya beberapa edaran pemerintah di beberapa kota/kabupaten. Gubernur jawa barat misalnya menghimbau tidak merayakan tahun baru secara berlebihan.

Dia mengajak masyarakat untuk merenung di tengah banyaknya bencana alam yang menimpa beberapa wilayah di Indonesia. Tahun baru ini banyak bencana ya, banyak musibah tahun ini (di Indonesia). Tsunami di tiga lokasi, jadi saya mengimbau masyarakat Jawa Barat kurangi perayaan yang terlalu rame-rame," katanya, di Gedung DPRD Jabar, Jumat (28/12/2018)

Pemerintah kabupaten subang mengajak dan menghimbau dalam mengisi tahun baru untuk menghadiri acara dzikir dan istighosah bersama di masjid.

Wakil Bupati Subang Agus Maskur Rosyadi mengajak warga untuk istighasah dan doa bersama pada malam pergantian tahun baru.

Dia memastikan, pada malam tahun baru nanti, tidak ada pesta atau kegiatan hura-hura. Pemkab, kata Agus, akan menggelar istighasah dan doa bersama dengan Forkpimda dan masyarakat.

"Pada malam tahun baru kita akan istighasah, dzikir dan doa bersama dengan Forkopimda dan semua elemen masyarakat. Tidak ada acara pesta atau hura-hura," kata Agus Masykur.

Kegiatan ini jauh lebih baik daripada sekedar hura-hura, menghamburkan uang terlebih di isi dengan hal-hal yang menjurus negatif.

Menjadi lebih baik

Ada sebuah Hadits masyhur sekalipun menurut beberapa pendapat termasuk hadist dhoif

Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.

Secara substansi bahwa manusia harus lebih baik setiap harinya baik di ukur minggu, bulan bahkan tahun. Karena pada akhirnya Allah akan memberi batas manusia berbuat baik dengan di di akhiri sebuah kematian.

Kesempatan ini harus di optimalkan sebaik mungkin karena belum tentu umur kita bisa sampai pada tahun yang akan datang. Ada sebuah ungkapan yang mana beberapa ulama mengatakan bukan sebuah hadits

Beramallah (bekerjalah) untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok

Untuk menjadi pribadi lebih baik tidak harus menunggu tahun baru melainkan setiap kita melakukan kesalahan, maksiat dan dosa langsung segera bertobat, sejatinya lebih sering menghitung berapa banyak kesalahan, dosa yang telah di perbuat dibanding sibuk menghitung kebaikan yang telah di perbuat yang di khawatirkan berujung kepada riya dan sum’ah. Lebih baik dimensi nya banyak lebih baik dari segi ibadah, akhlaq, ekonomi dan yang lainnya. Selama hal-hal tersebut mengarah kepada kebaikan maka itu sebuah keniscayaan.

Lebih baik bukan hanya cukup secara individu melainkan melibatkan banyak yang terlibat secara komunal, baik berupa teritorial dalam kehidupan bangsa dan negara. Kita menyaksikan sendiri di tahun 2018 ini musibah di mana-mana, kondisi ekonomi yang tidak sedikit masih belum hidup layak, fenomena sosial yang seolah terkotak-kotak ke dalam kubu-kubu kepentingan karena mengingat tahun ini adalah tahun politik.

Di tahun 2019 kita akan menghadapi pemilihan legislatif dan presiden semoga siapapun yang terpilih dan menjadi pemenang dapat memberikan dampak yang signifikan bagi rakyat Indonesia, kontestasi hanyalah alat untuk menuju sebuah tujuan, persatuan dan persaudaraan jauh lebih penting.

Kita harus objektif menilai diri sendiri dan lembaga atau pemerintah ketika ada sisi kebaikan, maka semoga ini bisa di pertahankan, dan ketika ada sisi kelemahan atau keburukan, secepatnya di carikan solusi dan semoga tahun depan tidak terulang lagi.

Pada akirnya kita bisa berkomitmen bersama untuk bisa menjadi pribadi lebih baik, baik bagi diri kita, untuk orang lain dan untuk kehidupan bergama  dan berbangsa. Tidak salah ketika ada orang menginginkan dan menetapkan resolusi tahun 2019 ingin ini,ingin itu, selama hal itu wajar dan memberikan dampak perubahan ke arah yang lebih baik.Tetapi lebih baik memperbanyak refkeksi di banding membuat resolusi, tentu semua itu harus dilakukan secara proporsional.

Wallahu ‘ alam Bishowab


Feri Rustandi, S.Pd., MM, Penulis adalah Pengurus Masyarakt Ekonomi Syariah (MES) Subang


Banner Kanan 1

Twitter Update

Bahagia adalah pilihan, bukan hasil. Tidak ada yang akan membuat dirimu bahagia sampai kau betul-betul memilih untu… https://t.co/TiaTHQHFd2
Membahagiakn Istri, Rezeki Suami Mengalir Tanpa Henti https://t.co/bHGOEx5xCl
Sisi lain keindahan Subang https://t.co/YWAVpsADiy
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page