Ngamumule Bahasa Indung (Ibu)

Salah sahiji amanat UNIESCO di tahun 1999 netepkeun tanggal 21 Februari jadi poe bahasa Ibu sa alam dunya kaasup Bahasa Sunda di jerona.

Tulisan ini akan mengangkat pentingnya keluarga dalam melestarikan bahasa Ibu sebagai bahasa asli yang setiap waktu kian tidak jelas, karena hilang dari para penuturnya. Penulis kebetulan orang asli Sunda yang dilahirkan dan di besarkan di Sunda, walaupun tidak faham betul tetapi ada hikmah yang hilang dalam tidak di tuturkannya bahasa sunda pada kegiatan sehari-hari.

Upaya pelestarian bahasa Ibu telah ditetapkan melalui peraturan Gubernur (pergub) nomor 69 tahun 2013 tentang pelaksanaan pelajaran Bahasa Sunda tingkat SMA serta peraturan pemerintah nomor 14 tahun 2014 tentang pelestarian Aksara dan Bahasa Daerah. Dengan intrumen tersebut wajib pada setiap masyarakat menggunakan untuk melestarikan bahasa Ibu yang berkembang didalamnya, bahasa Sunda yang merupakan bahasa Ibu bagi Suku Sunda dalam kesehariannya perlu mendapatkan tempat dan cara tutur yang baik di setiap kesempatan, ini dilakukan agar generasi milinial terbiasa dengan bahasa Ibunya sendiri, mereka tidak asing dan bahkan mereka tidak kenal dengan bagasa Ibunya sendiri.

Berbagai upaya pelestarian bahasa Ibu terus di upayakan, kesadaran masyarakat menjadi poin utama dalam implementasinya, Bahasa bisa dilakukan oleh orang apabila di tuturkan, apabila hilang dari penuturan maka bahasa itu akan punah dengan sendirinya. Sehingga upaya terbaik dalam pelestarian adalan penuturan bahasa yang dilakukan setiap saat, setiap kesempatan dan bahkan setiap hubungan social.

Selain factor penuturan bahasa yang dianggap dapat melestarikannya, salah satu factor lagi adalah keluarga. Pendidikan bahasa dapat dimulai dari keluarga, baik bahasa santun, sopan dan bahasa radikal (tidak beradab), cernaan bahasa keluarga menjadi gambaran utama dalam melestarikan bahas Ibunya, dalam keluarga bahasa menjadi factor utama untuk menjalin dan memahami sisilain dari anggota keluarga, penuturan bahasa yang baik atau sopan akan berdampak pada keluarga baik dan penuturan bahasa yang buruk atau kasar akan menghasilkan cerminan keluarga yang tidak baik.

Hilangnya penuturan bahasa Ibu dalam keluarga akan membawa dampak pada hilangnya bahasa ibu di tengah masyarakat, hal ini yang menyebabkan 11 bahasa punah, 4 bahasa bersetatus kritis, dan 19 terancam punah. Data ini disampaikan oleh kbr.id, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui kesempatan ini Kemendikbud melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sudah mengidentifikasi 652 bahasa daerah, dari 652 itu bahasa tersebar di seantero Nusantara dan ini menjadi bagian kekayaan suatu bangsa.

Conto pinutur basa Indung (Bahasa Sunda):

“Ti zaman baheula nepi ka zaman ayena lamun urang hayang apal yen eta jalma the urang Sunda tangtu urang bisa nitenan tina cara manehna ngomong jeng milaku laku lampahna, urang Suda bakal bisa moyan dina hiji riungan sabab lentong basana bisa ngebrehkeun niatna, eta diantarana pangakuan urang deungun ka urang urang Sunda”.  Apabila di bahasakan dengan bahasa Indonesia maka akan menjadi “Dari zaman dulu sampai sekarang apabila kita ingin tahu orang Sunda maka dapat dilihat dari cara meraka bicara dan melakukan kegiatannya, orang Sunda akan terlihat dalam perkumpulan dikarenakan tutur bicaranya dapat memberikan gambaran niatnya, hal itu diakui oleh orang lain diluar orang Sunda”.

Bagi saya orang Sunda, penuturan bahasa sunda sudah dibangun sejak dari keluarga, orang tua bicara dengan bahasa Sunda dan bahkan dalam menegur itu dengan bahasa Sunda. Hal yang telah hilang dan lenyap dari peredaran Bahasa Sudan ketika memberikan terguran adalah “pamali”. Kata kita tidaklah di mengerti tetapi memberikan pesan yang sangat mendalam untuk tidak dilakukan dengan tanpa alasan apapun. Kata “pamali” sudah tidak didengar lagi dari penuturan-penuturan saat sekarang ini, kemulyaan “pamali” apabila diucapkan oleh orang yang lebih tua pada yang lebih muda akan memberikan pesan memaksa atau dalam bahasa agama adalah “nahyi” larangan untuk tidak melakukan, larangan untuk meninggalkan, dan itulah “pamali” didalamnya.

Selain “pamali” banyak kata tutur lainnya yang sudah tidak didengarlagi pada saat sekarang ini, terlebih zaman ini dikenal dengan zaman milinial yang eksistensi bahasa daerah berada dipersimpangan jalan, kepedulian masyarakat asli Sunda sangat dipertaruhkan, pemupukan bahasa tutur dari keluarga menjadi gerbang pertama untuk mengeksiskan kembali bahasa Ibu kita, semoga keluaga kecil Jawa Barat kembali pada tutur Ibunya.

*E. Mulya Syamsul, Penulis adalah Dosen FAI Universitas Majalengka
 


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom
YouTube: TINTAHIJAU Channel









TINTAHIJAU CHANNEL
Banner Kanan 2
Banner Kanan 1

Twitter Update

Jamu Askot Bandung, Wabup Beri Dukungan untuk Persikas Subang https://t.co/bvZ4a6L1M7
Ahla Ilfatulghina, Qoriah Cilik dari Kabupaten Majalengka. Prestasi pertamanya di Juara I pada MTQ tingkat Kabupate… https://t.co/JlHe7MKlnq
Fraksi NasDem DPRD Subang Ingatkan Pejabat Selaraskan Program dengan Subang Jawara https://t.co/7ofoS7OyfK
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page