Cukup Berhenti di Kamu, Audrey...

Di sela riuhnya ajang kampanye pemilu, muncul kabar tak menyenangkan terkait kasus penganiayaan seorang siswi SMP oleh beberapa siswi SMA. Tagar menuntut keadilan pun dibuat di sosial media hingga berhasil menjadi trending topik dunia. Tak hanya itu, petisi daring pun dibuat sebagai bentuk dukungan terhadap korban. Selain dari dunia maya, dukungan pun dilakukan secara langsung dengan menemui korban di rumah sakit.

Pejabat bahkan artis ikut memberikan dukungannya baik secara moral maupun materiil. Namun, ada hal yang membuat hati saya kecut. Tak sedikit dari mereka menyatakan menolak bahkan menghujat aksi perundungan tapi akhirnya toh mereka sendiri melakukannya. Bisakah perundungan itu cukup berhenti di kamu?

Saya pribadi tentu sangat menyayangkan, sedih, bahkan marah dengan apa yang dialami korban. Siapa yang tak marah jika saudara, teman, atau siapapun dari diri kita dianiaya seperti itu. Namun, mengutuk kejahatan dengan sebuah kejahatan pun bukan sesuatu yang elok. Terlebih, hal tersebut dilakukan di media sosial yang nota bene dapat dilihat oleh banyak orang termasuk anak-anak. Tentu tak indah, jika anak kita melihat postingan sumpah serapah kita. Tentu tak lucu jika anak atau murid kita bertanya dengan polosnya, "katanya gak boleh marah? Katanya pemarah temannya setan? Katanya kita harus berkata baik?" dan sebagainya.

Jangan sampai perundungan yang kita benci dan hujat justru kita balas dengan perundungan yang lebih dahsyat. Beberapa orang mungkin membenarkan hal tersebut dengan alasan memberikan sanksi sosial kepada para pelaku. Tapi apa benar jika sampai meneror, membuat cerita bohong, atau bahkan mengancam untuk dibunuh cukup disebut sanksi sosial? Siapa pula kita memberikan hukuman yang bahkan belum tahu dengan jelas duduk perkaranya seperti apa. Bahkan kita harus waspada, jangan sampai ingin hati menghukum pelaku eh malah kita ikut dituntut atas apa yang kita lakukan. Ingat, tak sedikit kasus perundungan melalui media sosial diperkarakan.

Beberapa ahli menyampaikan bahwa pelaku perundungan awalnya merupakan korban perundungan. Mereka mendapat "virus" perundungan dari orang-orang sekitarnya--bahkan sangat mungkin orang-orang terdekatnya. Mereka menjadi maklum dengan perundungan hingga mengatakan dengan polos, "aku juga digituin kok."

Maka, virus itu terus menyebar mencari korban. Korban menjadi pelaku, pelaku mencari korban, dan seterusnya. Jika memang kita membenci perundungan maka cukuplah berhenti di kamu. Jangan sampai perundungan melahirkan perundungan yang terus beruntun menjadi lingkaran setan.

Justru, yang harus kita lakukan adalah membuat lingkungan ramah mental. Lingkungan yang membangun percaya diri bukan menjatuhkannya. Lingkungan yang mengapresiasi sekecil apapun prestasi bukan yang meremehkannya. Lingkungan yang lebih mengedepankan kolaborasi bukan kompetisi bahkan pertikaian. Tak perlu menuntut orang lain untuk memulainya, mulai saja darimu, ya kamu pun saya.

Fadillah Tri Aulia, Penulis adalah pendidik asal Subang

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom
YouTube: TINTAHIJAU Channel


Banner Kanan 1
Banner Kanan 2

Twitter Update

Remisi Kemerdekaan, Puluhan Napi di Subang Hirup Udara Bebas https://t.co/5LPilaLKer
[OPINI] Refleksi Kemerdekaan, Melepas Ketergantungan Dari Jeratan Bank Keliling https://t.co/eew7j0Oq4S
Shelsi dan Syakira, Dua Mojang Cantik Pembawa Baki Bendera Merah Putih di Majalengka https://t.co/q2svcGFcKh
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page