[OPINI] Tiga Pilar Kunci Sukses Pendidikan

Pernahkah kita membaca atau mendengar kisah bagaimana warga Indonesia yang terbiasa membuang sampah dan menyebrang jalan di sembarang  tempat tiba-tiba menjadi begitu disiplin dan taat peraturan pada saat tinggal di negara-negara yang terkenal dengan penegakan hukum dan tingkat kedisplinan yang tinggi? Kejadian yang sebaliknya terjadi di sejumlah daerah yang dikunjungi oleh warga negara asing dimaksud yang ternyata pada saat tinggal di Indonesia berprilaku tidak mencerminkan kehidupan mereka sehari-hari di negara mereka berasal. Membuang sampah sembarangan dan mengabaikan peraturan menjadi kebiasaan yang lazim dilakukan dengan sejumlah alasan.

Pun itulah yang terjadi dengan siswa kita yang terbiasa tertib dan berdisiplin di sekolah namun ketika di luar area sekolah, kita mendapati mereka seperti bukan siswa yang kita kenal. Fenomena ini akan menjadi bahasan yang menarik jika kita cermat dan bersedia membuka fikiran sekaligus juga sebagai area mereflesikan makna pendidikan bukan hanya dari sudut pandang dari sebelah sisi saja.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pendidikan berasal dari kata  didik yang bermakna memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sementara pendidikan menurut KBBI adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Yang perlu kita garis bawahi adalah kata “proses” pengubahan sikap dan tata laku membutuhkan waktu dimana didalamnya melibatkan pilar atau pondasi yang mempengaruhi keberhasilan dari proses yang dimaksud.

Ada tiga pilar yang merupakan pondasi utama dari pendidikan yaitu: keluarga, sekolah dan pemerintah. Keluarga adalah “madrasah/sekolah pertama dari para siswa”. Sosok anggota keluarga yang terdiri ayah, ibu dan saudara kandung adalah sosok istimewa bukan karena sedikit dalam bilangan angka namun juga karena memiliki intensitas pertemuan yang porsinya lebih banyak. Dari anggota keluarga, para siswa belajar pertama kali bagaimana bersosialisasi dan berprilaku. Sikap yang ditunjukan siswa dalam keseharian adalah proses interaksi dominan sikap anggota keluarga mereka.

Pilar kedua adalah sekolah yang selama ini dipahami sebagai “bengkel” siswa. Sekolah dipercaya mampu menyelesaikan permasalahan siswa karena memiliki legalitas dan sistem resmi yang di dukung oleh kemampuan mumpuni dari para guru yang berpendidikan tinggi. Pemahaman seperti ini mau tidak mau seolah mengurangi peran serta orang tua dalam mendidik putra/putrinya. Masih banyak orang tua yang saat memasukan putra/putriya berharap terlalu banyak pada pihak sekolah sehingga lupa peran serta utama mereka dalam proses mendidik di rumah.

Pilar ketiga adalah pemerintah yang memiliki tanggungjawab untuk menentukan regulasi yang mendukung dunia pendidikan. Patut diingat bahwa pemerintah memegang peran penting dalam menciptakan atmosfer dunia pendidikan yang mendidik di dalam maupun di luar sekolah. Selama ini pemerintah seolah hanya berfokus pada proses pendidikan di dalam lingkungan sekolah padahal di zaman yang serba digital dengan kecepatan informasi yang tidak terbatas, siswa akan sangat mudah terpapar oleh informasi yang kurang mendidik. Tayangan televise dan tontonan online di tengarai memberikan andil dalam proses pembentukan karakter siswa.

Ketiga pilar yang dimaksud memiliki mekanisme proses mendidik yang khas dan membutuhkan waktu. Ketiganya saling berhubungan dan tidak mungkin di nafikan.

Menjawab pertanyaan mampukah proses pendidikan menghianati hasil? Jawabannya akan kembali kepada berapa banyak prosentase keterlibatan keluarga, sekolah dan pemerintah dalam upaya membentuk siswa. Siswa yang bermula dari keluarga dengan nilai karakter baik akan berbaur dengan rekan sebaya dengan aneka nilai yang dianut yang sangat mungkin sama atau bahkan bertolak belakang di sekolah.

Dalam prosesnya akan terjadi aktivitas saling pengaruh-mempengaruhi. Individu yang dominan akan lebih banyak memberikan pengaruh. Lewat sistem yang dibangun sekolah, pendidikan diarahkan untuk memperkuat nilai positif dari masing-masing individu. Kemudian, selepas sekolah saat siswa berbaur dengan masyarakat umum, proses interaksi yang sama akan berjalan namun tentunya lebih menantang. Lingkungan terbentuk dari seumlah perbedaan .Akan sia-sia jika kemudian siswa yang terbiasa dilatih disiplin tinggi dan bertutur kata santun dalam sistem akademis namun selepas pulang sekolah dan kembali ke lingkungan sosial masyarakat siswa menemukan hal yang keterbalikannya. Hal yang sama akan berlaku pada kasus-kasus yang hampir sama.

Solusi dari pertanyaan diatas adalah bagaimana upaya kita bersama sebagai pilar utama pendidikan yang berasal dari keluarga, sekolah dan pemerintah bersinergi tanpa putus untuk mewujudkan karakter baik bagi siswa sehingga hasil yang didapat adalah benar tercermin dari proses berkelanjutan yang dilakukan. Pada akhirnya, proses tidak akan pernah ingkar dari hasil.

Marni Hartati, Penulis adalah  Guru SMAN 1 Subang

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom
YouTube: TINTAHIJAU Channel


Banner Kanan 1
Banner Kanan 2

Twitter Update

Baby Crab, Kuliner Seafood Keluarga di Subang Kota https://t.co/L1s0oV1Hgf https://t.co/4ltmFTfFAc
Investor dari Singapura Lirik Potensi Wisata di Sumedang https://t.co/4Z2RRL1MXo
Akhiri KNM di Desa Sukasari, Mahasiswa Universitas Majalengka Gelar Seminar Digitalpreneur https://t.co/8NPcuCDVmB
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page