[OPINI] Balada Pedasnya Harga Cabai

Cabai selain rasanya yang pedas akhir akhir ini harganya pun sangat pedas di kantong. Komoditas yang menjadi salah satu pelengkap makanan ini nampaknya harus libur dan dikurangi didapur dikarenakan harganya yang dua kali lipat lebih mahal. Harga komoditi sayuran dipasar tradisional daerah Pantura subang mengalami kenaikan dari harga 30 ribu per kilo ganti harga menjadi 60 ribu per kilo (3/7/2019)

Selain cabai komoditas sayurpun ikut naik seperti toge yang sebelumnya 23 ribu per kilo naik menjadi 25 ribu perkilo,kacang tanah yang sebelumnya 22 ribu menjadi 25 ribu per kilo dan jengkol yang tadinya 15 ribu perkilo menjadi 30 ribu per kilonya.

Pedagang sayuran Hotib mengatakan kenaikan harga sayur mayur terjadi semenjak sepekan kemarin.Hotib mengatakan "ini semenjak musim kemarau dan akibat lambanya pengiriman petani ". Semenjak sepekan ini pembeli mulai sepi mereka yang biasa membeli cabe satu dan dua kilo sekali beli,saat ini mereka hanya membeli setengah kilo,adanya penurunan pembeli kata Hotib pada Tintahijau.com

Naiknya harga cabai juga berdampak pada usaha lainnya,seperti pedagang nasi Siti (42) mengaku usahanya itu mengurangi cabai setelah mengalami kenaikan harga,dengan adanya pengurangan bumbu masakan membuat pelanggannya kurang puas dengan cita rasa masakannya.kara Siti (42) kepada Tintahijau.com

Maka sudah jelaslah pemerintah dengan sisstem kapitalisme tidak bisa menyelesaikan permasalahan penstabilan harga harga komoditas dipasar.

Sebagai agama yg sempurna Islam menjamin terlaksananya sistem mekanisme pasar yang baik, kita dapat belajar dari Rasul SAW yang pada saat itu sudah sangat konsen terhadap persoalan akurasi data produksi. Beliau mengangkat Hudzaifah ibn al-Yaman sebagai katib untuk mencatat hasil produksi Khaybar dan hasil produksi pertanian. Sementara itu, kebijakan pengendalian harga dilakukan melalui mekanisme pasar dengan mengendalikan supply and demand bukan dengan kebijakan pematokan harga.

Praktek pengendalian suplai pernah dicontohkan oleh Umar bin al-Khaththab ra. Pada waktu tahun paceklik dan Hijaz dilanda kekeringan, Umar bin al-Khaththab ra menulis surat kepada walinya di Mesir Amru bin al–‘Ash tentang kondisi pangan di Madinah dan memerintahkannya untuk mengirimkan pasokan. Lalu Amru membalas surat tersebut, “saya akan mengirimkan unta-unta yang penuh muatan bahan makanan, yang “kepalanya” ada di hadapan Anda (di Madinah) dan dan ekornya masih di hadapan saya (Mesir) dan aku lagi mencari jalan untuk mengangkutnya dari laut”.

Santika Andriyani, Pengajar TK di Subang


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIAJUcom
Youtube: TINTAHIJAU Channel


Banner Kanan 1
Banner Kanan 2

Twitter Update

Baby Crab, Kuliner Seafood Keluarga di Subang Kota https://t.co/L1s0oV1Hgf https://t.co/4ltmFTfFAc
Investor dari Singapura Lirik Potensi Wisata di Sumedang https://t.co/4Z2RRL1MXo
Akhiri KNM di Desa Sukasari, Mahasiswa Universitas Majalengka Gelar Seminar Digitalpreneur https://t.co/8NPcuCDVmB
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page