FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Kado HUT ke-74 RI: Memeron, Nasionalisme Anti Kemapanan Penangkal Radikalisme

Agustusan, begitulah kami masyarakat utara Jawa Barat menyebutnya untuk perhelatan akbar perayaan hari kemerdekaan negara ini, Kata agustusan merujuk pada bulan dimana sang dwi tunggal proklamator, Soekarno-Hatta, men-declaire kemerdekaan Indonesia. Sebuah bulan yang menjadi keramat dan di dalamnya dipenuhi luapan syukur atas keinginan yang beratus tahun para pendahulu kita impi-impikan.

Kenapa di sebut nama bulannya, yakni agustus,  padahal peristiwa bersejarah itu dilaksanakan hanya satu hari, di tanggal 17 bulan itu. Ya, memang seperti hendak membuat hajatan yang besar. Jauh sebelumnya, hampir di awal agustus semua elemen masyarakat mulai bahu membahu saling melengkapi dengan potensi yang dimiliki  mempersiapkan event tahunan itu, salah satunya mempersiapkan “memeron” yang akan di tamplikan pada hari H peringatan kemerdekaan RI.

Memeron adalah istilah bahasa sunda untuk patung-patung ikonik dan kendaraan hias simbolik yang di buat oleh masyarakat dan kemudian diarak dalam karnaval di perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Adapun ikon dan simbol itu bisa berupa kendaraan zaman perang, simbol-simbol kenegaraan, parodi profesi, binatang dan miniatur interaksi manusia di dalam masyarakat pedesaan.

Sebagai barang yang wajib ada pagelaran karnaval Memeron menjadi momen yang ditunggu-tunggu di dalam perayaan ini. Apakah ini simbol dari eforia kegembiraan menyambut kemerdekaan dengan segala variasi maknanya, atau hanya sebatas ewuh pakewuh yang mensyiratkan kebersamaan masyarakat dalam mengaktualisasikan potensi yang ada?. Sebagai penikmat, kami memandang bahwa memeron ini menjadi semacam karya seni monumental yang punya arti tersendiri bagi masyarakat di daerah kami. Di dalamnya terdapat percikan inspirasi dalam bentuk imajinasi, ruang untuk aktualisasi diri sampai konspirasi ide dari dinamika sosial yang ada di lingkungan komunitas masyakarat.

Di masyarakat kami, memeron hanya hadir di event agustusan, tidak akan dijumpai pada event selainnya. Padahal kalau melihat perjalanan satu tahun kalender, sudah menjadi adat yang dikukuhkan dalam hukum tak tersurat, masyarakat kami menggelar puluhan event dengan perayaan serupa. Baik yang menjadi agenda nasional dengan keterkaitan sejarah bangsa ini atau perayaan yang memperingati pemaknaan peristiwa bersejarah dalam dimensi religius masing-masing pemeluknya.

Memeron dan Nasionalisme
Masyarakat kami mengenal dan membuat memeron secara turun temurun, tidak ada ruang kelas khusus untuk mengajarkannya, tidak ada dasar hukum tertentu yang mengamanatkannya dan tidak pula ada fatsoen dalam pembuatannya. Yang bisa dijadikan benang merah dari generasi ke generasi adalah usaha untuk mencipta kegembiraan atas hadirnya kemerdekaan bagi bangsa ini, luapan itu di tandai dengan beragam atribut simbol-simbol negara dipampang di sekeliling memeron. Ini merupakan pencerminan dari bentuk  kecintaan masyarakat akan bangsanya sebagai perlambang rasa nasionalisme.

Kalau di lihat dari definisinya, makna nasionalisme di urai sebagai paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan tau cita-cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan nasional, dan nasionalisme juga bisa berarti rasa ingin mempertahankan negaranya, baik dari internal maupun eksternal.

Ya, simbol-simbol kenegaraan dan kebangsaaan yang terpampang pada memeron itu bahasa sederhana dari nasionalisme masyarakat kami, wujud dari kecintaan dan keinginan akan keberlangsungan eksistensi negara ini di pentas hiruk pikuk negara-negara dunia. Tanpa mereduksi makna agung dari kata nasionalisme dan aplikasinya, pembuatan memeron meniscayakan akumulasi dari rasa kebanggaan, rasa kecintaan dan rasa memiliki akan negara para pembuatnya.

Bagaimana tidak disebut simbolisasi dari nasionalisme, dominan di kalangan masyarakat,  memeron telah menjelma sebagai kristalisasi dari keinginan masyarakat atas terciptanya cita-cita para pendiri bangsa ini, disematkannya simbol-simbol dari perjuangan merebut kemerdekaan yang berdarah-darah, perlambang atas konsistensi bangsa ini dalam mempertahankan kemerdekaan, dan simbol generasi para pengisi kemerdekaan hingga masa sekarang ini.

Dengan menguak sejarah, memeron menjadi sarana pembelajaran dari generasi ke generasi, bahwa kemerdekaan negara ini tidaklah hasil dari pemberian orang lain, tidak pula di dapat dari transaksi barter dengan kepentingan negara lain. Tapi melalui memeron generasi tua ingin mengingatkan kembali kepada generasi muda akan jerih payah perjuangan moyangnya terdahulu dalam membebaskan negara dan bangsa ini dari belenggu kolonialisme. Sehingga dalam lintasan masa berikutnya, tidak akan lagi mengalami pembelengguan dalam bentuk dan dengan dalih apapun.

Sayangnya, kalau melihat kondisi saat ini, nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia akhir-akhir ini sedang diuji. Sedikit demi sedikit nasionalisme warga bangsa mulai pudar, terlebih kurang tertanamnya rasa tersebut pada generasi muda milenial saat ini. Disadari atau tidak oleh kita yang hadir pada pertautan dua generasi beda zaman, tingkat rasa nasinalisme anatara generasi muda hari ini, yang sering disebut Gen Z, dengan generasi muda Indonesia di masa lalu begitu jauh. Bisa dibilang bagaikan langit dan bumi, sebuah jarak yang sulit untuk dihitung.

Padahal kalau kita menelaah lebih jauh, nasionalisme itu prasyarat wajib bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini dikarenakan dengan tumbuhnya rasa nasionalisme diharapkan mampu membentuk kedasaran bagi seluruh rakyat di sebuah negara untuk memiliki sikap setia kepada negera mereka.

Pelestarian pembuatan dan karnaval memeron tiap agustusan ini menjadi harapan tetap tumbuh kembangnya rasa nasionalisme di gerenasi muda saat ini, bak oase di tengah tandusnya gurun sahara. Hal ini seirama dengan ragam usaha-usaha yang dilakukan untuk tujuan di atas.

Kami melihat setidaknya ada tiga usaha yang dilakukan dalam hubungannya antara pelestarian memeron dan tumbuhnya nasionalisme. Pertama: refleksi sejarah, dengan mengungkap kembali peristiwa-peristiwa pada masa perebutan kemerdekaan yang di gambarkan lewat memeron, seolah ingin mengingatkan akan nilai-nalai perjuangan para pendulu dan mewariskannya dalam bentuk nyata mempertahankan keutuhan negara ini.

Kedua, Pendidikan Kewarganegaraan, melalui memeron masyarakat tercerahkan akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Sehingga kemudian mengaktualiasikannya melalui ragam profesi dan kewenangan yang dimilikinya.
Ketiga, Mengenalkan ragam budaya bangsa dan menumbuhkan kecintaan akan produk hasil dalam negeri, melalui memeron dihapakan tumbuh kembang rasa kecintaan dan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia yang memiliki ragam budaya dan kekayaan sumberdaya Alam yang melimpah.  

Memeron dan nasionalise anti kemapanan
Dari segi bentuknya, memeron terlihat jelas bukanlah barang yang mewah, bukan juga di buat dari bahan-bahan yang dibeli dengan harga mahal di toko-toko neo kapitalisme, yang kian menjamur seolah mengikis lapak-lapak rakyat seperti ombak yang merobohkan bangunan yang terbuat dari pasir pantai. Memeron tidaklah juga merupakan karya seni bernilai jual tinggi yang masuk ke dalam jenis yang bisa di pamerkan lalu di adakan lelang atasnya.

Lagi-lagi memeron dalam diamnya menyampaikan salam kesederhanaan kepada para penikmatnya, salam yang disampaikan dengan penuh kesantuan dalam balutan kearifan lokal yang mendominasi di masing-masing daerah. Pembuatannya dari bahan-bahan seadanya, mengisyaratkan kesederhanaan sebagai wujud kesahajaan atas penerimaan keadaan (nrimo ing pagdum), bukan hanya menerima tapi juga mensyukuri apa yang sudah di berikan Tuhan terhadapnya. Dalam dimensi kederhanaan, memeron bisa juga merupakan sebuah eksistensi yang mengajarkan akan keharusan mengerti arti situasi yang di hadapi, dengan memeron para tetua sedang membingkai sebuah bahan ajar kehidupan dengan tema sederhana tapi penuh makna.

Memeron penangkal radikalisme
Membahas radikalisme sama dengan membahas menu makanan, setiap waktu ada menu makanan baru dan begitu pula setiap waktu ada wacana baru tentang radikalisme. Perkembangan wacana radikalisme seiring dengan berkembangnya jenis usaha dan kegiatan yang terinspirasi dari teori radikalisme.

Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa radikalisme adalah suatu faham yang menginginkan sebuah perubahan atau pembaruan dengan cara drastis hingga ke titik paling akar. Bahkan, untuk mencapainya melibatkan banyak cara hingga paling ekstrem: kekerasan baik simbolik maupun fisik yang sering ditandai dengan kebenaran ideologi yang diyakininya lebih unggul dan menyalahkan yang lain.

Pasca reformasi yang ditandai dengan terbukanya kran demokratisasi telah menjadi lahan subur kelompok-kelompok radikal, baik mengatasnamakan keyakinan maupun golongan. Radikalisme yang berujung pada terorisme menjadi masalah penting bagi bangsa Indonesia, penyebaran berita bohong dan terbiasanya masyarakat dengan ujaran kebencian terhadap simbol-simbol negara, isu-isu tersebut bisa menyebabkan negara ini di cap sebagai negara dengan tingkat teror yang cukup tinggi dan bangsa yang dianggap menyukai kekerasan, sehingga pada keadaan tertentu bisa menyebabkan hilangnya nasionalisme sampai ancaman  disintegrasi bangsa.

Hal ini jelas mengganggu keberlangsungan pewarisan nilai-nilai nasionalisme antar generasi. Generasi sebelumnya tidak berdaya untuk mengajarkan makna dan membiasakan sikap nasionalisme ke generasi setelahnya. Kesalingpercayaan antar generasi seolah terberangus oleh begitu mudah dan bebasnya komunikasi melalui jejaring media sosial yang menjadi trend setter generasi saat ini. Runtuhnya nilai-nilai ini menyebabkan sulitnya nasionalisme untuk bertumbuh dan berkembang.

Melalui partisifasi masyarakat dalam pembuatan memeron mengajarkan kepada kita, langkah-langkah dalam memaknai sumbangsih kita kepada bangsa dan negara. Terutama dalam menjungjung rasa empati kita terhadap sesama dan bersahaja dalam setiap peran kita guna menjaga keutuhan negara tercinta ini.

Dalam hal ini, memeron menjelma sebagai pengejewantahan dari Pancasila dengan butir-butir moral yang terkandung di dalamnya, dalam perannya sebagai penjelmaan falsafah bangsa, memeron kerap menampilkan pesan moral yang realistis karena berpijak pada proses perjalanan sejarah pembentukan negara itu sendiri.
Peran memeron sebagai media budaya dalam usaha membumikan pancasila di masyarakat, terlihat selalu dibutuhkankan dalam menumpas radikalisme di Indonesia. Peran Pancasila sebagai ideologi berarti suatu pemikiran yang memuat pandangan dasar dan cita-cita mengenai sejarah manusia masyaraat dan negara Indonesia yang bersumber dari kebudayaan bangsa kita.

Pesan nasionalisme Memeron menjadi sangat penting, dikala rasa nasionalisme anak bangsa terus di kikis dengan usaha-usaha radikalisme dari kelompok tidak beranggungjwab, dan di kala ideologi bangsa ini dirongrong oleh gerakan-gerakan transnasional yang mengatasnamakan kelompok dan ajaran tertentu. Dengan terus melestarikan memeron dalam agustusan diharapkan generasi mendatang bisa siap sedia dalam menjaga keutuhan NKRI, tentu dengan rasa nasionalisme yang anti kemapanan sebagai salah satu pilihan.

Firman Saefatullah, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan peneliti di IED Majalengka


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
TW & YT: TINTAHIJAUcom


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Asyik, Korea Gratiskan Visa untuk Wisatawan Indonesia https://t.co/IisjeruJm3
Inilah 10 Kolam Renang untuk Rekreasi di Bandung https://t.co/4D3QrLbasc
Dinilai Piawai dan Apik, Sri Mulyani dan Luhut Jadi Menteri Jokowi Lagi https://t.co/Jf3kKpmbA4
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page