FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Kehidupan di Kampus, Tak Seindah Tayangan di FTV!

Sebelumnya izinkan saya selaku mahasiswa tingkat tiga mengucapkan selamat bagi kalian yang telah melalui serangkaian seleksi alam sehingga dalam seminggu lagi atau bahkan kini sudah sah menyandang status sebagai mahasiswa.

Tentu hal ini bukan perkara mudah untuk didapatkan. Rasanya tak perlu dilukiskan, sebab kalian telah kenyang dengan segala perjuangan. Namun, satu yang pasti ini bukanlah awal menuai perjuangan, melainkan di mana perjuangan itu diuji ketahanannya.

Mungkin saat ini ruang benak masih disesaki tanya. Apakah kuliah betulan menyenangkan seperti yang di siarkan FTV? Apakah budaya senioritas di lingkungan perkuliahan itu benar? Apakah rumor mengenai dosen yang aturannya tak bisa diganggu gugat memang nyata? Segera kalian akan menemukan jawaban-jawaban tersebut.

Tentunya untuk menghadapi semua itu tidak bisa tanpa iman yang kuat serta mental berlapis-lapis, sebab ketika menjadi seorang mahasiswa, segala urusan menyangkut diri harus dihadapi sendirian. Apalagi jika tempat kuliah tidak berada di kota tempat tinggal, terpaksa meninggalkan kehangatan rumah. Selamat tinggal pagi dengan teriakan ibu. Selamat tinggal sarapan yang dibuat dari cinta dan kasih. Selamat tinggal punggung tangan kedua orang terkasih yang biasa disalami sebelum pergi.

Meskipun ritual tersebut sering dianggap semacam rutinitas harian membosankan. Kelak itulah yang membuat hasrat pulang sudah tak tertahankan. Mau bagaimana lagi? Jika ingin menggapai sukses, harus ada sesuatu dikorbankan. Instan bukanlah sahabat. Tetapi proses senantiasa membantu menemukan jati diri.

Mau tidak mau. Suka tidak suka. Berpisah dengan zona nyaman itu pasti. Percayalah menjadi mahasiswa memang bukan perkara gampil, tetapi bukan tidak mungkin untuk dilalui. Sejujurnya saat awal menjadi mahasiswa, skeptis berhasil mengambil alih kontrol diri. Semakin berupaya membuangnya, sekuat itu pula rekatannya. Tetapi melihat para pendahulu masih berpijak di tanah seraya menghirup oksigen dengan bebas. Optimis menyelubungi jiwa ini.

Jika yang lain bisa, berarti berlaku juga bagi saya. Apalagi kalian yang mana sepertinya memiliki mental jauh lebih besar dibandingakan saya yang apalah-apalah.

Busungkan dada, luruskan pandangan. Katakan pada dunia bahwa dirimu siap melakoni hidup dengan status sebagai mahasiswa. Janganlah urung atau melangkah mundur. Ada beragam arena menunggu dilalui, serta ingat tidak semuanya memiliki kesempatan yang sama. Kamu jauh lebih beruntung. Bapak dan ibu tak henti-hentinya bercerita kepada sanak saudara—handaitaulan nan jauh di mata bahwa anaknya kini seorang mahasiswa. Kamu patut berbangga dan jangan sia-siakan kesempatan yang ada.

Bagi saya ini adalah salah satu mimpi yang paling indah Tuhan wujudkan. Meskipun sampai detik ini kadang masih beranggapan bahwa ini hanya mimpi. Bagaimana denganmu?

Saran saya guna menimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Pertebal iman dan mental dari sekarang. Kokohkan niat dan bulatkan tekad, karena dalam proses pendewasaan dalam balutan status mahasiswa terkadang sesuatu di luar nalar dapat terjadi. Camkan ini baik-baik, kau akan menuai apa yang kau tanam. Jagalah diri sebaik mungkin. Jangan buat orangtua memakan kecewa dari anaknya yang merantau—terhalang ribuan kilometer.

Belajarlah peduli untuk urusan pribadi, jangan berharap pada orang lain, karena ini hidupmu bukan hidup orang lain. Kelak bila ada sesuatu masalah menimpa, dirimulah orang pertama yang akan menyelamatkan dari belenggu masalah itu.

Sekali lagi, jangan menggantungkan harap pada orang lain. Jadilah mandiri yang berbudi. Semoga saja dikelilingi orang-orang baik yang berbelas kasih. Bertempatkan tinggal di lingkungan yang friendly. Tumpah-ruah rezeki mengelilingi, menuntun setiap langkah hendak pergi. Sempatkan senyum walau sepersekian detik, sebab siapa tahu kedalaman hati seseorang, bisa jadi esok menyimpan kenang baik maupun dendam.

Saya tunggu kisah petualanganmu saat gelar mahasiswa disandang. Apakah kuliah sekeren FTV yang bisa setiap saat nongki dan have fun sama doi? Apakah para senior di perkuliahan tidak sampai hati memberi ceramah dengan segudang dalil wajib? Apakah dosen yang menjunjung tinggi konsep disiplin tidak tega membuat mahasiswanya bercumbu dengan kata tunggu?

Hanya tinggal persoalan waktu, semua itu dirasakan sendiri, dan saya akan dengan senang hati untuk menjadi pendengar yang baik.

Nida Nur Fadillah, Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom