FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Berbicara mengenai kontruksi sosial di suatu masyarakat ini sangat kuat sekali yang mana kontruksi ini ialah suatu pembentukan yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri, dalam istilah lainnya bahwasannya kontruksi sosial ialah pembentukan suatu sistem yang berkonsep kepada sosial budaya masyarakat yang dilakukan secara terus-menerus.

Dalam ruang lingkup gender bahwasannya ada beberpa hal yang harus dibedakan dan bahkan mungkin kita masih keliru terhadap istilah makna gender kebanyakan orang mengartikan gender ini sebagai jenis kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan seks. Namun ternyata diluar nalar kita bahwasannya berbicara masalah gender dan seks ini berbeda. Lalu apa sih yang membedakannya?  

Gender bisa dikatakan sebagai sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh factor social budaya masyarakat, sehingga lahirlah beberapa anggapan tentang peran social dan budaya laki-laki dan perempuan.

Dalam hal ini bentukan social atas laki-laki dan perempuan itu antara lain perempuan dikenal sebagai mahluk lemah lembut, cantik emosional, sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Sifat-sifat di atas dapat dipertukarkan dan dapat berubah dari waktu ke waktu. Artinya ada perempuan kuat dan rasional, ada pula laki-laki lembut dan irasional.

OPINI LAINNYA:

[OPINI] Pemimpin Besar adalah Guru Hebat

[OPINI] Pentingnya Memahami Antara Islam dan Toleransi

[OPINI] Menumbuhkan Jiwa Pahlawan Pada Generasi Milenial

Sedangkan Seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis, yang melekat pada jenis kelamin tertentu, bersifat kodrati, serta sama diseluruh dunia. Seks berarti perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang secara kodrati memiliki fungsi organism dan cirri-ciri yang berbeda.

Laki-laki adalah jenis manusia yang memiliki penis, sperma yang berfungsi untuk membuahi, mempunyai jakun, bersuara berat. Perempuan memiliki alat reprokduksi sperti rahim, dan saluran untuk melahirkan, alat untuk menyusui dan lainnya.Perempuan mempunyai hormon yang berbeda dengan laki-laki, sehingga terjadi menstruasi, perasaan sensitive.

Alat-alat biologis dimiliki laki-laki dan perempuan tidak dapat dipertukarkan. Laki-laki tidak bias hamil karena tidak meliki organ peranakan, sedangkan perempuan tidak dapat bersuara berat karena hormonnya berbeda dengan laki-laki.

Adanya ketidaksetaraan gender dalam ranah sosial atau peran ini membuat para kaum perempuan merasa termarginalisasikan, tersubordinasi, bahkan tidak sedikit diskriminasi terhadap perempuan. Dengan banyaknya seterotip terhadap perempuan yang mana perempuan hanya bergerak diruang domestic saja, bahkan tugasnya hanya kasur, dapur, sumur saja tidak diberikan kebebasan untuk berkarir diluar.

Jika dalam bekerja perempuan selalu dihubungkan dengan biologis atau sex saja. Seterotip dalam masyarakat selalu bermunculan kepada wanita yang memang bekerja, sering pulang malam, dan berkarir diluar hingga akhirnya ruang geraknya terbatas dalam lingkup kecil.

Sedangkan laki-laki dilabelkan lebih gagah dan selalu menjadi yang terdepan dalam setiap pekerjaan bahkan dalam perannya pun lebih luas bekerja di ruang public dengan alasan sebagai ayah untuk mencari nafkah.

Namun hal ini akan menjadi hal yang salah ketika kita masih memandang suatu kontruksi sosial yang dibuat-buat oleh masyarakat zaman dahulu masih membekas sampai sekarang membuat kita bias terhadap gender. Bahwa perempuan juga mempunyai hak untuk berperan di ruang public, bahkan perempuan juga berhak dalam memajukan pembangunan bangsa.

BERITA LAINNYA:

Jelang Nataru, Stok Beras di Majalengka Melimpah

Sensasi Durian Cibatre dari Bantaragung Majalengka

Majalengka Masuk Nominasi TOP 40 Kompetisi SP4N LAPOR Kemenpan-RB


Satu hal yang sangat ironi sekali menurut saya pribadi sesuai dengan tema yang saya angkat bahwasannya kontruksi soisal sudah menjadi hal yang kodrati dipercayai masyarakat sampai saat ini. Seolah-olah sudah menjadi hal yang tabu ketika memang laki-laki berkewajiban untuk mnecari nafkah sedangkan perempuan hanya bergerak di wilayah domestic saja.

Berkembangannya zaman pun masih tetap saja yang namanya bias gender dan percaya terhadap kontruksi sosial yang dibuat oleh masyarakat itu sendiri masih kuat dipercayai seakan-akan sudah mengakar dan sulit untuk dihilangkan.

Seharusnya adanya kesetaraan gender ini harus menjadikan hal yang dimaksud dari konstruksi sosial ini menjadi hal yang tidak terlalu melekat dalam kepercayaan masyarakat terhadap kontruksi sosial ini.

Perbedaan Gender (gender difference) antara jenis kelamin perempuan dan jenis kelamin laki-laki berjalan dalam proses yang sangat panjang. Oleh karena itu terbentuknya perbedaan-perbedaan gender disebabkan oleh beberapa hal seperti : disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikontruksi secara social dan kultur, baik secara agama maupun Negara dengan membuat peraturan – peraturan yang berbeda antara manusia laki-laki dan perempuan, sehingga akhirnya dianggap sebagai ketentuan Tuhan seolah-olah bersifat biologis yang tidak dapat diubah lagi.

Oleh karena itu perbedaan – perbedaan gender dianggap dan dipahami sebagai kodrat laki-laki dan perempuan melalui proses yang panjang pula hukum telah disosialisasikan cukup lama di masyarakat yang memberikan kedudukan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, sehingga banyak peraturan yang biasa gender, yang pada akhirnya melahirkan ketidakadilan gender, marginalisasi perempuan, subordinate, stereotypr, kekerasan beban kerja dan lainnya yang dapat merugikan kedua belah pihak yaitu laki-laki dan perempuan namun lebih banyak diderita oleh perempuan. Hal ini perlu diperbaiki  untuk mencapai kesetaraan gender.

Dengan adanaya pendidikan kesetaran gender ini mungkin bisa membuak pemahaman serta penerimaan terhadap sangat perlu adanya kesetraan gender antara kaum laki-laki dan perempuan, karena kita tidak bisa menjustifikasi bahwa perempuan itu lemah, cengeng, bisanya dirumah ngurus anak, masak dll.

Maka dari itu kontruksi sosial yang sudah ada sejak dahulu itu sedikit-sedikit sudah bisa dihilangkan pemahaman terhadap kontruksi tersebut. Sehingga kita dapat diketahui bersama bahwa yang namanya kontruksi itu bukan hal yang sifatnya kodrati atau ketentuan yang sudah ditetapkan sejak zaman ajali, melainkan hanya sebuah buatan manusia yang secara terus menerus hingga mengakar pemahaman saat ini.

Saya berharap bahwa dengan adanya tulisan ini bisa membuka pemikiran serta memberikan pemahaman terhadap pelunya kesetaraan gender, karena kontruksi bukan suatu hal yang kodrat ilahi.

Zejen Zaenudin, Penulis adalah Warga Majalengka

Kutipan Referensi :
Dr. Ni Nyoman Sukerti, dan Prof. Dr. I. Gst. Ayu Agung Ariani (2016), Bahan Ajar Gender dalam Hukum. Bali : Pustaka Ekspresi.
FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom