FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Pemerintahan

  1. Eksekutif
  2. Legislatif
  3. Politik
  4. Subang Jawara

Banjir besar yang melanda beberapa wilayah di tanah air seakan menjadi kado pahit yang harus diterima oleh sebagian saudara kita di awal tahun 2020 ini.

Kerugian harta maupun jatuhnya korban jiwa menjadi tak terhindarkan manakala air bah datang secara tiba – tiba dan tanpa adanya aba – aba. Kesedihan serta penyesalan pun menyelimuti mereka yang saat ini terpaksa hidup di tenda – tenda pengungsian dengan perlengkapan seadanya.

Tak hanya itu, sebagian jalur transportasi  menjadi terputus akibatnya rusaknya jalan penghubung antar daerah sehingga menyulitkan warga untuk beraktivitas.

Sebagai seorang pendidik, alangkah bijaknya apabila kita melihat terjadinya bencana alam dari dua sudut pandang. Pertama, dari kacamata ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
Mencari penyebab utama terjadinya banjir serta bencana alam lainnya mutlak dilakukan agar peristiwa serupa tidak terulang kembali. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mempelajari  kondisi topografi daerah secara detail (termasuk mempelajari sejarah daerah tersebut) serta melakukan berbagai upaya pencegahan.

Reboisasi serta pengendalian alih fungsi lahan merupakan sebagian upaya yang dapat dilakukan di samping pengelolaan sampah secara tepat. Hal tersebut tentunya hanya dapat dilakukan apabila kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan benar – benar tertanam dalam diri setiap individu.   

Adapun mengajarkan mitigasi bencana sebagai salah satu upaya untuk mengantisipasi fenomena alam yang dapat mengancam keselamatan jiwa manusia juga menjadi sebuah keniscayaan.
Kemampuan untuk memprediksi potensi terjadinya bencana alam melalui  tanda – tanda tertentu sangatlah dibutuhkan terutama oleh mereka yang tinggal di daerah rawan bencana. Berbekal informasi tersebut, berbagai upaya pencegahan pun dapat dilakukan sedini mungkin untuk mengurangi potensi kerusakan yang ditimbulkan. Dalam hal ini modernisasi peralatan yang berkaitan dengan kebencanaan.

Selain mengajarkan pentingnya mitigasi bencana, mengasah kecerdasan spiritual peserta didik menjadi tugas setiap pendidik dalam memberikan bekal untuk menghadapi berbagai bencana alam yang selalu mengintai setiap saat.

Menanamkan keyakinan bahwa seluruh peristiwa alam yang terjadi di muka bumi ini merupakan kehendak sang Maha Pencipta mutlak dilakukan oleh guru agar anak memiliki pemahaman yang utuh terhadap berbagai fenomena alam yang terjadi.

Adapun senantiasa berusaha untuk menjalankan perintah serta menjauhi larangan – Nya merupakan bentuk mitigasi bencana yang juga tak kalah penting untuk dilaksanakan.  

Artinya, berbagai bencana alam yang terjadi saat ini pada hakikatnya disebabkan oleh perilaku manusia itu sendiri yang tidak mau menjalankan perintah Allah SWT serta dengan sengaja melanggar aturan – aturan yang telah ditetapkan – Nya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Asy – Syuura ayat 30 ; “Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, sesungguhnya disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri”.

Banjir besar yang menenggelamkan kaum nabi Nuh sesungguhnya disebabkan oleh pengingkaran mereka terhadap seruan yang disampaikan oleh Nabi Nuh untuk menyembah Allah SWT (QS Al-Ankabut : 14).  

Demikian pula halnya dengan kaum nabi Luth yang ditimpa azab berupa gempa bumi yang sangat dahsyat disertai angin kencang akibat kegemaran mereka dalam menyalurkan hasrat biologisnya kepada sesama kaum pria (homoseksual).

Adapun kaum Madyan diazab oleh Allah SWT berupa hawa panas yang membuat mereka binasa. Mereka menolak seruan Nabi Syuaib untuk bersikap jujur dalam melakukan aktivitas perdagangan. Mereka sering kali berlaku curang dan menipu dalam proses jual beli seperti mengurangi takaran timbangan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecerdasan spiritual akan mampu menjauhkan manusia dari datangnya bencana. Adapun pendidik memiliki tanggungjawab yang sangat besar untuk mengajarkan kedua hal tersebut kepada anak didiknya.

Ramdan Hamdan, Penuis adalah Pengamat Pendidikan di Subang

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom