FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] Urgensi Pendidikan Karakter di Era 4.0

Bermula dari keprihatinan melihat kondisi bangsa yang sudah jauh dari nilai-nilai moral, maka munculah gagasan tentang pentingnya pendidikan karakter yang memfokuskan akan pentingnya akhlak mulia dan kearifan lokal, dan sekolah sebagai lembaga pendidikan menjadi tempat pertama dan utama dari pendidikan karakter ini.

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

OPINI LAINNYA: Guru Lebih Penting Daripada Metode Belajar

Pendidikana karakter yang mengutamakan nilai-nilai moral dan akhlak mulia sejatinya bukan hanya wilayah dan wewenang guru agama saja untuk menyampaikannya kepada peserta didik, tapi masuk wilayah dan wewenang serta kewajiban semua guru apapum mata pelajaran yang diajarkannya, karena hakikatnya tidak ada dikotomi ilmu, karena baik ilmu agama maupun ilmu umum bersumber dari satu sumber yaitu Dzat Yang Maha Mengetahui, Allah SWT.

Ilmu bernilai  ilmu agama atau tidak bukan karena namanya PAI atau IPA. Tetapi apakah dengan ilmu tersebut mendekatkan diri kita kepada Tuhan atau tidak? Ilmu apapun ketika mendorong dan memotivasi untuk mendekat kepada Allah dengan mengedepankan nilai-nilai religius maka bisa ilmu berdimensi agama, sehingga tidak perlu lagi ada usulan penambahan mata pelajaran agama, dengan argumentasi karena selama ini hanya dua jam satu minggu sehingga dianggap kurang, karena pendidikan yang mengedapankan nilai-nilai agama bisa masuk ke semua mapel yang ada.

BACA JUGA: Antara Linieritas, Kreativitas, dan Produktivitas

Sebagai implementasi dari hal tersebut bisa di ilustrasikan, seorang guru matematika ketika mengajar pertambahan kepada peserta didiknya, setelah mengajarkan bahwa 1+1=2, harus segera dilanjutkan dengan menyatakan “nak, sejak hari ini sampai kapanpun dan apapun yang terjadi  1+1 adalah 2” ini adalah pendidikan tentang kejujuran, sehingga kalau kelak anak didik jadi pimpinan proyek atau menjadi apapun, tidak akan melakukan “markup” anggaran, karena sudah tertanam karakter kejujuran dalam dirinya.

OPINI LAINNYA: Menyoal Penilaian Berbasis Kompetensi Dasar

Demikian juga seorang guru Bahasa Indonesia, ketika mengajarkan tentang kalimat yang baik dan benar, setelah mengajarkan dari ilmu bahasa dengan menggunakan SPOK, DM-MD, sampai EYD dan lain-lain, harus segera disampaikan bahwa bahwa bukan hanya kalimat dan tulisannya yang benar, tetapi jauh lebih penting adalah benar dari sisi isi, sesuai data dan fakta yang ada, tidak dikurangi dan tidak pula ditambahi, ini adalah pendidikan karakter tentang kebenaran!

Sehingga kelak ketika menjadi pimpinan membuat kebijakan berbasis kebenaran, bukan berdasar kedekatan hubungan, kepentingan dan “like dis like”, sehingga sebagai pemimpin yang bermakna “Leader” bukan pemimpin yang merangkap profesi sebagai “Dealer”.

Wallahu a’lam bishawab.


H. Nasrudin, SPdI, MSI, Penulis adalah DosenUniversitasMuhammadiyah Purworejo




FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom


TRENDING TOPIC

Banner Kanan 1
TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Hal yang Perlu Dihindari Saat Pertama Kali Ketemuan Dengan Calon Mertua https://t.co/7kPIY1B1f8
Ternyata Ini yang Bisa Bikin Kulit Lebih Glowing Tanpa Makeup https://t.co/TGSBf4sjNl
Ini Dia Profile dan Photo Pedangdut Cantik Wika Salim https://t.co/8qGeb1HO5J
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page