FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Perjuangan Suami Istri asal Subang Lawan Kusta di Tengah Stigma Kutukan

SUBANG, TINTAHIJAU.com - Isud Sudana (61) dan Eri (55) bertemu tanpa sengaja di Kampung Cicadas, Kelurahan Dangdeur, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang, 1980 silam.

Saat itu, Isud yang diajak jalan-jalan oleh teman kerjanya bertemu Eri. Setahun berselang, benih-benih cinta di antara mereka pun berujung di pelaminan. Kini, setelah 38 tahun menikah, mereka dikaruniai 2 anak, Dedi Sumarna (37) dan Abas Basuki (30). Manis dan pahitnya hidup mereka lalui bersama. Begitu pun saat sang suami tidak mampu bekerja sebagai kontraktor konstruksi karena sakit yang dideritanya.  “Tahun 2014, sok paregel (suka pegal-pegal) di tangan hingga kaki,” ujar Isud

Lama-kelamaan rasa pegal yang dirasakan semakin sering dan kuat. Ia pun kerap meriang ketika kelelahan. Puncaknya ketika tangannya sulit melakukan aktivitas seperti biasa. Bahkan, untuk makan ia harus menggunakan sendok, jari tangannya tak bisa mengambil makanan. Begitu pun saat minum, harus menggunakan gelas berkuping. “Kalau pegang gelas biasa, jatuh dan pecah. Kesannya jadi pemarah dan emosianal, padahal memang susah saja,” katanya.

Isud ditemani sang istri akhirnya mencoba berbagai pengobatan, dari medis hingga alternatif. Bahkan, ia membeli produk MLM seharga Rp 2 juta, tetapi tidak menunjukkan hasil yang diharapkan. Hingga ia dipertemukan dengan Etin Suprihatin, pelaksana program pemberantasan kusta Puskesmas Sukarahayu pada 2016. Tahun itu pula Isud baru mengetahui bahwa dirinya sakit kusta. Penyakit yang kerap dihinggapi stigma sebagai penyakit kutukan.

“Selama setahun saya harus minum obat sekali sehari. Saya juga ikut kelompok perawatan diri dengan merendam kaki, menggosok, kemudian mengoleskan (luka) dengan handbody sekali sehari,” ucapnya.

Setelah melewati pengobatan setahun, kondisi Isud membaik. Jari dan telapak tangannya yang sulit digerakkan kini lebih lentur. Keberhasilan perawatan ini, kata Isud, sulit dicapai tanpa peran sang istri. Dialah yang setia menemani di segala situasi.  Sang istri, Eri, mengaku perlu kesabaran dan semangat besar untuk lepas dari kusta. Misalnya saat suaminya harus meminum obat setiap hari selama setahun. “Kalau bosan minum obat, saya bilang kan (bapak) ingin kerja lagi jadi harus sehat,” ucapnya.

Begitu pun saat suaminya bandel dengan makanan yang dikonsumsi. Isud, kata Eri, juga kerap terserang maag, tetapi masih suka mengonsumsi sambal dan kopi.  “Saya sering ingatkan, terutama untuk sambal karena maagnya suka kambuh,” tuturnya.

Jika maagnya kambuh, ia pun memijat perut sang suami agar sakitnya berkurang. Hal serupa dilakukan ketika Isud divonis kusta. Hampir setiap saat ia memijat Isud. Karena rasa pegal yang diderita suami baru akan berkurang setelah dipijat. “Rasa sakitnya bisa muncul kapan saja. Kadang pas ngantuk-ngantuk-nya jam 3 (dini hari) harus mijit,” tuturnya.

Eri mengaku, sebagai manusia rasa lelah kerap menghinggapi dirinya. Namun, ia tidak pernah lepas berdoa agar suaminya bisa kembali sehat dan bekerja. Berkebun pakcoi Bertahun-tahun tak bekerja membuat tabungan Isud dan Eri terus menipis. Bahkan, untuk kehidupan sehari-hari ia mengandalkan pemberian dari kedua anaknya. Namun, bukan berarti pasangan suami istri ini menyerah dengan keadaan. Mereka tetap berjuang dengan menyulap halaman rumah menjadi kebun pakcoi. “Pakcoi ditanam di polybag, ukuran (kebun) 4x6 meter,” katanya.

Tanaman pakcoi ini bisa dipanen setiap 2 pekan sekali. Sekali panen menghasilkan 15 kilogram. Untuk saat ini, hasilnya cukup untuk membayar listrik. “Mudah-mudahan ada bantuan dana untuk memperluas kebun pakcoi,” tuturnya.

Bisa disembuhkan Technical Advisor No Leprosy Remind (NLR) wilayah Jawa Barat, dr Udeng Daman, mengatakan, kusta adalah penyakit infeksi yang kronik dan menular. Penyebabnya ialah mycrobacterium leprae yang pertama-tama menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas bagian atas, sistem retikula endotelial, mata, otot, tulang, dan testis. Penyakit ini bisa menular jika terjadi kontak erat dan lama dengan penderita yang belum berobat. Proses penularannya sangat lama, rata-rata 2-5 tahun, bahkan ada yang 20 tahun. “Sekadar bersamalam atau makan bersama penyandang kusta tidak akan menular. Kusta juga bukan penyakit turunan,” ucapnya.

Persoalannya, masih ada stigma ataupun diskriminasi terhadap penyandang kusta di masyarakat. Kusta kerap diidentikkan dengan penyakit kutukan, Padahal kusta bisa disembuhkan dengan berobat. Salah satunya di puskesmas. [kompas]


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIAJUcom
Youtube: TINTAHIJAU Channel

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Tingkat Pasien Covid Sembuh di Subang di angka 70 persen https://t.co/PisprD71nk
Dinas Perikanan Subang Tebar 150 Ribu Benih Ikan Patin dan Emas di Situ Nagrog https://t.co/WcG18vkHSR
Viral mobil berlapis emas di social media. Rupanya di Kabupaten Subang https://t.co/8fldenCOKo
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter