FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Tugu di Subang; dari "Petani Jomblo" sampai "Nanas Busuk"

TINJAU SUBANG- Pada 2015 ini, Dinas Tata Ruang, Pemukiman, dan Kebersihan (Tarkimsih) Subang melakukan gebrakan. Sejumlah tugu dan bundaran direhab dan dipercantik.

Setidaknya ada empat titik lokasi yang dibangun dan dipercantik kondisi tugu. Keempat lokasi itu adalah berada di bundaran Lapas, yang kini dibangun Tugu Stum, Tugu Tani di perempatan shinta, Tugu Sisingaan di Wisma Karya dan Tugu Nanas di Jalancagak.

Tugu Stum yang berada di Bundaran Lapas Jl. Darmodihardjo mendapat reaksi keras dari publik melalui social media (Socmed). Publik menilai, keberadaan Tugu itu dianggap tidak logis dengan fakta kondisi jalan, rusak parah dan berlubang mirip kubangan.

"Mana mungkin jalanan Subang akan benar, kalau stumnya aja diparkir dan jadi tugu. Aneh juga, kita punya banyak ikon, kenapa stum yang dijadikan tugu," kata Heri Juanda.

Heri adalah salah seorang saja. Banyak publik yang menyesalkan Stum jadi tugu. Namun begitu, seperti halnya Stum yang kokoh, meskipun banyak kritikan, tugu stum tetap berdiri kokoh dan bergeming.

Selain Tugu Stum, yang menjadi sorotan publik adalah Tugu Tani di Lampu Merah Shinta Jl. Otto Iskandar Dinata. Semula, tugu Tani itu sepasang, yang digambarkan Pak Tani dan Ibu Tani, namun setelah dilakukan rehab, justru tinggallah Pak Tani. Kemana Ibu Tani?

"Karena lahan sawahnya sudah jadi pabrik, jadi Bu Taninya sekarang jadi buruh pabrik hahaha. Tapi betul juga, faktanya kan begitu, dan faktanya yang di pabrik itu perempuan. Jadi Pak Taninya sekarang jomblo" kata Heri Juanda.

Patung yang ketiga, yang sekarang menjadi kritik dan nyinyiran warga adalah Patung Nanas di Jalancagak. Patung Nanas ukuran raksasa itu dibangun dari hasil CRR perusahaan air mineral. Sayangnya, warna patung Nanas itu justru hitam kusam. Padahal sebelumnya berwarna sweperti halnya warna asli.

Soal warnapun, lagi-lagi mengundang reaksi warga. Kata Heri, warna hitam itu diartikan simbol duka cita. "Hitam itu menandakan berduka cita. Kenapa duka cita, karena sekarang kebun nanas sudah mulai habis. Atau mungkin warna hitam Nanas itu karena nanasnya busuk,"" imbuhnya.

Soal warna Nanas ini Kabid Kebersihan Dinas Tatat Ruang dan Pemukiman (Distarkimsih) Subang, Tian Muharinto angkat bicara. "Memang akan segera dicat kembali, warnanya nanti disesuaikan dengan warna nanas," katanya.

Tian mengaku, tidak sedikit publik yang mengkritik warna tugu nanas itu. Dengan kritikan itu, Tian menambahkan, pihaknya berjanji akan mengecat kembali warna tugu Nanas itu. "Nggak apa-apa, itu kritik membangun. Pokoknya kita akan secepatnya kembali mengecat tugu itu seperti warna awalnya," tambah Tian.

Suara sumbang, dikeluarkan pegiat Pusat Kajian Otonomi Daerah (Puskoda) Yaya Sudarya. Menurut Yaya, karena keberadaan tugu untuk mempercantik sudut kota, seharusnya pembuatan tugu itu dikonsep secara matang dan harus mewakili kebutuhan publik dan kearifan lokal.

"Tapi nyatanya, direhab tapi tidak mempercantik. Sepeeti orang pergi ke salon, pulang ke rumah bukannya tambah cantik malah tambah ancur," kata Yaya Sudarya. [Annas Nashrullah | @JejakAnnas]

Foto: Tugu Nanas di Bundaran Jalancagak, Subang

Follow twitter @tintahijaucom

 


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Polres Subang Terima Penghargaan Sebagai Sahabat Anak dari Kak Seto https://t.co/2C1UWcfQB5
Kasus Covid-19 Bertambah, Subang Turun Level dengan Status Zona Hijau https://t.co/fNwbFlfRjP
Undang Dua Dinas, Bupati Bicara Soal Peluang Pengembangan Industri di Subang https://t.co/qpA3EhoUGq
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter