[OPINI] Remaja dan Literasi Media

Penyakit moral yang menjangkiti generasi saat ini antara lain disebabkan oleh kurangnya kemampuan mereka untuk hidup dalam sebuah dunia yang tengah mengalami (gejala) sesak media (media saturated).   

Beragam informasi “sampah” yang memenuhi layar kaca kita setiap saat seolah menjadi “santapan” utama para remaja yang tengah berusaha mencari jati dirinya itu.

Celakanya, media elektronik khususnya televisi yang kerap kali menampilkan berbagai tayangan yang tidak mendidik atau bahkan menyesatkan tersebut, justru dijadikan “kiblat” oleh anak-anak kita dalam berperilaku. Akibatnya,  berbagai perbuatan menyimpang pun seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan para remaja yang dikenal sebagai generasi Z  tersebut.

Di lain pihak, kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengontrol kualitas tayangan yang disuguhkan mengakibatkan media tak mampu lagi menjalankan peran sebagaimana mestinya.

OPII LAINNYA:

[OPINI] Karena Setiap Anak Adalah Anugerah

[OPINI] Ketika Anak Jadi Gadget Maniak

[OPINI] Guru Harus Mampu Digugu dan Ditiru

Fungsi edukasi dan informasi yang seharusnya dijalankan oleh media nampaknya semakin hari kian pudar akibat terkikis oleh kepentingan untuk mempertahankan eksistensinya. Media seakan “tersandera” oleh kepentingan sponsor yang selama ini “menghidupi” mereka.

Tak heran apabila dampak negatif dari berbagai tayangan yang disuguhkan pun tidak lagi menjadi hal yang patut untuk dipertimbangkan.

Di tengah derasnya arus informasi yang dapat menghanyutkan generasi muda kita setiap saat, literasi media menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Literasi media atau pendidikan media pada dasarnya merupakan upaya pembelajaran bagi masyarakat agar mampu berdaya hidup di dunia yang tengah mengalami sesak media (Iriantara, 2009).

Dengan kata lain, pendidikan media dibutuhkan agar masyarakat mampu menjadi pemirsa atau partisipan yang cerdas dalam “mencerna” setiap informasi yang diterimanya sekaligus meningkatkan sikap kritis mereka terhadap “perilaku” media yang (dianggap) telah keluar jalur.

Di beberapa negara maju seperti Inggris, pengenalan pendidikan media dilakukan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta merupakan bagian dari mata pelajaran bahasa. Tujuannya adalah agar siswa benar-benar memahami serta mampu menganalisis setiap konten yang disuguhkan oleh media. Hal ini dapat terlaksana berkat kerjasama antar kementerian yang tergabung dalam sebuah lembaga bernama “Media Education Strategy Committee”.   

Payung hukum untuk menyelenggarakan dan mengembangkan literasi media sendiri sebenarnya telah tersedia dalam bentuk Undang-Undang Penyiaran. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bahkan bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) untuk mencanangkan Gerakan Nasional Remaja Melek Media. Sayangnya,  hal ini kurang  mendapatkan respon dari masyarakat luas.

Masyarakat “modern” seperti saat ini rupanya lebih menikmati perannya sebagai konsumen setia daripada partisipan yang cerdas.  Pada akhirnya, peran media pun semakin hari kian jauh dari yang dharapkan.    

Untuk mencegah semakin meluasnya kerusakan moral yang diakibatkan oleh pengaruh buruk media, partisipasi aktif kalangan pendidik dalam mengembangkan literasi media di kalangan remaja merupakan sebuah keniscayaan. Membiasakan siswa untuk berdiskusi dalam upaya memahami serta menganalisis berbagai informasi yang beredar maupun tayangan yang disuguhkan oleh media, merupakan langkah strategis yang dapat diambil oleh guru.

Selain itu mengajak siswa untuk aktif menunjukkan sikapnya terhadap setiap fenomena yang terjadi di masyarakat pun perlu dilakukan oleh guru guna mengasah daya kritis serta rasa empati mereka terhadap sesama. Media sosial maupun portal lainnya seperti Change.org merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk menyalurkan pendapat mereka. Dengan demikian, diharapkan   akan lahir generasi yang mampu bersikap bijak dalam menyikapi berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.  

Ramdan Hamdani, Penulis adalah Praktisi Pendidikan


Twitter Update

Lantaran Malu Ditinggal Suami Sirinya, Ibu Muda Ini Tega Buang Bayinya Sendiri https://t.co/3Wn8pVa6Dc
Lakukan 6 Hal Ini Jika Pasanganmu Ketahuan Selingkuh https://t.co/LIa78I4JUi
Bergaya dan Berkarya ala Seniman Graffiti di Jalan gang Subang Kota https://t.co/3IRQ9tqlTl
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter