[OPINI] Teknologi yang Mengerti Kita di Tengah Wabah Virus Corona

Dua pekan terakhir, istilah social distancing menjadi kalimat yang akrab di telinga masyarakat. Ini merupakan kebijakan pemerintah yang mengimbau masyarakat supaya tetap menjalankan interaksi sosial, tetapi dengan jarak tertentu alias berjauhan.

Meski bersifat imbauan, pelaksanaan pembatasan interaksi sosial ini menjadi wajib, terutama di saat jumlah penderita Covid-19 di Indonesia terus melonjak.

BACA JUGA:
[OPINI] Badai Perceraian Usai Terjangan Corona
[OPINI] Corona, Kembalikan Ruh Pendidikan di Lingkungan
[OPINI] Corona, Kearifan Lokal, dan Kecerdasan Spiritual
[OPINI] Virus Korona dan Nasib Pendidikan Anak
[OPINI] Isolasi Diri: Mencegah Korona, Mencetak Karya

Sejak pertama kali pasien pertama di Indonesia diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020, jumlah penderita positif Covid-19 hingga 24 Maret 2020 telah mencapai 686 penderita. Dari jumlah tersebut, diketahui 55 pasien menjadi korban jiwa dan sebanyak 30 pasien sembuh total.

Dengan segala kondisi ini, masyarakat Indonesia diharapkan dapat beraktivitas di rumah saja.

Masalahnya, saat ini masih banyak masyarakat yang justru menganggap program social distancing ini adalah program liburan, yang diisi dengan kegiatan di luar rumah bersama keluarga atau teman.

Media sosial pun meramaikan program ini dengan tagar #DiRumahAjaDulu dan tagar #AmanDiRumah.

Insan media pun menjalankan kampanye edukasi serentak dengan tagar #MediaLawanCovid19 per tanggal 24 Maret 2020.

Sekitar 50 media, termasuk Kompas.com, ikut serta dalam aksi yang bertujuan untuk penyebaran konten edukatif secara masif dalam upaya memerangi penyebaran virus corona di Indonesia (Tirto.id, 24/3/2020).

Kampanye edukatif ini dilakukan di tengah banyaknya informasi di media konvensional maupun media sosial, yang sering membuat masyarakat khawatir dan stres.

Atas dasar itu, berkegiatan di rumah saat ini dianggap sebagai salah satu langkah terbaik yang bisa dilakukan masyarakat.

Manusia sebagai makhluk komunikasi

Masalahnya, tidak semua orang bisa menikmati bekerja dari rumah. Sebagian masyarakat masih sulit mengubah kebiasaan bekerja dan berkegiatan di luar rumah. Sebagian yang lain juga tak bisa tinggal di rumah saja karena dorongan kebutuhan ekonomi.

Bagi kalangan masyarakat tertentu, kebutuhan komunikasi dan bersosialisasi menjadi kebutuhan utama yang tidak bisa mereka tinggalkan.

Sejatinya, komunikasi dengan orang lain merupakan kebutuhan dasar setiap manusia sebagai makhluk sosial.

Menurut Stephen W. Littlejohn, dalam bukunya Theories of Human Communication (Sendjaja, 2014); terdapat tiga pendekatan dalam berkomunikasi antarmanusia, antara lain pendekatan scientific (ilmiah-empiris), pendekatan humanistik (humaniora interpretatif), dan pendekatan social sciences (ilmu sosial).

Dalam aliran pendekatan scientific, umumnya berlaku di kalangan ahli ilmu eksakta seperti fisika, biologi, kedokteran, dan matematika.

Dalam cara pandang ini ditekankan unsur objektivitas dan pemisahan antara known (obyek yang ingin diketahui dan diteliti) serta knower (subyek pelaku atau pengamat).

Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan humanistik, yang mengasosiasikan dengan prinsip subyektivitas.

Melalui metode ini, manusia mengamati sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya, membaur dan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan orang-orang di lingkungannya.

Adapun pendekatan ilmu sosial merupakan gabungan dari pendekatan scientific dan humanistic, di mana obyek studinya adalah kehidupan manusia, termasuk di dalamnya memahami tingkah laku manusia.

Dari penjelasan di atas, tampak jelas bahwa manusia sejatinya butuh kesempatan secara langsung untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan di sekitarnya.

Jika merujuk pada teori ini, tentu saja kegiatan social distancing amat jauh dari kondisi ideal hubungan manusia secara humanis.

Namun, jika melihat jumlah penderita Covid-19 yang terus naik tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia, pembatasan interaksi sosial ini bisa jadi salah satu program terbaik untuk menekan jumlah orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19.

Digitalisasi yang membuat kita tetap berdaya

Bisa jadi yang menjadi masalah saat memutuskan untuk stay at home adalah, "Apa yang akan saya lakukan sepanjang hari?"

Jika dia seorang pekerja, bagaimana mereka akan menjalankan tugas-tugas rutinnya seperti rapat rutin, mengirim laporan mingguan, juga mendekati calon pelanggan potensialnya.

Jika dia adalah seorang pelajar atau mahasiswa bahkan guru sekalipun, mungkin yang ada di benaknya adalah, "Bagaimana saya bisa memindahkan kegiatan dari ruang kelas fisik ke ruang kelas virtual?"

Wajar jika Anda berpikiran demikian. Sebab, pada dasarnya, manusia memang sulit menerima perubahan sosial atas diri dan lingkungannya.

Menurut Soerjono Soekanto (2004) dalam Rasyid (2018), perubahan sosial merupakan segala perubahan di masyarakat, yang memengaruhi sistem sosial di dalamnya, termasuk nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Perubahan sosial dalam masyarakat biasanya terkait erat dengan nilai sosial, pola perilaku, organisasi, lembaga masyarakat, lapisan masyarakat, kekuasaan dan wewenang.

Anda tak sendiri ketika bingung menerpa bagaimana harus memulai hidup dan berkegiatan dalam ruang maya. Digitalisasi membawa masyarakat tetap berdaya meski harus berkegiatan di rumah.

Ruangguru, usaha rintisan bidang pendidikan, misalnya, menggratiskan layanan Skill Academy untuk kelas pelatihan daring di berbagai bidang selama 14 hari.

Layanan Kompas.id dan Tempo Digital Platinum juga menggratiskan aksesnya selama sebulan, bagi mereka yang membutuhkan informasi terkini.

Tak hanya pekerja, daya UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) juga dapat terjaga dengan bantuan penyelenggara e-dagang, seperti Bukalapak dan Tokopedia.

Ada yang berbentuk edukasi mitra UMKM untuk berbisnis di tengah pandemik Covid-19, ada pula yang membebaskan biaya layanan ke mitra penjualnya dan memberikan bebas ongkos kirim kepada konsumen.

Ada lagi layanan konsultasi kesehatan yang diselenggarakan usaha rintisan Halodoc. Tak ketinggalan, Grab Indonesia juga memberikan manfaat bagi pelanggannya yang memilih untuk diam di rumah (Kompas, 23/3/2020).

Ini memang beberapa bentuk kegiatan bisnis yang berorientasi pada kegiatan sosial (sociopreneur). Harus diakui, ini adalah bagian dari kegiatan promosi perusahaan untuk meraih pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan lamanya.

Namun demikian, kegiatan ini cukup membantu masyarakat Indonesia supaya tidak "mati gaya" saat diam di rumah.

Media sosial pun kini telah berkembang fungsinya menjadi sarana pembelajaran dan tukar-menukar informasi yang sangat membantu, terutama bagi orang tua dengan anak yang menjalani kegiatan belajar di rumah alias home learning.

Orangtua yang awalnya hanya terbiasa menggunakan program Whatsapp untuk bertukar informasi dari sekolah, kini disibukkan dengan program Telegram yang mampu mengumpulkan lebih banyak anggota dalam satu grup.

Pada 1-2 hari pertama, mereka sibuk mengenali fitur-fitur yang disediakan oleh Telegram, yang bagi sebagian orang terasa lebih rumit saat dijalankan. Namun di hari ke-3, ke-4 dan seterusnya, penggunaan Telegram menjadi sebuah hal yang tak bikin pusing.

Pun bagi seorang guru atau dosen, penggunaan program Zoom atau Google Classroom terasa merepotkan. Jika biasanya mahasiswa dan dosen berkumpul dalam satu ruangan melakukan interaksi, kini mereka harus melakukan presentasi dan teleconference di ranah online.

Namun sama seperti pengalaman tadi di atas, di bagian awal saja mereka berjibaku untuk mempelajari cara pengoperasian program komputer. Selanjutnya, hal itu bukan menjadi masalah besar bagi mereka.

Perubahan sosial akibat perkembangan teknologi

Sebetulnya fenomena apa yang terjadi? Dapat disimpulkan bahwa maraknya virus corona telah menyebabkan terjadinya sebuah perubahan sosial di masyarakat, di mana salah satunya dipicu oleh perkembangan teknologi komunikasi. Masyarakat, dari tidak bisa dan tidak biasa terpaksa menjadi bisa dan biasa, hingga akhirnya menjadi bagian dari budaya baru itu sendiri.

Perkembangan teknologi yang hadir di tengah masyarakat modern saat ini, tampaknya telah diprediksi jauh hari oleh seorang filsafat Marshall McLuhan pada tahun 1962, lewat Teori Determinisme Teknologi, melalui tulisannya The Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (Surahman, 2016).

Dasar teori ini adalah perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi, akan membentuk keberadaan manusia itu sendiri.

Dengan kata lain, teknologi membentuk cara berpikir, berperilaku dan bergerak dari satu abad teknologi ke abad teknologi selanjutnya dalam kehidupan manusia.

Perkembangan teknologi komunikasi itulah yang sebenarnya telah mengubah kebudayaan manusia. Jika Karl Marx berasumsi bahwa sejarah ditentukan oleh kekuatan produksi, maka menurut McLuhan, eksistensi manusia ditentukan oleh perubahan mode komunikasi.

Bertolak dari teori tersebut, komunikasi digital yang kini telah menjadi bagian dari masyarakat modern, telah berhasil membuat perubahan terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. Komunikasi digital membuat masyarakat memiliki ketergantungan terhadap gawai atau telepon pintar.

Contoh nyata, saat Anda bangun di pagi hari, ponsel adalah barang pertama yang dicari meski hanya sekedar untuk membaca pesan yang diterima atau update status di media sosial.

Komunikasi digital memang mendekatkan orang yang berbeda jarak dengan Anda. Sebaliknya, digitalisasi juga telah berhasil membuat jarak dengan orang yang dekat dengan Anda.

Pemikiran inilah yang mendasari McLuhan bahwa teknologi berpengaruh sangat besar dalam masyarakat. Atau dengan kata lain, kehidupan manusia sangat ditentukan oleh teknologi.

Menurut McLuhan, perkembangan teknologi komunikasi inilah yang menjadi penyebab utama perubahan budaya. Menurutnya, setiap penemuan teknologi baru mulai dari penemuan huruf, mesin cetak, hingga media elektronik, akan memengaruhi institusi budaya masyarakat.

Media bukan hanya terbatas pada media massa tetapi juga segala sarana, instrumen atau alat yang berfungsi memperkuat organ, indera, dan fungsi yang terdapat pada tubuh manusia.
Teknologi telah menciptakan revolusi di tengah masyarakat karena masyarakat sudah sangat tergantung kepada teknologi.

Tatanan masyarakat baru pun terbentuk berdasarkan pada kemampuan masyarakat menggunakan teknologi dan melihat bagaimana media berperan menciptakan dan mengelola budaya itu sendiri. Kini, tinggal bagaimana masyarakat menyikapi program stay at home dengan penggunaan teknologi yang semakin kerap.

Menurut Ngafifi (2014), semua pihak, seperti keluarga, sekolah, pemerintah dan masyarakat, diharapkan kontribusinya dalam menciptakan penggunaan teknologi yang aman dan tepat guna.

Sebagai konsumen, masyarakat perlu melakukan filter teknologi untuk mengambil manfaat optimal bagi kemajuan masyarakat. Sebagai produsen, teknologi yang dikembangkan hendaknya bertujuan untuk meningkatkan peradaban manusia dan bukan menghancurkannya.

Diah Ayu Candraningrum, ST, MBA, MSi
Dosen Komunikasi Digital
Fakultas Ilmu Komunikasi - Universitas Tarumanagara

Sumber: Kompas | Foto: Ilustrasi/Slack

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


Twitter Update

Bulan Juni Ini Akan Ada 14 Fenomena Alam Langka, Catat Tanggalnya https://t.co/9rdosQCNEh
Pemkab Purwakarta Pastikan Pertokoan dan Pusat Perbelanjaan Jalankan Protokol Kesehatan New Normal https://t.co/AqG5CxzfjK
Kondisi Lalin di Tol Cipali Subang Terpantau Lengang https://t.co/uTc7ojYLEI
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter