[OPINI] Corona dan Optimalisasi Peran Orangtua di Rumah

Merebaknya wabah Covid–19 di tanah air nyatanya berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat di berbagai bidang. Roda perekonomian dipastikan lumpuh seiring diberlakukannya pembatasan mobilitas warga dalam skala yang lebih luas.

Mereka yang bekerja sehari – hari sebagai pegawai ataupun pedagang harus rela untuk tetap berada di rumah sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Kebijakan tersebut terpaksa dikeluarkan mengingat jumlah warga yang terjangkit virus mematikan tersebut semakin hari kian bertambah banyak. Harapannya, dengan membatasi aktivitas warga secara tegas, potensi penularan virus pun dapat ditekan secara signifikan.

Demikian halnya dengan bidang pendidikan, pemerintah memutuskan untuk menghentikan kegiatan belajar secara tatap muka di sekolah – sekolah sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan. Tak hanya itu, berbagai agenda penting tahunan seperti Ujian Nasional (UN) pun akhirnya ditiadakan.

Adapun untuk menyampaikan materi pelajaran, kegiatan pembelajaran jarak jauh diberlakukan meskipun dengan konten yang sangat terbatas. Untuk itu, pemanfaatan teknologi informasi untuk keperluan pembelajaran saat ini menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar – tawar lagi.

Kebijakan pemerintah yang telah merumahkan para guru pada akhirnya menimbulkan konsekuensi yang tidak sederhana. Di tengah keterbatasan pembelajaran yang dilakukan secara daring, orangtua saat ini memiliki tanggungjawab yang lebih besar daripada sebelumnya dalam hal pendidikan anak. Ayah dan ibu dituntut untuk berperan sebagai orangtua seutuhnya dalam arti bukan hanya berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan anak dalam hal papan, sandang dan pangan saja.

Lebih dari itu, berusaha untuk memberikan bekal berupa pengetahuan dan keterampilan agar anak mampu hidup mandiri ketika dewasa kelak nampaknya menjadi hal yang tak terhindarkan, setidaknya untuk beberapa bulan ke depan. Selain itu menanamkan nilai – nilai karakter melalui pembiasaan kegiatan ibadah yang bersifat wajib ataupun sunnah perlu dilakukan orangtua selama “liburan” panjang tersebut.

Berkaca pada pengalaman dua pekan sebelumnya dimana pemerintah memutuskan menghentikan kegiatan belajar tatap muka untuk pertama kalinya, begitu banyak kisah yang disampaikan oleh para oangtua ketika mereka harus membimbing anaknya belajar di rumah. Sebagian orangtua merasa “tersiksa” dengan aktivitas membimbing anak – anaknya dalam mengerjakan tugas – tugas yang diberikan oleh gurunya.

Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan secara daring nyatanya tidak lebih mudah dibandingkan dengan pembelajaran secara tatap muka. Orangtua dituntut untuk mampu berperan sebagai guru bagi anak – anak mereka, dan hal tersebut tidaklah mudah. Orangtua harus belajar kembali tentang materi pelajaran yang tengah dipelajari oleh anak. Hal ini tentunya menjadi tantangan yang tidak akan mudah untuk dilalui mengingat materi pelajaran saat ini jauh berbeda dengan apa yang dipelajari oleh para orangtua kita dahulu.

Bagi orangtua dengan latar belakang pendidikan yang memadai serta didukung dengan fasilitas atau sarana yang lengkap, mendampingi anak untuk belajar di rumah mungkin tidak akan terlalu berat. Yang diperlukan adalah kesediaan dan kesabaran untuk tetap berada di samping anak - anaknya. Lain halnya dengan orangtua yang tingkat pendidikannya kurang memadai, menjadi guru bagi anak – anak mereka bukanlah perkara mudah. Selain itu keterbatasan akses informasi juga menjadi kendala tersendiri bagi sebagian orangtua dalam membimbing anak – anaknya.

Beratnya tantangan dalam mendidik anak sendiri di rumah pada akhirnya membuat sebagian orangtua bereaksi terhadap kebijakan sekolah yang memberikan tugas terlalu banyak kepada anak – anak mereka. Sebagian bahkan melapor kepada pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) karena anak serta orangtua mengalami stress dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan. Padahal, kita semua memahami bahwa guru memang dituntut agar siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana tercantum dalam kurikulum.

Protes yang disampaikan oleh sebagian orangtua itu pun pada akhirnya disikapi oleh pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan yang berbeda dari sebelumnya. Untuk “liburan” berikutnya, anak tidak lagi dibebani dengan tugas – tugas yang bersifat akademik dan kognitif, melainkan tugas yang lebih menekankan pada kecakapan hidup serta penanaman nilai – nilai karakter.
Membantu tugas orangtua, membuat keterampilan dari bahan yang ada, belajar bercocok tanam serta kegiatan produktif lainnya merupakan tugas sekolah yang harus dikerjakan oleh anak. Selain itu melaksanakan shalat wajib dan sunnah serta menyetorkan hafalan Qur’an juga menjadi aktivitas keseharian anak yang akan dijadikan sebagai bahan penilaian oleh guru. Harapannya, dengan adanya tugas – tugas semacam ini, apa yang dilakukan oleh anak saat berada di rumah akan jauh lebih bermakna dan tidak menjadi beban bagi oangtua.

Terlepas dari hiruk pikuk kondisi saat ini, satu hal yang dapat dijadikan pelajaran adalah bahwa Covid-19 telah mengajarkan kita tentang bagaimana menjadi orangtua seutuhnya. Libur panjang sebagaimana kita jalani saat ini sudah semestinya dimanfaatkan oleh para orangtua untuk membangun hubungan emosional yang lebih baik dengan anak.

Ini merupakan kesempatan emas dimana sebagian orangtua kita biasanya tengah sibuk bekerja setiap harinya sehingga hanya memiliki sedikit waktu untuk berinteraksi dengan keluarga yang pada akhirnya tidak memahami berbagai permasalahan yang dihadapi oleh anak. Selain itu Covid-19 juga menjadi tantangan tersendiri untuk menguji sejauh mana kemampuan seorang nakhoda (ayah) dalam mengendalikan bahtera di tengah ganasnya badai  lautan.

Mampukah ia mengantarkan seluruh penumpangnya ke tempat tujuan dengan selamat, ataukah sebaliknya.   

Ramdan Hamdani, Penulis adalah Praktisi Pendidikan




FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Ratusan Botol Miras Disita di Subang Kota pada Malam Takbiran https://t.co/E7hxdUfJVn
Hari Lebaran, Jumlah Positif Covid-19 di Purwakarta Bertambah 1 Orang https://t.co/cW1BNBZpgD
Sempat Ditolak Bidan, Ibu di Subang ini Lahiran di Jalan Jelang Sholat Idul Fitri https://t.co/eEtp53QKiV
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter