FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] Corona, Mudik dan Lebaran Virtual

"Tak Mampu Berjabat Tangan dan Berpelukan dengan Keluarga dan Sahabat di Kampung Halaman, Sebatas Saling Bermaafan lewat Online dari Perantauan"

SUASANA perayaan Idul fitri merupakan kesempatan untuk berkumpul dengan seluruh keluarga dan kerabat. Namun dengan adanya pandemi covid -19, pemerintah dan tenaga kesehatanpun menyerukan himbauan untuk tidak mudik, demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Rutinitas mudik para perantau ke kampung halaman yang telah membudaya, kini harus tertunda. Diksi tidak mudik dan di rumah saja masih terus disuarakan dengn lantang di dunia maya dan layar kaca. Mengindahkan himbauan tidak mudik sebagai bagian kontribusi kepedulian pada bangsa dan sesama, karena  sampai pada penghujung bulan puasa yaitu hari raya Idul fitri kejahatan corona belum mereda. Rasa kecewa dan marah wajar akan menggoda jiwa, karena corona menjauhkan raga dari yang terkasih dan keluarga tercinta.  

Kebijakan jaga jarak dan himbauan tidak mudik secara ego yang berpihak sepenuhnya pada perasaan mungkin sulit diterima oleh masyarakat, tidak terkecuali bagi yang berada diperantauan. Perantau yang sejatinya menunggu waktu untuk melepas rindu, karena jarang pulang ke kampung halaman kini kerinduan itu akan terus beku. Mencairkan rindu kala lebaran sebagai pilihn waktu yang membahagiakan.

Namun logika berfikir dan nurani kali ini harus berkolaborasi membunuh jahatnya ego masing-masing. Perjalanan pulang ke kampung halaman  dan berkerumun di keramaian saat ini, menjadi salah satu aktivitas yang beresiko menyebarkan virus covd -19. Memilih untuk  tidak mudik bukti kasih sayang mendalam terhadap keluarga dan kerabat di kampung halaman. Kita harus percaya tidak mudik merupakan keputusan yang bertujuan untuk kebaikan bersama.

Keberadaan dan penyebaran covid-19 masih misteri. Tidak ada yang tahu kapan pandemi akan berlalu. Saat ini kepergiannya dapat diwujudkan, dengan memutus mata rantai  penyebarannya. Tentu bersilaturrahmi, berjabat tangan dan berpelukan kali ini tidak dapat dilakukan dengan tatap muka dan bersentuhan. Namun demikian, kita masih bersyukur di era kemajuan teknologi ini, silaturrahmi masih dapat berjalan dengan menggunakan media online atau temu lewat virtual.

Selain itu, banyak ruang maya yang mengajak untuk mengumandangkan takbir bersama lewat udara di dunia maya dengan tetap membawa pada lorong-lorong syahdu, khusu dan menenangkan kalbu. Aktivitas takbiran dan silaturrahmi di ruang virtual setidaknya, menjadi pengobat hati dikala pandemi. Lebaran online diperantauan, sebagai perenungaan diri akan arti kata menahan. Musuh yang paling nyata adalah diri kita sendiri.

Tidak mudik dan menghindari kerumunan sebagai jalan ikhtiar dalam memerangi dan menghadapi musuh kita yang tidak terlihat dengan mata telanjang namun nyata adanya yaitu covid-19.Selain itu, pilihan tidak mudik juga sebagai bagian dari proses menghargai pahlawan garda terdepan yaitu para medis yang terus berjuang tanpa lelah.

Dengan ikhtiar dan kesadaran masyarakat yang dimulai dari diri sendiri mudah-mudahan akan menurunkan kurva penyebaran covid-19 atau minimal tidak menambah jumlah yang terpapar. Dengan lebaran online tanpa mudik  menjadi dukungan bagi perjuangan para medis, bentuk kepedulian akan kesehatan diri dan keluarga serta kepedulian kepada sesama dan bangsa.Perilaku social dan physical distancing, dengan tidak mudik sangat penting sebagai upaya bersama dalam proses mengakhiri wabah corona ini.
Fenomena kasus peningkatan positif covid-19 dari aktivitas kerumunan dan pulang ke kampung halaman bukti nyata yang selayaknya mampu meningkatkan kesadaran dan tamparan keras bagi masyarakat yang diperbudak keegoisan yang merugikan. Sudah cukup keegoisan yang merugikan banyak orang. Bersinergi bersama dengan mengindahkan kebijakan dan imbauan.

Takbir di perantauan dan bersilaturrahmi memang tidak seindah kebersamaan dan kehangatan dengan bercengkrama langsung bersama keluarga. Namun demi ikhtiar dan perjuangan bersama mari kita berlapang dada dan ikhlas menjalani lebaran kali ini lewat online.

Jadikan pandemi ini untuk perenungan diri menjadi lebih baik, untuk saling menyayangi, menghargai waktu dan kesempatan, menjaga kesehatan, meningkatkan rasa simpaty dan emphaty yang mendalam. Supaya covid-19 ini mereda, mari terus berusaha dan berdo’a dengan menjalankan protokol kesehatan dan menindahkan kebijakan serta mendekatkan diri pada Tuhan.

Mudah-mudahan masyarakat Indonesia, khususnya yang berjuang diperantauan menjadi hamba yang selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa.  Lebaran online merupakan sisi lain melaksanakan perayaan yang berbeda, yang sebelumnya hampir tidak pernah terpikirkan oleh insan manusia. Kita hanya perlu memetik hikmah dari setiap kejadian ini.  


Ernawati, Penulis adalah Dosen Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV), Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA), Sidoarjo.

 

Ilustrasi pertemuan virutal dengan aplikasi Zoom. FOTO/Zoom


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.




TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Pemkab Majalengka Siapkan Modal Usaha untuk TKW yang Selamat Dari Hukum Mati https://t.co/FkqJMMQUJZ
Mahasiswa IPB Laksanakan KKN Tematik di Subang https://t.co/av408TnAvF
Ramai Perdebatan Bentuk Bumi Bulat atau Datar, Ini Penjelasan dalam Alquran https://t.co/7PeIv69dby
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter