FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] Kenduri Silaturahmi dengan Cara Berbagi

Kenduri silaturahmi di hari yang fitri 1441H apalagi di Era covid-19 merupakan moment yang paling tepat untuk berbagi. Banyak sekali saudara yang sangat membutuhkan uluran tangan, bukan hanya karena banyaknya kebutuhan lebaran, tetapi lebih banyak disebabkan oleh dahsyatnya dampak pandemi yang mematikan seluruh sendi ekonomi.

Banyaknya zakat fitrah yang terkumpulkan oleh badan amil zakat dan masjid-masijd yang disalurkan kepada umat muslim yang kekurangan sehingga bisa merayakan ‘idul fitri denganpenuh kebahagiaan. Palagi ditambah zakat mal, infaq, sodaqah, dana mal jariyah lainnya, tentu jumlah dana yang terkumpul menjadi semakin banyak sehingga semakin besar pula manfaat yang dapat diterima oleh mustahiq.

Di hari yang fitri 1441H banyak sekali saudara kita yang dirumahkan, di PHK, dan kehilangan mata pekerjaan sehingga membutuhkan bantuan. Harapan terbesar adalah, kondisi ekonomi segera dapat kembali pada posisi new normal, meskipun tidak sama persis dengan normal sebelumnya. Tetapi, pastilah kondisi baru tersebut dapat mengobati berbagai dampak negatif ekonomi yang sangat dirasakan oleh semua orang.

Di hari yang fitri merupakan momentum yang ditunggu-tunggu oleh segenap kaum muslimin. Di saat inilah pentingnya berinfakk dan berbuat baik kepada sesama. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al Baqarah ayat 195 yang artinya, ”Dan Berinfaklah kamu (bersedekah atau nafakah) di jalan Allah dan janganlah kamu mencampakkan diri kamu ke dalam kebinasan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” Dari ayat di atas jelas, bahwa berinfak di jalan Allah, dan berbuat baik sangat dicintai Allah SWT, apalagi di saat sumber-sumber pendapatan para duafa semakin menipis.  

OPINI LAINNYA:

[OPINI] Corona, Mudik dan Lebaran Virtual

[OPINI] Mudik Malu, Tak Mudik Rindu

Bedug Sebagai Simbol Akulturasi Agama dan Budaya Lokal

 


Di hari yang fitri ini, bersedakah kepada anak yatim, anak terlantar, dan fakir miskin juga sangat dianjurkan. Islam telah menggariskan bahwa pada setiap harta orang kaya terdapat hak untuk mereka. Bahkan di dalam Q.S At-Taubah [9] ayat 103 yang artinya, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoakanlah untuk mereka. Sesunggunya, doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.”

Sesungguhnya harta kita yang benar-benar milik kita adalah harta yang sudah disedakahkan, bukan harta yang dimiliki saat ini. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 245 yang artinya, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah) maka Allah akan melipatgandakan pembayarannya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” Bahkan, bila harta yang dimiliki diwakafkan di jalan Allah, makan pahalanya akan selalu mengalir selama harta tersebut masih memberikan manfaat bagi umat.

Di hari yang fitri ini, tentu tangan di atas selalu lebih baik dibandingkan tangan di bawah. Selain itu, dalam bersedekah hendaknya selalu menerapkan etika yang baik. Ketika tangan kanan memberi, maka tangan kiri tidak perlu tahu. Tidak boleh riya’ karena akan mengurangi manfaat sedekah. Allah dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 271 berfirman yang artinya, “Jika kalian menampakkan sedekah maka hal itu baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikan dan memberikannya kepada orang-orang kafir, maka hal itu lebih baik bagi kaliah…”

Di hari yang fitri ini, tentu ketika bersedekah tidak boleh menyakiti orang yang diberi bantuan. Karena, di antara penyakit dan maksiat lisan adalah mengungkit-ungkit pemberian kepada orang lain. Allah SWT berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian batalkan (pahala) sedekah kalian dengan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti (yang diberi).”(Q.S. Al-Baqarah [2]:264).

Sangat dianjurkan juga, ketika bersedeqah di hari yang fitri ini dengan barang yang paling disukai. Allah menggambarkan kesempurnaan amalan apabila bersedekah sesuatu yang kita sayangi dalam Surat Ali-Imran [3] Ayat 92, "Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai (hakikat) kebaikan dan ketaatan (yang sempurna) sebelum kamu dermakan sebagian dari apa yang kamu sayangi. Dan sesuatu apa juga yang kamu dermakan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." Dalam ayat ini, dianjurkan untuk bersedekah barang yang baik, bukan barang yang sudah usang atau tidak layak pakai.

Mengapa di hari yang fitri ini harus bersedeqah, karena banyak sekali keutamaannya seperti yang tertulis dalam Surat Al-Baqarah [2] ayat 261 yang artinya "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui." Begitulah keutamaan bersedekah, yang tidak akan pernah merugikan orang yang melakukannya.

Untuk bersedekah, apalagi di era pandemi ini, tidak harus menunggu keadaan ekonomi kita dalam kondisi lapang, dalam kondisi sulit pun tetap dianjurkan untuk berbagi. Sebagaimana firman Allah dalam Surat At-Thalaq [65] Ayat 7, yang artinya, "Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." Tentulah, Allah maha tahu dan bijaksana.
Ketika hambanya dalam kondisi kesulitan, sementara dirinya masih bersedia untuk bersedekah, tentulah pahalanya yang diberikan kepadanya jauh lebih besar dibandingkan mereka yang lapang.

Sebagai catatan akhir, sudah saatnya apabila kita selalu berbagi, apalagi di saat pandemi seperti ini. Banyak sekali saudara kita yang sangat membutuhkan. Ancaman bagi siapapun yang tidak membayar zakat Allah firmankan dalam Q.S. At-Taubah [9]: 34 yang artinya, “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah, kepada mereka, (Bahwa mereka akan mendapatkan) siksa yang pedih.”

Mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan iman dan Islam, sehingga dapat merayakan ‘idul fitri 1441 H dengan kenduri amal jariah dan berbagi. Insya Allah.

*) Dr. Basrowi, Alumni PPs Ekonomi Syariah UIN Raden Intan Lampung.


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Jelang Idul Adha, Mentan Kunjungi Peternak di Purwadadi Subang https://t.co/XU7exO4wy9
Satu Pasien Terkonfirmasi Covid-19 di Subang Meninggal Dunia https://t.co/BkQGdlP9ts
Akhir Pekan, Jumlah Positif Covid-19 di Karawang Tambah Dua Orang https://t.co/jQhwpJyRYh
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter