FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] Joni, Susi, dan Budaya Literasi

Suatu ketika penulis berkesempatan mendapatkan kunjungan salah satu sahabat mahasiswa asing yang kebetulan sedang berlibur ke Indonesia. Thomas, itulah nama mahasiswa berkebangsaan Jerman yang tengah menikmati liburan musim panasnya. Saat hendak berangkat ke Bali, ia pun sengaja transit di kota Bandung sekedar untuk bertemu dengan penulis dan meminta diantar ke tempat – tempat belanja.

Dengan senang hati, penulis pun mengantarnya ke tempat – tempat belanja seperti Pasar Baru, kawasan Dago serta tempat – tempat lainnya. Hingga jarum jam menunjukkan waktunya makan siang, penulis pun mengajaknya untuk makan siang ke salah satu rumah makan cukup ternama saat itu. Namun, Thomas justru ingin mencicipi makanan yang dijual di pinggir jalan karena merasa sudah terlalu sering menyantap makanan di tempat yang relatif mewah.

Singkat cerita, penulis pun mengajak Thomas untuk menyantap salah satu makanan tradisional yang dijual di pinggir jalan. Sang penjual pun nampak sibuk melayani pesanan kami berdua. Tanpa menggunakan sarung tangan sebagaimana mestinya, penjual tersebut menyiapkan hidangan lengkap dengan berbagai bumbu yang disiapkan secara dadakan. Tak hanya itu, makanan yang semestinya dituangkan menggunakan sendok atau alat lainnya pun justru dicomot begitu saja menggunakan tangannya dan dihidangkan ke hadapan kami. Rupanya makanan tersebut sangat lezat rasanya hingga Thomas pun sempat mengangkat kedua jempol tangannya yang menandakan bahwa ia sangat menyukai rasanya.

Setelah seharian berjalan – jalan di Kota Kembang, penulis pun mengantar Thomas ke hotel tempat ia menginap. Setelah itu penulis pun pulang ke rumah untuk beristirahat. Saat jam menunjukkan tepat pukul 11 malam, tiba tiba Thomas menelpon. Dengan suara meringkih kesakitan, ia pun mengeluh bahwa ada yang tidak beres dengan perutnya. Tanpa menunggu lama penulis langsung menemui Thomas. Satu hal yang teringat dalam benak penulis adalah makanan “joni” (jorok tapi nikmat) yang kami santap pada siang sebelumnya.  

Bisa jadi orang bule seperti Thomas tidak terbiasa dengan jenis makanan semacam ini sehingga perutnya sangat sensitif. Benar saja, saat keesokan harinya penulis mengantar Thomas ke rumah sakit terdekat, diketahui bahwa Thomas memiliki masalah dengan pencernaannya yang diakibatkan oleh makanan yang tidak biasa oleh makanan yang tidak biasa disantapnya. Saat itu terbersit dalam pikiran penulis bahwa orang bule benar – benar payah. Di negeri ini, gorengan jatuh ke tanah saja masih berani dimakan kalau belum lima menit tapi orangnya tetep sehat – sehat saja.

Di waktu yang berbeda, umat manusia di seluruh dunia tengah disibukkan dengan wabah virus Corona yang menginfeksi jutaan jiwa serta mengakibatkan ratusan ribu nyawa melayang. Tak hanya itu, fakta – fakta “unik” pun banyak kita temukan pada peristiwa yang sangat memilukan tersebut. Korban meninggal akibat keganasan virus dengan jumlah yang cukup fantastis justru dialami oleh Negara – Negara maju yang dikenal dengan kekuatan ekonominya yang mumpuni, tingkat kesadaran warga yang sangat tinggi serta fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang sangat memadai. Sebut saja Amerika, negeri adidaya tersebut harus merelakan lebih dari 140 ribu warganya kehilangan nyawa mereka. Atau Negara Inggris dengan korban jiwa lebih dari 40 ribu jiwa. Lalu, bagaimana dengan Indonesia ?

Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia “hanya” kehilangan sekitar 4 ribu warganya akibat virus Corona. Bagi sebagian kalangan, jumlah tersebut tidak masuk akal mengingat penanganan penyebaran wabah yang dinilai oleh sebagian kalangan berjalan secara tidak maksimal. Mulai dari pembatasan sosial yang tidak konsisten serta tebang pilih, sampai dengan tingkat kedisiplinan warga yang sangat jauh dari harapan semestinya mampu “mendongkrak” angka kematian melebihi negara – negara maju. Selain itu persoalan ekonomi yang dihadapi oleh sebagian (besar) masyarakat Indonesia juga membuat mereka sangat rentan untuk tertular sehingga berpotensi menyebabkan kematian.

Di tengah gencarnya pemberitaan tentang bahaya virus Corona, perilaku berlawanan justru ditunjukkan oleh sebagian masyarakat kita. Di daerah dimana tempat penulis saat ini tinggal misalnya, hampir setiap malam sebagian warga terbiasa berkumpul di pos ronda sekedar untuk bercengkerama maupun melepas lelah seusai beraktivitas seharian. Di dalam ruangan dengan ukuran luas tidak lebih dari 4 meter tersebut, sebagian warga asyik begadang sambil bermain gapleh, sebagian lagi nampak serius menonton tayangan televisi. Kebiasaan semacam ini telah berlangsung selama beberapa bulan. Namun, selama waktu itu pula tidak terdengar kabar adanya warga yang menunjukkan gejala klinis yang mengarah pada Covid – 19.   Kondisi semacam ini nyatanya tidak hanya terjadi di daerah tempat penulis tinggal saat ini, namun juga di daerah – daerah lainnya.

Spekulasi pun muncul di tengah masyarakat menyikapi kondisi seperti ini. Sebagian masyarakat mulai berpikir bahwa Corona hanyalah sebuah nama tipe mobil milik Toyota keluaran lama, tidak lebih dari itu. Sebagian lagi menganggap bahwa tingkat keganasan dan kekuatan virus sangat dipengaruhi oleh iklim di suatu Negara sehingga kondisi wabah di Negara maju tidak bias disamakan dengan kondisi di tanah air. Tak hanya itu, sebagian warga bahkan menjadikan wabah yang terjadi di negeri ini sebagai bahan olok – olokan. Mereka dengan sengaja merilis nama – nama keren seperti Susi Isolasi, Doni Lokdoni, Rina Karantina, Siti Covidah serta sederet nama beken lainnya. Alhasil, masyarakat pun kian tak peduli dengan wabah yang tengah terjadi dan lebih memilih beraktivitas di luar rumah seperti sedia kalan dan tanpa memperhatikan protokol kesehatan.   

Di tengah berkembangnya beragam spekulasi, meningkatkan budaya literasi di kalangan masyarakat menjadi kunci penting dalam menghadapi berbagai permasalahan, termasuk pandemi. Seluruh kalangan hendaknya didorong untuk semaksimal mungkin memahami apa yang sebenarnya terjadi melalui bacaan – bacaan yang bermanfaat dengan referensi yang jelas. Dalam konteks ini, literasi media dan literasi digital memiliki peran penting dalam mencerna setiap informasi yang datang.

Demikian halnya dengan literasi kesehatan, para ilmuwan serta ahli kesehatan dituntut untuk lebih transparan dalam menyampaikan fakta di lapangan, termasuk kemungkinan adanya perbedaan tingkat keganasan virus yang menyerang Negara – Negara maju dengan virus yang ada di tanah air. Masyarakat perlu diberikan pemahaman secara jelas dan transparan agar mereka tidak salah langkah dalam mengambil keputusan.

Kenyataan menunjukkan, semakin banyak orangtua yang menuntut agar sekolah kembali dibuka karena pembelajaran secara daring dinilai memberatkan. Selain itu kondisi di luar yang terlihat aman – aman saja juga menjadi pertimbangan sebagian orangtua untuk menuntut pihak sekola agar kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran secara tatap muka.  

Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan, Sekjend JSIT Kabupaten Subang
 
     


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

TRENDING TOPIC

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Berhubungan Intim Ternyata Bisa Sembuhkan Beberapa Penyakit Ini https://t.co/hxCe84oiRu
KITA Cirebon Dekalarasi di TPA Kopi Luhur Bersama Pemulung https://t.co/hi4twvotnY
Tok! DPRD Subang Sahkan APBD Perubahan 2020 https://t.co/GWuwEQfM1Y
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter