FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] Daring 'Garing', Haruskah Sekolah Dibuka?

Pandemi Covid 19 membawa dampak yang luar biasa bagi seluruh aktivitas kehidupan manusia di beberapa negara, termasuk negera tercinta kita Indonesia. Hal tersebut tak terkecuali di dunia pendidikan yang terkena imbasnya.

Setelah beberapa bulan terakhir, di akhir semester tahun pelajaran 2019/2019 yaitu bulan maret sampai dengan bulan juni pembelajaran dilaksanakan dengan pembelajaran jarak jauh, bahkan ujian nasional pun ditiadakan. Di awal tahun pelajaran baru, yaitu tahun pelajaran 2020/2021 akhirnya Kemendikbud memutuskan bagi sekolah yang berada di zona kuning, oranye, atau merah dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan.

Sekolah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah kembali harus melanjutkan Belajar Dari Rumah (BDR). Belajar Dari Rumah (BDR) dilaksanakan melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan dalam jaringan (daring) dan pendekatan luar jaringan (luring). Sebelum tahun pelajaran baru dimulai, sebanyak 429 Kabupaten/kota atau sekitar 94% peserta didik di Indonesia berada di zona kuning, oranye, dan merah, sisanya hanya sekitar 6% peserta didik atau 85 Kabupaten/kota berada di zona hijau (sumber: data.covid19.go.id per 15 Juni 2020).

Setelah sekitar tiga minggu berlangsung pembelajaran jarak jauh (PJJ), banyak cerita tentang pelaksanaan model pembelajaran ini di masyarakat. Ada berita peserta didik harus belajar daring di tengah sulitnya jaringan internet (tvone), kemudian ada cerita haru seorang ibu menjual kambing peliharaannya seharga Rp. 700.000 ditambah dengan membongkar celengan anak untuk membeli sebuah telepon genggam atau hp android yang digunakan untuk pembelajaran daring yang dilakukan oleh sekolahnya (suarajatim.id).

Bahkan ada kisah seorang bapak nekad mencuri sebuah leptop demi untuk anaknya dalam belajar daring (Radar Lampung, 2020). Di media sosial pun tidak kalah ramainya, para orang tua mengeluhkan pembelajaran daring ini. Di beberapa WAG (WA Grup) yang penulis ikuti, banyak berseliweran cerita bahkan video yang menceritakan tentang kesulitan orang tua yang memiliki anak belajar daring.

Mulai dari kesulitan membantu anaknya mengerjakan soal, peserta didik kesulitan menyelesaikan tugas dari guru, kesulitan jaringan internet, keberatan dalam membeli quota, dan lain sebagainya. Itu mungkin hanya beberapa cerita saja, kenyataannya sangat mungkin lebih banyak cerita getir lainnya terkait dengan dampak pembelajaran daring bagi peserta didik yang sarana dan prasarananya tidak memadai.

Di balik beberapa cerita tersebut di atas, muncul banyak usulan dari para orang tua bahwa sebaiknya sekolah cepat dibuka kembali. Penulis sendiri anggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar, mengingat kesulitan dari pembelajaran daring yang dilaksanakan dan dirasakan berat oleh orang tua maupun oleh peserta didik. Namun Demikian, ada sedikit perasaan was-was penulis khawatir pemerintah melakukan langkah/kebijakan berdasarkan desakan beberapa dari orang tua, tidak berdasarkan data tentang perkembangan Covid-19.

Hal ini mengingat di banyak negara, sekolah dibuka kembali untuk bertatap muka hanya jika jumlah orang yang terinfeksi Covid 19 mengalami penurunan. Misalkan saja sekolah dibuka ketika terjadi penurunan kasus terinfeksi Covid 19 adalah di Negara Denmark, Jerman, Norwegia,dan Swedia (cnn.com). Lalu bagaimanakah di negara kita Indonesia?, data yang didapatkan dari Kementerian Kesehatan RI perihal update perkembangan Covid-19 di Indonesia  per 26 Juli 2020 pukul 12.00 WIB di 34 provinsi adalah jumlah terkonfirmasi positif adalah 98.778 atau naik sebanyak 1.492 orang.

Hal tersebut menandakan bahwa penyebaran virus ini masih terus mengalami kenaikan dan belum menandakan penurunan jumlah kasus. Satu hal lagi yang harus dipahami bahwa pandemi ini bukan hanya melanda Indonesia, melainkan melanda seluruh dunia dan seluruh sekolah dan peserta didik di setiap negara yang terdampak pandemi ini pun mengalami dampak yang sama.

Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa pemerintah sebaiknya berhati-hati dalam menerapkan kebijakan nanti, harus terus berdasarkan data dan jangan karena desakan dari beberapa orang tua. Jadi permasalahan dan kesulitan dalam belajar daring bukan satu-satunya alasan untuk membuka sekolah kembali. Lalu bagaimana dengan kesulitan, keluh kesah dari para orang tua dan peserta didik kita?, sebenarnya hal tersebut sudah terakomodir dalam regulasi yang dikeluarkan oleh Kemendikbud sebelum tahun pelajaran baru dimulai, yaitu dengan terbitnya surat edaran nomor 15 Tahun 2020 tentang pedoman penyelenggaraan Belajar dari Rumah (BDR) dalam massa tanggap darurat penyebaran corona virus disease (Covid 19) yang salah satu isinya mengamanatkan bahwa keselamatan dan kesehatan lahir batin peserta didik, guru, kepala satuan pendidikan, dan seluruh warga satuan pendidikan menjadi pertimbangan utama dalam belajar dari rumah (BDR), serta aktivitas dan penugasan dalam BDR dapat bervariasi antar daerah, antar satuan pendidikan dan peserta didik sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk memperhatikan kesenjangan akses terhadap pasilitas BDR.

Adapun BDR dilaksanakan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dibagi ke dalam dua pendekatan, yaitu pendekatan dalam jaringan (daring) dan pendekatan luar jaringan (luring). Dalam pelaksanaannya, sekolah dapat memilih pendekatan daring, luring atau kombinasi keduanya disesuaikan dengan ketersedian dan kesiapan sarana dan prasarana. Jadi dalam hal ini tidak ada kewajiban sama sekali bagi sekolah/guru untuk melaksanakan PJJ ini dengan daring, melainkan jika sarana dan prasarana peserta didik tidak memungkinkan untuk dilaksanakan pendekatan daring, guru dapat menggantinya dengan pendekatan luar jaringan (luring) yang tidak membutuhkan leptop/hp android, quota, dan jaringan internet untuk peserta didik.

Harus diakui memang bahwa pendekatan luring kalah populer dengan pendekatan daring. Hal tersebut terlihat dengan banyaknya kegiatan webinar/pelatihan online yang diikuti oleh guru banyak yang membahas cara/teknik mengelola pembelajaran dengan pendekatan daring. Berbeda dengan pendekatan luring yang jarang dibahas di berbagai diklat online/webinar. Oleh karena itu, sepertinya timbul persepsi bahwa pembelajaran jarak jauh adalah daring.

Padahal, pembelajaran jarak jauh dapat juga dilaksanakan secara luring bagi peserta didik yang terkendala tidak memiliki peralatan belajar daring dan kesulitan dalam hal jaringan dan quota internet. Pembelajaran di rumah secara luring dalam masa BDR dapat dilaksanakan melalui televisi, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajar cetak, dan alat peraga dan media belajar dari benda dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pilihan itu dapat dipilih oleh sekolah/guru, yang selanjutnya mengemas pembelajaran luring sedemikian rupa sehingga dapat diberikan kepada peserta didik yang mengalami kendala dalam belajar secara daring. Lalu bagaimanakah cara mengemas pembelajaran dengan pendekatan luring oleh guru?, pertama guru memastikan kompetensi pembelajaran yang ingin dicapai, dalam hal ini tidak perlu memaksakan penuntasan kurikulum.

Langkah berikutnya guru menyiapkan materi/bahan ajar, setelah itu menentukan metode luring dan media pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran luring, kemudian menyusun bahan ajar luring berdasarkan media yang telah ditentukan (modul, lembar kerja, bahan cetak, atau yang lainnya).  

Pembelajaran luring dilaksanakan sepanjang hari, menyesuaikan dengan waktu dan kondisi orang tua/wali, pengumpulan tugas di akhir minggu, atau disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan kesepakatan dengan peserta didik dan atau dengan orang tua/wali (SE Sesjen Kemdikbud no 15 tahun 2020).

Sekali lagi penulis ingin menekankan bahwa kejadian pandemi ini tidak kita harapkan bersama, terjadi bukan hanya di negara kita melainkan melanda di banyak negara. Semua pihak harus berpikir positif, bekerja keras untuk memberikan yang terbaik bagi putra putri kita sebagai generasi penerus bangsa. Semoga pandemi ini cepat berakhir, dan sekolah kembali dibuka, dan kita semua dapat kembali beraktivitas seperti biasanya dengan tetap sehat tentunya, aamiin..

Karyat Heryana, Penulis adalah Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis



FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Masa Pandemi, Penjualan Motor di Tridjaya Pagaden 500 Unit Perbulan https://t.co/0Sb27Z8n8K
Giliran Daerah Subang Selatan yang Dilakukan Pemadaman Listrik Pada 29 September 2020 https://t.co/3FDwctgVPt
Waspada Covid-19, Belasan Anak Punk Digaruk Satpol PP Majalengka https://t.co/125FDESrbD
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter