FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] Gonjang Ganjing Pembelajaran Daring

Kebijakan pemerintah yang “memaksa” sekolah – sekolah yang berada di luar zona hijau untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran secara daring mendapatkan respon beragam dari kalangan masyarakat.

Sebagian pihak menilai, keputusan yang diambil oleh pemerintah tersebut sudah tepat mengingat tren kenaikan jumlah warga yang terinfeksi Covid-19 masih sangat memprihatinkan. Pembukaan sekolah pada berbagai jenjang dikhawatirkan akan melahirkan klaster baru penyebaran wabah sehingga berpotensi memicu terjadinya gelombang kedua pandemi.

Namun, tidak sedikit pula yang menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk diskriminasi mengingat fasilitas – fasilitas umum lainnya tetap diizinkan beroperasi kendati rawan penyebaran wabah. Para orangtua yang keberatan dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran secara daring pun mendesak pemerintah serta dinas terkait untuk segera mengizinkan sekolah menggelar kegiatan pembelajaran secara tatap muka dengan tetap memberlakukan protocol kesehatan sebagaimana mestinya.

Keinginan (sebagian) orangtua agar anak – anaknya dapat sesegera mungkin belajar di sekolah seperti sedia kala memang bukan tanpa alasan. Kegiatan pembelajaran daring yang dilaksanakan pada pertengahan semester dua tahun ajaran sebelumnya dianggap kurang maksimal dan tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan prestasi akademik peserta didik serta upaya penanaman nilai – nilai karakter. Selain itu besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli kuota internet pun menjadi permasalahan tersendiri bagi sebagian orangtua. Artinya, saat pembelajaran daring dilaksanakan, beban orangtua menjadi bertambah dalam hal biaya, pikiran serta tenaga.

BERITA LAINNYA:

[OPINI] Daring 'Garing', Haruskah Sekolah Dibuka?

[OPINI] Pembelajaran Jarak Jauh Bukan Hanya Daring

[OPINI] Joni, Susi, dan Budaya Literasi

Adapun berbagai kendala teknis saat pelaksanaan pembelajaran daring juga menjadi permasalahan yang tidak mudah untuk diatasi. Kualitas jaringan internet yang buruk serta keterbatasan perangkat digital yang dimiliki oleh peserta didik merupakan kendala yang paling sering dihadapi dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan secara daring.

Selain itu ketidakhadiran kedua orangtua di rumah karena harus bekerja tak jarang menjadi hambatan bagi anak untuk mengikuti kegiatan pembelajaran daring sesuai jadwal. Artinya, anak tidak bisa mengikuti kegiatan pembelajaran karena gawai ataupun laptopnya dibawa oleh orangtua mereka ke tempat kerja.

Kegiatan pembelajaran yang digelar secara daring nyatanya tidak hanya dikeluhkan oleh para orangtua, namun juga guru. Kendala teknis serta faktor biaya menjadi permasalahan utama yang dikeluhkan oleh para guru. Selain itu tidak meratanya kompetensi guru di bidang teknologi informasi juga menjadi ganjalan bagi sebagian guru untuk menyelenggarakan pembelajaran secara daring.

Tak hanya itu, pada pembelajaran daring ini guru harus bekerja ekstra dalam membimbing anak didiknya karena tidak semua anak dapat mengikuti kegiatan pembelajharan sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Artinya, guru harus siap membimbing anak didiknya di luar jadwal yang sudah ditentukan seperti pada sore atau malam hari ketika orangtua telah kembali dari tempat kerjanya. Alhasil, tak sedikit dari guru – guru tersebut yang pada akhirnya terpaksa “mengibarkan bendera putih”.

Di tengah kuatnya dorongan orangtua agar sekolah sesegera mungkin menggelar kegiatan tatap muka di sekolah, beberapa sekolah terpaksa mengakomodir aspirasi para orangtua tersebut dengan menggelar pembelajaran secara tatap muka di sekolah secara sembunyi – sembunyi dengan peserta yang dibatasi. Protokol kesehatan selama guru dan siswa berada di lingkungan sekolah pun diterapkan secara ketat guna menghindari hal – hal yang tidak diinginkan.

Tak hanya itu, pernyataan di atas materai yang berisi bahwa orangtua tidak akan menuntut pihak sekolah apabila suatu waktu terjadi sesuatu pada anak – anak mereka pun disiapkan sejak awal sebagai “senjata pamungkas” apabila di kemudian hari ada pihak – pihak yang mempermasalahkan kegiatan tersebut. Pihak sekolah tak ingin dituduh sebagai penyebab merebaknya wabah karena merasa sudah bekerja secara maksimal. Sementara kondisi di luar sekolah, masyarakat umum seakan dibiarkan berkerumun tanpa adanya tindakan tegas dari pihak yang berwenang.

Untuk mengurangi kegaduhan di tengah – tengah masayarakat, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hendaknya mampu menjalin sinergi dengan kementerian lainnya dalam menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan demi kelancaran kegiatan pembelajaran daring. Menyediakan internet secara gratis khusus untuk kegiatan pembelajaran perlu dilakukan untuk meringankan beban para orangtua serta guru.

Selain itu memberikan kesempatan kepada sekolah dan orangtua agar dapat menggelar kegiatan pembelajaran tatap muka secara terbatas dan disertai protokol kesehatan secara ketat juga perlu dilakukan agar pembelajaran dapat berjalan secara maksimal. Covid -19 memang sangat berbahaya dan mengintai setiap jiwa, akan tetapi virus gawai dan virus televisi juga tak kalah berbahayanya bagi masa depan anak. Berbagai konten tidak mendidik bahkan menjerumuskan dapat dengan mudahnya ditemui oleh anak saat mereka berselancar di dunia maya serta saat mereka berada di depan layar televisi.

Kedua, pemerintah hendaknya bersikap tegas kepada masyarakat yang melakukan pelanggaran protokol kesehatan saat mereka berada di luar rumah.  Hal ini perlu dilakukan agar tidak muncul kesan bahwa pemerintah bersikap tebang pilih dalam menanagani penyebaran wabah Covid – 19 di tengah masyarakat. Kerumunan saat pembagian Bantuan Sosial Tunai (BST), hajatan warga, serta aktivitas lainnya yang melibatkan orang banyak hendaknya benar – benar menjadi perhatian pemerintah dalam mencegah menyebarnya wabah secara lebih luas.
 
Ketiga, setiap pendidik dituntut untuk terus meningkatkan kompetensinya terutama di bidang teknologi informasi. Pembelajaran daring sejatinya merupakan sebuah keniscayaan, dengan atau tanpa adanya Covid – 19. Pesatnya perkembangan teknologi informasi seyogyanya benar – benar dimanfaatkan untuk kepentingan dunia pendidikan.

Karakteristik generasi digital memang menuntut para pendidik untuk mampu menyuguhkan materi pembelajaran sesuai dengan gaya belajar anak didiknya. Menyusun media pembelajaran berbasis multimedia serta melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara interaktif memerlukan keterampilan khusus yang perlu terus diasah.  


Ramdan Hamdani, Penulis adalah Praktisi Pendidikan, Sekjend JSIT Kabupaten Subang

TRENDING TOPIC

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Perkuat Ekonomi Desa, Pemprov Jabar Kembangkan Desa Digital https://t.co/I8RchrZe1b
PPP Tularkan Gerakan Kebaikan Bagi Generasi Muda Majalengka https://t.co/IGQ2zL0NvW
Jumlah Terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia Tembus 240.687 Kasus https://t.co/OijkA7Y3tc
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter