Jaga Warisan Leluhur, Desakan Kota Terakota untuk 5 Kecamatan di Majalengka Menguat

MAJALENGKA, TINTAHIJAU.com - Wilayah Majalengka bagian utara selama ini dikenal sebagai daerah penghasil genting. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, setidaknya sejak industri-indstri 'modern' bermunculan, keberadaan pabrik genteng, perlahan terkikis.

Bahkan tidak sedikit terlihat pemandangan onggokan bekas jebor atau pabrik genting yang rapuh di sepanjang ruas jalan Kadipaten-Sumberjaya.

Keberlanjutan genting di masa depan sedikit menghadirkan angin segar berkat kreativitas para pegiat seni. Jatiwangi art Factory (JaF) di Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, menjadi wadah bagi orang-orang kreatif menjaga keberlangsungan genting.

Tidak melulu sebagai atap. Lewat ide-ide kretaif mereka, benda yang terbuat dari tanah liat itu menjelma menjadi sesuatu yang lain. Alat musik dari genting adalah salah satu terobosan besar JaF. Bahkan, sejumlah inovasi itu sukses mencuri perhatian banyak kalangan, tidak terkecuali dari manca negara.

Kini, ide baru untuk menjaga 'warisan' leluhur itu kembali muncul. Kota Terracotta (terakota), sebuah gagasan terbaru lahir untuk memastikan budaya masyarakat sekitar tetap lestari.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, kebudayaan sudah seharusnya dijaga. Namun, di sisi lain, ada rintangan tidak kecil yang harus dihadapi mereka yang bergelut dalam produksi genting.

"Bahwa Jatiwangi (Kabupaten) Majalengka ini punya sejarah panjang. Kebudayaannya memaksimalkan anugerah Tuhan yang ada, yaitu tanah. Dalam perjalanannya ini menjadi identititas dan itu tidak boleh berubah," kata Emil saat membuka Indonesia Contemporary Ceramics Biennale (ICCB) ke-5 di Jebor Hall, Jatiwangi art Factory (JaF), Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Kamis (27/6/2019).

"Yang jadi tantangan sekarang adalah industri yang berhubungan dengan tanah liat, seperti genting, keramik, mengalami tantangan lain yang lebih mudah dan lebih murah," ujar dia.

Terkait hal tersebut, tutur Emil, sapaan akrab Gubernur, tentu dibutuhkan cara-cara baru agar kebudayaan itu tidak hanya sekadar dongeng sebelum tidur bagi anak cucu nanti.

"Saya menitipkan ke Pemkab Majalengka untuk segera mentransformasikan para pelaku industri genting menjadi pelaku terakota non genting. Bisa (dalam bentuk) dinding, bata ekspos, dan macam-macam," tutur Emil.

Tidak mau rencana itu berakhir pada wacana, Emil menantang Pemkab Majalengka untuk bisa merealisasikan itu akhir tahun nanti. Awal 2020 mendatang, wacana itu harus terwujud.

"Saya kasih waktu sekitar enam bulan membuat etalase terakota. Sehingga nanti (ketika) pebisnis ada pengen beli terakota bisa liat di etalase. Sekarang belum ada, sehingga susah mempromosikannya," ungkap Gubernur.

"(Dukungan Pemprov) semua ekosistemnya dari hilir sampe hulu. Yang penting bangkit oleh kreativitas karena itu modal Jawa Barat. Selain kreativitas, alamnya juga yang indah kan?" ujar Emil.

Harapan terwujudnya terakota non genting yang bertujuan menjaga kebudayaan masyarakat Majalengka, cukup besar. Hal itu setidaknya dari pernyataan Wakil Bupati Majalengka Tarsono D Mardian yang menyanggupi perintah Emil.

"Kita harus siap dengan tantangan dari Pak Gubernur. Bahkan ini adalah peluang. Jadi kita harus bergerak cepat menyesuaikan dengan keinginan Pak Gubernur, Majalengka menjadi terakota," kata Tarsono

Tarsono mengatakan, keinginan serupa juga muncul dari masyarakat. Hal itu, semakin menjadi modal besar untuk terwujudnya harapan besar menjadikan Majalengka sentra produk terakota non genting.

"Sebenarnya ini bukan keinginan pemerintah, masyarakat yang menginginkan itu. Sesungguhnya gayung bersambut. Pak Gubenrur sudah menugaskan kita untuk segera menangkap peluang itu," ujar Wabup.

Untuk etalase terakota sendiri, Tarsono menegaskan Pemkab Majalengka telah menyiapkan. Ada beberapa titik yang berpeluang jadi tempat etalase terakota non genting itu. "Sudah ada. Alternatif-alternatif tempatnya sudah ada. Sudah siap," tutur dia.

Etalase terakota hanya menjadi bagian saja. Di luar itu, dalam ruang lingkup lebih luas, yakni kota terakota, Tarsoni menegaskan sudah memiliki gagasan.

Pemkab Majalengkan akan menyisipkan unsur-unsur terkota di gedung-gedung kantor pemerintahan. "Bahannya ya tentu dari kita sendiri, bukan dari luar. Rumah saya sudah pake terakota sejak dulu," ungkap Tarsono.

Sementara itu, Direktur JaF Ginggi Syar Hasyim mengatakan, terdapat lima kawasan terakota di Kabupaten Majalengka yang tersebar di lima kecamatan.

"Kawasan terakota itu menyebar di lima kecamatan, Jatiwangi, Jatitujuh, Kasokandel, Dawuan, dan Kecamatan Ligung. Di lima kecamatan tersebut tersebar pabrik genting dan bata," ungkap dia.

 

foto: kunjungan Gubernur ke JAF (foto Ginggi Syar Hasyim)

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom


Banner Kanan 1
Banner Kanan 2

Twitter Update

[OPINI] Sekolah Sebagai Sarana Dakwah https://t.co/uQfoOGXKRD
PKS Serahkan Kursi Pimpinan DPRD Majalengka untuk Kader Perempuan https://t.co/JrnbUzuOnT
Ratusan Pelajar Ikuti Gema Pramuka di SMKN 1 Dawuan https://t.co/mcQGinGcFt
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page