Gerakan Revolusi Putih itu dikhususkan bagi kader Gerindra yang duduk di kursi DPRD. Realisasinya, revolusi putih itu berupa pemberian susu bagi anak berusia di bawah 5 tahun (balita) terlebih bagi keluarga tidak mampu.
"Sesuai namanya, revolusi putih itu dengan memberikan susu bagi balita. Susu kan diidentikan dengan susu. Sementara sasarannya bagi keluarga yang tidak mampu," kata anggota DPRD dari Gerindra, Yusnan kepada TINTAHIJAU.com
Ada 3 anggota DPRD dari Gerinda, selain Yusnan, ada nama Dahlan Sinaga dan Andi Lala. Himbauan tersebut bagi 3 anggota menjadi fatsoen. Bahkan menurut mereka, himbauan itu menjadi motivasi untuk berbagi kepada balita.
"Secara nurani, tanpa ada himbauan itu, tentu saja kita terpanggil jika ada tetangga kita yang membutuhkan susu, apalagi ada himbauan. Ini membuat kita semakin semangat," imbuh Penasehat DPC Gerindra Subang tersebut.
Substansi dari gerakan revolusi putih, terang Yusman, melangkah dari pemikiran bahwa baliita merupakan aset bangsa, yang secara kebutuhan harus mendapat gizi secara penuh. Namun faktanya, tidak semua ibu menyusui memiliki kemampuan secara finansial.
Kendati demikian, prakteknya, revolusi putih itu dilakukan sesuai kemampuan para legsilator Gerindra. Artinya, tidak ada target berapa besar yang harus dikeluarkan. "Kalau saya ada rizki, saya lakukan itu. Tapi paling tidak setiap bulan sudah pasti," imbuhnya.
Anggota DPRD Gerindra lainnya Andi Lala misalnya, saat ini ia menyerahkan susu itu baru kepada keluarga di daerahnya. Namun ke depan, dirinya akan bekerjasama dengan 10 posyandu. Tapi yang jelas, kata Lala, terpenting substansi dari gerakan revolusi putih itu tercapai.
"Dibebaskan semampu kita. Saat ini saya baru melakukan untuk warga di daerah saya saja. Tapi ke depan saya akan menggandeng 10 Posyandu untuk menyalurkan ke warga," terangnya.






