FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Menanti Generasi Emas Melalui Inovasi Kurikulum 2013

 


Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa (begitu kata pribahasa) kata ini pantas disampaikan kepada guru, karena guru bertugas mulya yaini bekerja mendidik dan mengajar manusia (anak bangsa) atau bertugas untuk mencerdaskan (mensempurnakan perkembangan akal, budi dan menajamkan pikiran serta cermat dan baik budi) anak didiknya  bahkan hasil kerja guru merupakan bagian dari ukuran kemajuan suatu bangsa, mungkin bisa dikatakan sebelah jiwa kemajuan suatu bangsa ada di pundak insan para guru/seluruh tingkat satuan pendidik, maka bila melihat histori para guru terdahulu mereka bekerja keras kadang tidak memperdulikan penghasilan dan kepentingan pribadinya walaupun penganggaran pendidikan ditunjang kehendak UUD 1945 agar anggaran pendidikan > 20% dari jumlah anggaran namun sulit dicapai. Semoga para guru/pendidik saat ini masih mempunyai semangat juang seperti para guru terdahulu.

Dengan pergeseran sosial dan peningkatan selera manusia serta atas dorongan peubahan mainset pemerintah dari strategi agraris kepada strategi ekonomi dan industrialisasi sepertinya para insan pendidik telah berusaha sekuat tenaga untuk terus mengadakan penyesuaian dan pengembangan sistem pendidikan nasional, hal ini dapat diakui dengan adanya penguasaan rekayasa/teknologi hasil output pendidikan, namun sekuat usaha para insan pendidik ini belum optimal mencapai tujuan kecerdasan dan kesejahteraan bangsa secara menyeluruh walaupun sudah ada program wajib belajar 9 (sembilan) tahun. Bahkan dari perubahan keperubahan sistem pendidikan ada indikasi peningkatan kewalahan anak didik, kewalahan orang tua murid bahkan kewalahan para pendidik itu sendiri akibat sistem kurikulum yang menuntut banyak dan seringnya pergantian buku-buku yang harus diadakan dan tentunya kewajiban para peserta didik maupun para guru untuk menguasai materi – materi belajar pada semua tingkat satuan pendidikan.

Tentu saja kondisi ini tidak mudah memponis siapa yang salah, karena semua steakhoder telah berusaha bersama untuk memperbaiki sistem pendidikan ini, dan ternyata perlu diakui juga bahwa tidak sedikit para peserta didik yang dapat menguasai ilmu secara ilmiah, namun yang jadi pemasalahan secara penguasaan ilmiah itu belum dapat secara mudah diaplikasikan.  Dari kondisi ini timbul opini   pergeseran pandangan publik terhadap pengabdian para guru, telah terjadi  perbedaan pengabdian guru terdahulu dengan cara pengabdian guru pada saat ini (bahkan tendensius menuding guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa tetapi guru saat ini hanya sebagai penyampai materi-materi isi buku-buku saja), padahal mungkin saja para pengajar ini sudah bekerja sepenuh hati namun akibat sistem pendidikan menuntut banyak dan cepatnya pergantian buku-buku yang harus cepat pula dikuasai oleh para pendidik mengakibatkan rasa jenuh bahkan mungkin terjadi pesimistis.

Kalau penomena publik ada pergeseran pandangan publik, lain lagi kondisi preubahan pada internal komunitas para pendidik pada setiap level satuan kerja pendidikan antara lain guru tidak hanya bertugas mendidik dan mengajar tetapi ada tambahan kegiatan-kegiatan yang menggoda yakni sebagai managerial,  penanggung jawab operasional bahkan sebagai penanggung jawab pembangunan/pengadaan sarana dan prasarana satuan kerja pendidikan. Beban lain satuan kerja pendidikan adalah dengan makin banyaknya peserta didik dan minim/kekurangan para pendidik yang berujung pada pengangkatan para sukarelawan. Kondisi demikian menimbulkan beberapa dampak pasip/cemburu bagi para pendidik yang tidak disertakan dalam kegiatan fisik sarana dan prasrana hal ini sedikit mempengaruhi semangat pengabdian para pendidik. Perubahan lain  adanya kecenderungan beban kerja kepada para pendidik sukarelawan dengan imbalan kurang menentu.

Penomena diatas bahan perhatian kita semua  agar hasil kerja keras bersama dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia khususnya di Subang dapat mewujudkan tujuan Peraturan Daerah Subang nomor : 02 tahun 2010 tentang penyelenggaraan sistem pendidikan di Kabupaten Subang, sebagaimana dalam Pasal 4  menyebutkan bertujuan penyelenggaraan pendidikan untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik agar : (a). memiliki budaya belajar dan kemauan untuk mengembangkan segenap potensi diri secara optimal dan berkelanjutan; (b). mampu bersikap kritis dalam mengembangkan, memanfaatkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni; (c). mampu bertindak arif dan santun berlandaskan nilai-nilai keagamaan, moral dan etika; (d). mampu menghargai kemajemukan agama, budaya, suku, bangsa dan aneka golongan dalam masyarakat berdasarkan budaya demokrasi; dan (e). mampu bekerja sama guna mewujudkan kebaikan bersama dalam masyarakat.

Bila kita cermati Perda no. 2 tahun 2010 diatas sangat baik bila dilihat dari sisi etika dan Agamis namun belum menyentuh hakekat kebutuhan pendidikan dalam mengikuti perubahan begitu juga dalam pemerataan kesempatan belum tercapai antara lain satu dari 5(lima) tujuan Perda Kabupaten Subang no. 2 tahun 2010 tentang penyelenggaraan sistem pendidikan di Kabupaten Subang diatas pada poin (a). Bertujuan memiliki budaya belajar dan kemauan untuk mengembangkan segenap potensi diri secara optimal dan berkelanjutan, ternyata masih terdapat anak diatas 15 tahun belum sekolah/idak tamat sekolah SD sebanyak 150.431 orang anak atau (24,13%). Pada poin berikut tujuan untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan di Subang dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik agar mempunyai kemampuan bersikap, bertindak, menghargai dan mampu bekerjasama,  pencapaiannya dapat di gambarkan dengan jumlah peserta didik diatas umur 15 tahun tiap tingkat satuan kerja pendidikan sebagai berikut : tingkat SD sebanyak 272. 501  (43,70%) Orang anak, tingkat SMP sebanyak 105 633  (16,94%) Orang anak, tingkat SLA sebanyak 80.238  (12,97%) Orang anak, diatas SLA sebanyak 14.698  (2,36%) Orang anak didik. Melihat peserta didik wajib belajar secara kuantitatif masih sangat banyak 24,13%, sedangkan yang melanjutkan setelah melaksanakan wajib belajar 9 (sembilan) tahun hanya 15,33%, dengan kata lain rata-rata satu guru hanya menghasilkan 1,02 anak didik yang melanjutkan kuliah.

Uraian diatas anggap saja sebagai gambaran kebelakang dengan penilaian tentu berbeda tergantung siapa yang menilai dan dari sudut mana menilai,  tapi mulai peringatan hari pendidikan tahun 2013  saat ini yang lebih penting menyiapkan kedepan menyongsong pelaksanaan kurikulum inovasi tahun 2013.  Kurikulum tahun 2013 adalah strategi sistem menyiapkan para peserta didik dalam menghadapi tantangan dan daya saing di masa yang akan datang melalui pengetahuan, keterampilan, sikap dan keahlian agar bisa beradaptasi dengan lingkungan yang terus mengalami perubahan, sistem pendidikan ini berbasis pada penguatan penalaran tidak hanya kepada hapalan belaka.

Perubahan kurikulum meliputi : (1). Variabel standar kompetensi, (2). Variabel standar isi, (3). Variabel standar proses, dan (4). Variabel standar evaluasi. Sedangkan titik berat kurikulum 2013 adalah penyederhanaan, pendekatan, tematik-integratif untuk memperbaiki kekurangan kurikulum yang lalu antara lain :  (a). Belum optimalnya berbasis kompetensi sebagaimana di inginkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional,  (b). Isi kurikulum masih terlalu padat hal ini dibuktikan masih bertumpuknya mata pelajaran dan banyak materi yang jangkauan dan tingkat kesulitannya melampaui kemampuan perkembangan anak didik. (c). Kompetensi belum menunjukan secara spesifik pada wilayah sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam kurikulum lama belum terakomodir sesuai perkembangan kebutuhan, seperti  metodologi pembelajaran aktif,  pendidikan karakter, keseimbangan keterampilan dan kewirausahaan, (d). Belum tanggap terhadap perubahan sosial baik pada tingkat regional, nasional, internasional maupun global. (e). Standar evaluasi belum mengarah pada basis kompetensi (proses dan hasil) dan belum melakukan asistensi perbaikan berulang. (f). Pembelajaran masih berpusat pada guru akibat multi tafsir terhadap standar proses pembelajaran karena belum terjabarkan secara rinci. Karena itu maka dibutuhkan isi kurikulum yang lebih rinci.

Tujuan pemerintah ini perlu di sambut secara antusiasme dan cepat terutama para insan pendidik harus dengan sigap menyesuaikan dengan tujuan kurikulum 2013 karena akan dilaksanakan pada tahun ini juga. Terkait strategi pengembangan kurikulum 2013 terdapat tiga pokok pendorong hasil pendidikan yakni (1). peningkatan efektivitas pembelajaran pada satuan kerja pendidikan hal ini dapat diwujudkan keselarasan antara akademik dan budaya sekolah yang akan dipengaruhi manajemen/kepemimpinan kepala sekolah dan para staf pengajarnya. Strategi ini akan terkendala dengan strategi politik otonomi daerah.  (2). Efektivitas penambahan waktu pembelajaran pada sekolah ini konsekwensi pembelajaran mengedepankan pemahaman personal peserta didik melalui observasi (menyimak, mengamati, membaca, mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan dan mengkomunikasikan sebagai bahan evaluasi “proses dan hasil”. (3). Efektivitas adopsi dapat tercipta ketika terjadi kesinambunagan pembelajaran mata pelajaran dari kelas 1 s/d kela 6 tingkat SD, kelas 7 s/d kelas 9 tingkat SMP dan kelas 10 s/d kelas 12 tingkat SMA dan SMK. Dengan adanya kesinambungan antara mata pelajaran akan terjadi percepatan adopsi dan akan menhasilkan transformasi nilai universal dengan tidak meninggalkan kearifan lokal.

Semoga inovasi para insan pendidikan dapat disajikan dengan cara aplikatif dengan menunjukan efektif dalam pelaksanaan, mudah diterapkan, unggul dari kurikulum sebelumnya, sesuai dengan tipology nasional,  sistemnya tidak rumit/mudah dipahami, tahan uji (bisa dibuktikan mutu dan kekuatannya) dan tentu saja dapat menjawab hasil analisa pengamatan, dibuktikan dengan adanya akselerasi dan laju pertumbuhan kecerdasan penalaran generasi muda sehingga dapat mengikuti lingkungan perubahan baik secara regional, nasional, maupun perubahan internasional (global) dalam bersaing dengan komonitas/bangsa manapun. Tentu masyarakat dan bangsa indonesia berharap besar inovasi dapat menciptakan para pendidik yang dirindukan (inovatif, inspiratif, dapat menumbuhkan jiwa enterpreurship) dalam rangka menggapai generasi emas kedepan.

Selamat Merayakan
Hari Pendidikan Nasional 2013
Bagi Para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Karya Indahmu Ditunggu Untuk Melahirkan Generasi Emas.




Imam Budiman< BE, SP, M.Si
Pembina LSM Repehtra – Subang.
Tinggal di Pasir Kareumbi subang


TRENDING TOPIC

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Sunda Empire Dikabarkan Terdaftar di Kesbangpol Subang dari 2015 https://t.co/gTRYOuVbq5
Ade Irawan Meninggal Dunia, Ini Permintaan Terakhirnya https://t.co/4WuyTGLOXa
Ternyata Inilah Rahasia Wanita Bisa Tetap Cantik dan Awet Muda https://t.co/ZiE09uclLD
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page