1 Juni, dan Proyek Keadilan Sosial di Pantura


Rumah-rumah tersebut tidak dimiliki oleh para TKI/TKW yang bekerja di luar negeri. Melainkan, dimiliki oleh sejumlah petani asli setempat, yang berhasil membangun pundi-pundi kekayaannya dari sektor pertanian.

Adzan Maghrib serta rinai hujan mengiringi Tribun ketika berkunjung ke kediaman seorang petani sukses yang memarkirkan Honda Jazz di halaman rumahnya di kampung tersebut. Meski sedang sakit, Hj Ermi Juhenda (73), sang pemilik rumah, bersedia menerima kunjungan. Usai berjamaan shalat maghrib, Ermy mulai menceritakan bagaimana hasil dari sawah ini bisa merubah hidupnya.

"Apa yang saya dapat saat ini, semuanya berawal dari Bung Karno (Presiden Soekarno). Dulu, tahun 1960-an, saya masih berusia sekitar 23 tahun. Saya sering ikut rapat di kantor desa. Saat itu, saya mendengar Bung Karno mau bikin waduk di Jatiluhur. Airnya buat listrik dan buat sawah," kata Ermy mengawali pembicaraannya.

Sebelum tahun 1967, kondisi pantura termasuk kediamannya, berada di zaman kegelapan bagi para petani di wilayah tersebut. Pasalnya, meski di wilayahnya banyak para petani yang memiliki lahan sawah, namun ironisnya, banyak juga petani yang mati kelaparan karena tidak bisa makan. Saat itu, kata Ermi, jika tidak memiliki beras, banyak petani yang hanya memakan jantung buah pisang untuk dimakan sehari-hari.

"Bagaimana bisa makan jika para petani ini tidak bisa panen padi di sawahnya, sementara sawah ini satu-satunya pencaharian mereka. Selama setahun, saat itu, jarang pernah ada petani yang bisa panen karena sawahnya tidak bisa diairi. Akhirnya, jika mereka tidak mati kelaparan, mereka menjual tanahnya semurah mungkin pada tengkulak untuk bisa makan," kata Ermi.

Namun demikian, zaman kegelapan itu sirna ketika di tahun 1967, Bendungan Jatiluhur diresmikan oleh Soekarno, yang memanfaatkan debit aliran sungai Citarum. Bersamaan dengan itu, bendungan yang memanfaatkan Sungai Citarum tersebut dialirkan ke arah barat melalui saluran Tarum Barat yang melintasi Kabupaten Karawang dan Bekasi serta  Saluran Tarum Timur yang melintasi Kabupaten Subang hingga Indramayu.

"Saluran Tarum Timur itulah pintu utama bagi para petani di pantura termasuk saya dan petani disini untuk bisa terlepas dari mati kelaparan," kata Ermi.

Ermi masih ingat, saat itu, meski kondisinya tidak memungkinkan, ia tidak menjual lahan sawah seluas 2 hektar miliknya. Sementara rekan-rekannya, banyak yang menjual lahan sawahnya pada tengkulak. "Setelah sawah kami bisa terairi saluran Tarum Timur, sawah kami akhirnya bisa panen. Saya masih ingat, tahun pertama setelah dibangunnya Tarum Timur, hasil panen saya 6 kwintal dari lahan sawah 2 hektar. Tahun kedua, meningkat hingga 4 ton dan setiap tahunnya selalu meningkat. Banyak petani disini yang kemudian hidupnya berubah," ujar Helmi.

Di era tersebut, kebanyakan petani hanya bisa memanen satu kali dalam setahun meski sawahnya bisa terairi. Namun, Ermi yang hanya lulusan kelas 2 Sekolah Rakyat (SR), mencoba melakukan inovasi di sawahnya. "Saya bikin penelitian sendiri supaya sawah ini bisa panen dua kali. Dan akhirnya berhasil. Saya pun membagi cara itu dengan petani lain disini. Akhirnya, sekampung ini saat itu, bisa panen padi selama dua tahun," kata dia.

Hingga kini pun, ia masih percaya bahwa pertanian bisa merubah nasib petani. Terlebih lagi, dengan melihat capaian yang dirinya dapat. Selain itu, selama ini, ingatan tentang Sukarno, selalu membekas bagi dirinya yang menjadi pelaku sejarah kesejahteraan mulai mendera kampung halamannya.

"Saluran tarum timur itu proyek mahakarya Sukarno pertama di Subang yang langsung memberikan dampak kesejahteraan pada masyarakat," kata Ermy.

Sementara itu, Kabid Sumber Daya pada Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Hendrawan mengatakan bahwa Saluran Tarum Timur mengairi areal sawah seluas 84 ribu hektar atau di semua wilayah Pantura Subang. "Saluran timur itu jantungnya pertanian di pantura Subang. Dan saya pikir, dibangunnya saluran tarum timur itu, proyek keadilan sosial dari Soekarno yang tertuang dalam Pancasila," kata Hendrawan, ketika dimintai komentarnya terkait Saluran Tarum Timur dan Hari Lahir Pancasila 1 Juni, Jumat (31/5). [m. nugraha l @langitmegabiru]

 


Banner Kanan 1
Banner Kanan 2

Twitter Update

[OPINI] Sekolah Sebagai Sarana Dakwah https://t.co/uQfoOGXKRD
PKS Serahkan Kursi Pimpinan DPRD Majalengka untuk Kader Perempuan https://t.co/JrnbUzuOnT
Ratusan Pelajar Ikuti Gema Pramuka di SMKN 1 Dawuan https://t.co/mcQGinGcFt
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page