TINTAHIJAU.com | Dari Subang untuk Dunia

Sabtu, 23 Agustus 2014
Follow us on:
Previous Selanjutnya
Pagar Sekolah Ambruk, Siswa SD di Pabuaran Dilarikan ke RS Pagar Sekolah Ambruk, Siswa SD di Pabuaran Dilarikan ke RS TINJAU PABUARAN- Pagar SD Sekar Budaya, Desa Salamjaya, Keca...
Dampak Galian C, Pemukiman Belakang DPRD Subang Kerap Banjir Dampak Galian C, Pemukiman Belakang DPRD Subang Kerap Banjir TINJAU SUBANG- Dampak aktivitas Galian C menjadi sorotan. Se...
Preman Ciater Aniaya Karyawan PT. SariAter Preman Ciater Aniaya Karyawan PT. SariAter TINJAU CIATER- Gara-gara tersinggung dengan prilaku karyawan...
Soal Rumah Nyaris Ambruk, ini Penjelasan Dinas Tarkimsih Subang Soal Rumah Nyaris Ambruk, ini Penjelasan Dinas Tarkimsih Subang TINJAU SUBANG- Kondisi rumah pasangan suami istri (Pasutri) ...
Pembebasan Jalan Tol Cipali di Subang Belum Tuntas Pembebasan Jalan Tol Cipali di Subang Belum Tuntas TINJAU CIBOGO- Pembebasan lahan yang digunakan untuk proyek ...
Sempat Memanas, Warga dan Pengusaha Galian C Akhirnya Sepakat Sempat Memanas, Warga dan Pengusaha Galian C Akhirnya Sepakat TINJAU DAWUAN- Kisruh soal usaha galian C di Desa Cisampih, ...

Mimpi Patimban untuk Bupati Subang Baru

TINJAU PUSAKANAGARA- Sudah puluhan tahun warga desa Patimban Kecamatan Pusakanaga, mendambakan jembatan penghubung. Warga desa Patimban yang berbatasan langsung dengan desa Tanjung pura Kecamatan Karangampel Kabupaten Indramayu sudah puluhan tahun menggunakan perahu penyebrangan untuk melintasi kali Sewo, yang menjadi pembatas kedua Kabupaten tersebut.

"Jembatan sangat dibutuhkan oleh warga, karena hampir setiap hari hilir mudik warga dari kedua Kabupaten tersebut selalu ramai, saya setiap harinya harus menggunakan perahu nelayan untuk nyebrang ke Kabupaten Indramayu," kata warga desa Patimban, Darsem (35) kepada TINTAHIJAU.com, Senin (1/7/2013).
Menurut Darsem, jika menggunakan jembatan, aktifitas perekonomian antara kedua Kabupaten tersebut bisa lebih bergeliat. Setiap harinya ratusan warga menggunakan jasa perahu nelayan untuk menyebrangi kali Sewo, kebanyakan diantara mereka adalah para pedagang.

"Kami harus bayar Rp1000 per orang sekali melintas, banyak pedagang yang suka pake sepeda motor melintasi sungai ini untuk menjual dagangannya, baik itu dari Subang maupun sebaliknya, kalau mobil nggak bisa lewat," tuturnya.

Jembatan sangat dibutuhkan warga, mereka berharap siapapun Bupati Subang nanti, mampu merealisaiskan harapan warga di tapal batas tersebut. Sementara Suparjo (45) yang sudah hampir setahun menjadi tukang angkut warga yang melintasi kali Sewo dengan perahunya. "Kalau ada jembatan saya nggak punya kerjaan, sudah sekitar 8 bulan saya menjadi tukang angkut warga menggunakan perahu ini," kata Suparjo.

Suparjo yang merupakan warga asli Indramayu bersama 3 rekannya memilih menjadi tukang angkut warga menggunakan perahu, karena hanya pekerjaan tersebut yang mereka bisa. "Kita kerjanya gantian, sistemnya 2 shif. Masing-masing shif 2 orang. Kalau pagi pukul 06:00 sampai 16:00 dan sore pukul 16:00 sampai 20:00," tuturnya.

Memang dengan rata-rata penghasilan setiap harinya yang mencapai Rp400 ribu, membuat Suparjo tidak rela jika ditempat tersebut dibuat sebuah jembatan. Namun jika pemerintah serius ingin membuat jembatan ditempat tersebut dirinya pasrah saja.

"Penghasilan kita yang Rp400 ribu itu kita harus bayar pajak sebesar Rp3 juta pemerintah di 2 Kabupaten, yaitu Indramayu dan Subang. Namun, jika memang harus dibuat jembatan, mungkin saya dan teman-teman yang lainnya akan nyari kerja lain," tandasnya. [Warlan putra | @warlanPutra]

 

Berita Selengkapnya Klik di Sini