Tintahijau.com | Portal Berita Subang

Rabu, 22 Mei 2013
Follow us on:
Previous Selanjutnya
Pria Berjenggot ini Tewas di Pinggir Jalan Dawuan Pria Berjenggot ini Tewas di Pinggir Jalan Dawuan TINJAU SUBANG- Sesosok mayat dengan jenggot lebat ditemukan ...
Pemuda Muslimin Subang Kisruh Soal Cabup Pemuda Muslimin Subang Kisruh Soal Cabup TINJAU SUBANG- Internal Ormas Pemuda Muslimin Subang dilanda...
Pasangan Muda Mesum di Gedung Dakwah Subang Pasangan Muda Mesum di Gedung Dakwah Subang TINJAU SUBANG- Aktivitas mesum pasangan muda di Kabupaten Su...
Polres Subang Sisir Aktivitas Geng Motor Polres Subang Sisir Aktivitas Geng Motor TINJAU SUBANG- Kepolisian Resort Subang (Kapolres) bersikap ...
Kurang Beli Miras, ABG Pamanukan Palak  Warga Kurang Beli Miras, ABG Pamanukan Palak Warga TINJAU PAMANUKAN- Demi minuman keras, dua anak baru gede (AB...
Strategi Cabup PKS Cari Dukungan Warga Subang Strategi Cabup PKS Cari Dukungan Warga Subang TINJAU SUBANG- Mendekati pencalonan Bupati Subang di KPU, Ke...

Menelurusi Sejarah Wisma Karya Subang

TINJAU SUBANG- Wisma Karya, yang berada di pusat Kota Subang, menyimpan nilai sejarah penting bagi perjalanan kemerdekaan di tanah pasundan. Pada era penjajahan belanda, gedung Wisma Karya dijadikan tempat refreshing kaum gegeden Belanda di bawah kepemimpinan Tuan PW Hofland. Menurut Ketua Dewan Kesenian Subang (DKS), Wawan Hermawan, di tempat itulah mereka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang setelah melancarkan agresi.

"Waktu zaman tuan Hofland kalau tidak salah tahun 1849, tempat itu dijadikan tempat hiburan, mereka dansa dengan para noni, di sana juga ada bar dan tempt pemutaran film," papar Wawan kepada TINTAHIJAU.COM, Rabu (17/8/2011).

Dilihat dari arsitektur bangunannya, pada bagian kanan gedung Wisma Karya yang menghadap ke arah Bandung itu terdapat ruangan pertemuan berikut panggung. Di tempat itulah, para gegeden Belanda itu menonton film dan berdansa.

Sementara pada bagian kanan, pun terdapat ruangan yang ukurannya lebih kecil dari tempat pemutaran film dan berdansa. Di belakang ruangan keduanya, terdapat beberapa ruangan yang menyerupai kantor-kantor.

Hingga saat ini arsitektur bangunan gedung bersejarah itu dipertahankan seperti aslinya. Hanya saja pemanfatannya yang mengalami perubahan. Pada sekitar dua tahun lalu, gedung Wisma Karya dijadikan kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Subang.

"Sekarang, setelah ditinggalkan beberapa ruangan Wisma Karya dijadikan museum benda purbakala, kalau yang dulunya tempat dansa sekarang kerap disewakan untuk event. Dan beberapa tempat lainnya digunakan untuk kantor ormas," imbuh Wawan.

Wawan mengaku prihatin, dengan nilai sejarah yang melekat di gedung tersebut, perawatan fisik bangunan itu belum dilakukan secara maksimal, sehingga masih terdapat beberapa titik kondisinya rusak.

"Dari beberapa tahun lalu, kami minta gedung ini dijadikan Laboratorium budaya dan seni, kita kelola semaksimal mungkin. Sayangnya sampai hari ini belum direspon. Saya berharap momen hari kemerdekaaan itu mengetuk pemerintah," pungkasnya.

 

 

Tambahkan Komentar

Kode Keamanan
Perbarui

DSS Radio