Ragam

Akhiri 2025 dengan Istighosah, Elita Budiati: 2026 Momentum Bersihkan Subang dari Fitnah dan Adu Domba

×

Akhiri 2025 dengan Istighosah, Elita Budiati: 2026 Momentum Bersihkan Subang dari Fitnah dan Adu Domba

Sebarkan artikel ini

​SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Kabupaten Subang memilih cara yang khidmat dalam menyambut pergantian tahun 2025 menuju 2026. Alih-alih merayakannya dengan euforia hura-hura, ribuan masyarakat bersama tokoh agama dan pemerintah daerah berkumpul dalam balutan doa.

​Anggota DPR RI Dapil Subang, Majalengka, Sumedang (SMS), Hj. Elita Budiati, menegaskan bahwa momentum ini adalah titik balik untuk membawa Subang menjadi kabupaten yang lebih agamis, harmonis, dan bermartabat.

​Kegiatan Istighosah akbar yang digelar di penghujung tahun 2025 tersebut terasa istimewa karena menghadirkan sedikitnya 8.000 ulama dan guru ngaji dari seluruh pelosok Kabupaten Subang. Kehadiran para “ahli doa” ini dimaksudkan untuk mengetuk pintu langit demi keselamatan dan keberkahan Bumi Rangga Rangga.

​Sinergi Ulama dan Umara
​Ketua DPD Golkar Subang, Hj. Elita Budiati, menyampaikan bahwa ide mengawali tahun dengan Istighosah ini merupakan buah pemikiran bersama dengan jajaran Pemerintah Daerah di bawah kepemimpinan Bupati Reynaldi Putra dan Agus Masykur.

​”Kita mengawali tahun dengan sesuatu yang benar dan baik. Kita tidak ingin hura-hura, tapi justru merenung dan berdoa bersama 8.000 ulama dan guru ngaji. Tujuannya satu: agar Subang menjadi kabupaten yang Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur; subur, makmur, aman, tentram, dan tertib,” ujar Elita.

​Ia menambahkan, di tengah dunia yang penuh polemik dan pergeseran etika, spiritualitas harus menjadi pondasi utama pembangunan daerah.

​Melawan Budaya Fitnah dengan Al-Hujurat
​Anggota Fraksi Golkar ini juga memberikan pesan tegas terkait kondisi sosial. Ia menyoroti masih adanya upaya segelintir pihak yang ingin mengganggu stabilitas daerah dengan cara mengadu domba pemimpin dengan rakyatnya.

​”Saya meminta kepada seluruh warga, jangan mudah terhasut berita yang belum tentu benar. Masih ada segelintir orang yang ingin melihat pemimpinnya dihujat melalui fitnah,” katanya.

​Elita mengutip pesan suci Surah Al-Hujurat ayat 10-12 tentang larangan membuka aib dan memfitnah. “Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan karena membunuh karakter. Mari kita berubah, hilangkan sikap saling menyalahkan, dan tanamkan jiwa Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh.”

​Kritik dengan Solusi, Bukan Amarah
​Menghadapi tahun 2026, Elita mengajak seluruh elemen untuk mengedepankan musyawarah. Ia menekankan bahwa pembangunan tidak akan berjalan maksimal jika terus diganggu oleh niat-niat yang ingin melihat Subang terpuruk kembali.

​”Kalau pemimpin ada yang salah, silakan kritisi dengan solusi dan etika, bukan kritik yang membabi buta atau mencaci maki. Selesaikan semua masalah dengan musyawarah, bukan dengan amarah,” tegasnya.

​Ia berharap citra Subang di mata nasional semakin positif—bukan lagi dikenal karena kasus hukum, melainkan karena kerukunan dan prestasinya. “Apapun partainya, sekarang waktunya membangun. Kalau bukan kita yang sayang masyarakat Subang, siapa lagi?”

​Permohonan Maaf dan Komitmen Kerja
​Menutup pernyataannya, Elita menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada konstituennya. Ia menyadari bahwa sebagai manusia, masih ada kekurangan dalam merealisasikan janji politik selama setahun terakhir.

​”Mohon maaf bila selama setahun saya menjabat DPR RI dan Pak Bupati menjabat, kami belum sempurna. Kami bukan Aladin yang bisa simsalabim menyelesaikan semua masalah dalam sekejap. Namun, doa dan usaha kami tidak akan putus untuk Subang,” ungkapnya emosional.

​”Salam kadedeuh ti Bunda Elita. Saya dan Pak Bupati sangat sayang kepada Subang. Mari kita jadikan 2026 sebagai tahun terbaik, tahun yang bersih, beriman, dan sejahtera untuk kita semua,” pungkasnya.