Megapolitan

‎Majalengka Dipilih Jadi Pilot Project Teknologi Sampah Jepang Tanpa Pembakaran

×

‎Majalengka Dipilih Jadi Pilot Project Teknologi Sampah Jepang Tanpa Pembakaran

Sebarkan artikel ini

‎‎Majalengka, TINTAHIJAU.COM – Kabupaten Majalengka berpeluang menjadi daerah percontohan pengelolaan sampah ramah lingkungan di Asia Tenggara. Peluang tersebut muncul setelah Ketua NGO asal Jepang, Japan Association for Circular Economy (JACE), Mr. Hayashi, menjajaki kerja sama pengolahan sampah berbasis teknologi tanpa pembakaran melalui program Majalengka Clean City Project.

‎‎Penjajakan kerja sama tersebut berlangsung dalam kunjungan resmi Mr. Hayashi ke Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Majalengka, Selasa (13/1/2026).‎‎

Dalam paparannya, Mr. Hayashi menjelaskan bahwa teknologi yang akan diterapkan menggunakan metode pyrolysis, yakni pengolahan sampah tanpa proses pembakaran.

Teknologi ini dinilai lebih ramah lingkungan karena mampu menekan emisi karbon sekaligus mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai guna.‎‎

Menariknya, teknologi tersebut mampu mengolah berbagai jenis sampah rumah tangga tanpa perlu proses pemilahan, mulai dari sampah organik, plastik, karet, kain, hingga kertas.

Sampah plastik dan karet selanjutnya dapat diolah menjadi minyak yang berpotensi digunakan sebagai bahan bakar mesin, sementara residu berupa abu dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk pertanian dan persawahan.‎‎

Program ini dirancang sebagai proyek percontohan pertama di Asia Tenggara dan menjadi bagian dari upaya global menuju Zero Carbon, sejalan dengan target Jepang pada 2050 dan Indonesia pada 2060.‎‎

Pada tahap awal, Majalengka akan menjadi lokasi pilot project dengan kapasitas mesin sekitar 5 ton sampah per hari atau setara 150 ton per bulan. Mesin prototipe tersebut membutuhkan lahan sekitar 300 meter persegi termasuk area mesin, penyimpanan sampah, dan hasil produksi.‎‎

Mr. Hayashi menyampaikan bahwa mesin hibah dari Jepang itu dijadwalkan tiba di Majalengka pada akhir Maret 2026 dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir April atau awal Mei 2026 setelah proses perakitan dan persiapan teknis selesai.‎‎

Ia menegaskan bahwa seluruh mesin dan investasi dalam proyek ini bersifat hibah penuh dan tidak akan membebani anggaran Pemerintah Daerah Kabupaten Majalengka.‎‎

Menurutnya, komitmen kuat pimpinan daerah menjadi alasan utama Majalengka dipilih sebagai lokasi proyek percontohan. Keseriusan pemerintah daerah dalam menangani persoalan sampah dinilai sejalan dengan visi proyek pengelolaan sampah berkelanjutan yang diusung JACE.‎‎

Dengan masuknya Majalengka Clean City Project, Kabupaten Majalengka diharapkan mampu menjadi pionir pengelolaan sampah modern berbasis ekonomi sirkular serta menjadi rujukan bagi daerah lain di Indonesia dalam mewujudkan kota bersih dan rendah karbon.